Sudah Siap Berangkat Haji? Menhaj Ingatkan 5 Hal yang Tak Boleh Diabaikan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : haji.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kesiapan haji bukan hanya soal biaya dan kesempatan berangkat. Kondisi kesehatan juga perlu dipersiapkan agar jemaah mampu menjalani rangkaian ibadah dengan aman.
Persiapan ibadah haji sebaiknya tidak hanya berfokus pada pelunasan biaya, dokumen perjalanan, dan perlengkapan selama di Tanah Suci. Ada satu hal penting yang tidak boleh luput dari perhatian, yakni kesiapan kesehatan calon jemaah.
Pesan tersebut ditegaskan Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf dalam Konsolidasi Penyelenggaraan Kesehatan Haji di Bogor, Kamis (8/10/2026).
Menurut Menhaj, kemampuan finansial untuk berangkat belum otomatis menjelaskan seseorang siap menjalani seluruh rangkaian ibadah haji. Kondisi fisik dan kesiapan menghadapi situasi di Tanah Suci juga harus menjadi perhatian.
Pesan ini mengingatkan bagi calon jemaah dan keluarga bahwa persiapan kesehatan perlu dilakukan sejak dini, bukan hanya ketika jadwal keberangkatan sudah dekat.
Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan agar persiapan kesehatan haji lebih matang?
1. Jangan Menunggu Mendekati Keberangkatan untuk Memeriksa Kesehatan
Pemeriksaan kesehatan sebaiknya menjadi bagian dari persiapan sejak awal. Calon jemaah perlu mengetahui kondisi tubuhnya dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai hal-hal yang perlu diperbaiki sebelum berangkat.
Langkah ini membantu calon jemaah memahami kondisi kesehatannya, termasuk apabila membutuhkan pemantauan atau penanganan lebih lanjut.
Semakin dini persoalan kesehatan diketahui, semakin besar kesempatan untuk mendiskusikan langkah penanganan yang sesuai dengan tenaga medis.
2. Jangan Menganggap Lolos Administrasi Berarti Fisik Sudah Siap
Kesiapan administrasi dan kesiapan kesehatan merupakan dua hal berbeda. Dokumen perjalanan yang lengkap tidak menggantikan kebutuhan untuk memastikan kondisi tubuh sesuai dengan persyaratan kesehatan haji yang berlaku.
Oleh sebab itu, calon jemaah perlu mengikuti pemeriksaan dan proses penetapan kelayakan kesehatan sesuai ketentuan resmi.
Menhaj mengingatkan kesiapan jemaah harus dinilai secara menyeluruh, bukan semata-mata berdasarkan kemampuan membayar biaya perjalanan.
3. Jujur tentang Kondisi Tubuh dan Riwayat Penyakit
Calon jemaah sebaiknya menyampaikan kondisi kesehatannya secara terbuka kepada tenaga medis. Informasi mengenai penyakit yang pernah atau sedang dialami, obat-obatan yang dikonsumsi, serta keluhan yang dirasakan dapat membantu tenaga kesehatan melakukan penilaian dengan lebih tepat.
Jangan menutupi keluhan hanya karena khawatir keberangkatan tertunda. Keputusan terkait kesiapan kesehatan perlu didasarkan pada pemeriksaan dan pertimbangan medis, bukan keinginan untuk tetap berangkat dengan segala cara.
Jika membutuhkan pengobatan atau pemantauan, ikuti saran tenaga kesehatan dan tanyakan langkah yang perlu dilakukan berikutnya.
4. Bangun Kebugaran Secara Bertahap
Ibadah haji melibatkan aktivitas fisik, termasuk berjalan kaki dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu, menjaga kebugaran menjadi bagian penting dari persiapan.
Calon jemaah dapat mendiskusikan bentuk aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi tubuh bersama tenaga kesehatan. Aktivitas sebaiknya ditingkatkan secara bertahap, dengan memperhatikan usia, kemampuan fisik, serta kondisi medis masing-masing.
Pola makan seimbang, tidur cukup, dan kebiasaan mengikuti anjuran pengobatan juga perlu menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Tidak perlu memaksakan latihan berat. Tujuannya adalah membangun kebiasaan yang aman dan sesuai kemampuan, bukan mengejar kebugaran secara instan menjelang keberangkatan.
5. Jangan Takut Jika Tenaga Kesehatan Meminta Evaluasi Lanjutan
Menhaj secara khusus meminta tenaga kesehatan menyampaikan hasil pemeriksaan secara objektif, termasuk ketika calon jemaah belum memenuhi persyaratan kesehatan untuk diberangkatkan.
Ia menegaskan, penilaian tersebut bukan bertujuan mempersulit jemaah, melainkan memastikan keselamatan dan kesiapan mereka dalam menjalankan ibadah.
“Kalau memang tidak bisa berangkat, sampaikan,” tegas Menhaj.
Bagi calon jemaah, pesan ini penting untuk dipahami. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan perlunya pengobatan, pemantauan, atau evaluasi lebih lanjut, mintalah penjelasan mengenai kondisi yang ditemukan dan pilihan yang tersedia sesuai ketentuan.
Menunda keberangkatan apabila diwajibkan berdasarkan hasil penilaian resmi bukan berarti persiapan selama ini sia-sia. Kesehatan tetap perlu menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan.
Kesehatan Adalah Bagian dari Persiapan Ibadah
Menhaj juga mengingatkan tenaga kesehatan agar menjalankan tugas dengan integritas dan profesionalitas. Menurutnya, keputusan yang berkaitan dengan kesiapan jemaah harus mengutamakan kondisi kesehatan dan keselamatan.
“Bukan saja bagian dari tugas, tapi bagian dari ibadah,” ujarnya.
Ia turut menekankan pentingnya kolaborasi antara Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, serta berbagai pihak terkait untuk memperkuat pelayanan kesehatan haji, termasuk dukungan rumah sakit daerah.
Bagi calon jemaah, pesan yang dapat diambil cukup jelas: persiapan haji tidak seharusnya baru dimulai ketika keberangkatan semakin dekat. Memahami kondisi tubuh, mengikuti pemeriksaan, menjaga kebugaran sesuai kemampuan, dan menaati arahan tenaga kesehatan merupakan langkah penting dalam mempersiapkan perjalanan ibadah.
Sebab, kesiapan berangkat bukan hanya tentang bisa sampai ke Tanah Suci, tetapi juga tentang mempersiapkan diri agar mampu menjalani ibadah dengan aman sesuai kondisi kesehatan masing-masing. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
