Baca Al-Fatihah Setiap Hari, Tapi Sudahkah Nilainya Jadi Pedoman Hidup?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 38 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : haji.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Surah Al-Fatihah bukan bacaan yang asing bagi umat Islam. Tujuh ayatnya dibaca berulang kali dalam salat. Namun, mengamalkan nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari menjadi hal yang tak kalah penting.
Pesan inilah yang ditekankan Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, saat memberikan materi dalam Manasik Akbar Jemaah Haji 1448 H di Denpasar, Bali, Sabtu (10/10/2026) mengutip laman resmi haji.
Menurut Puji, Al-Fatihah dapat menjadi bekal bagi jemaah untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat ke Tanah Suci, menjalani rangkaian ibadah, hingga menjaga kualitas kehidupan setelah kembali ke Tanah Air.
Sebab, keberhasilan berhaji tidak semestinya hanya diukur dari selesainya seluruh rangkaian ibadah. Perubahan sikap, kepedulian terhadap sesama, dan konsistensi dalam beribadah juga menjadi bagian penting dari kehidupan pascahaji.
Dalam materi bertajuk “Berbekal Surah Al-Fatihah: Bekal Dunia Akhirat untuk Haji dan Pascahaji”, Puji mengingatkan perjalanan menuju Tanah Suci harus diawali dengan niat yang lurus.
“Kita berangkat haji karena Gusti Allah, bukan karena yang lain-lainnya. Oleh karena itu, luruskan niat kita, ikhlaskan hati, dan jalani seluruh rangkaian ibadah dengan sungguh-sungguh,” pesannya.
Ia mengingatkan jemaah agar tidak hanya mencurahkan perhatian pada persiapan keberangkatan dan pelaksanaan ibadah. Kesiapan untuk memperbaiki diri setelah pulang juga perlu menjadi bagian dari tujuan berhaji.
Bukan Hanya Soal Berangkat dan Pulang
Puji menjelaskan, tujuh ayat dalam Surah Al-Fatihah mengandung nilai yang dapat menjadi pegangan jemaah dalam menjalani perjalanan ibadah.
Nilai-nilai tersebut berkaitan dengan pelurusan niat, menjaga kesehatan, kepedulian kepada sesama, memahami prioritas ibadah, memperkuat ilmu dan kemandirian, serta menjaga ketertiban selama perjalanan.
Bekal itu tidak hanya diperlukan ketika jemaah berada di Tanah Suci. Penerapannya justru diharapkan terus berlanjut ketika mereka kembali menjalani rutinitas di tengah keluarga dan masyarakat.
Jemaah diharapkan mampu menjaga istiqamah dalam beramal serta menunjukkan perubahan perilaku yang lebih baik. Dengan begitu, pengalaman berhaji tidak berhenti sebagai perjalanan spiritual, tetapi juga menjadi dorongan untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Puji berharap jemaah nantinya tidak hanya membawa predikat haji sekembalinya ke Indonesia. Mereka juga diharapkan semakin peduli terhadap sesama dan tetap tekun menjalankan ibadah.
“Harapannya, setelah kembali ke Tanah Air, jemaah tidak hanya membawa predikat haji, tetapi juga mampu menunjukkan perubahan perilaku menjadi lebih baik, semakin peduli kepada sesama, dan istiqamah dalam beribadah,” tutupnya.
Dan bekal haji bukan semata-mata kenangan perjalanan ke Tanah Suci. Nilai ibadah diharapkan tetap hidup dalam tindakan sehari-hari, jauh setelah jemaah meninggalkan Makkah dan Madinah. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
