Features

Tiga Presiden, Satu Bayi Panda

RABU pukul  22.56 WIB, tadinya aku cuma mau numpang lewat.
Serius… cuma iseng mau buka rilis Kementerian Kehutanan itu, dan kubaca dua paragraf, lalu tutup tab, biasanya rilis negara itu seperti undangan arisan RT,  dibaca karena sopan, bukan karena penasaran.

Tapi rilis ini lain, ada menariknya..mataku yang lima watt jadi terang kembali saat baru paragraf awal membaca rilis itu, aku langsung berhenti ngunyah kerupuk. Kaca mata ku kembali terang membaca rilis itu.

Isinya begini bayi panda pertama lahir di Indonesia.
Biasa? belum.

Terus aku baca lagi, aku baru ingat dulu, usaha mendatangkan panda ini dimulai sejak Presiden SBY, diterima di era Jokowi, dan bayinya lahir di era Prabowo.

Aku refleks duduk tegak.
Ini bukan rilis kehutanan, tapi laporan keberhasilan lintas presiden di era masing-masing.

Coba, kalau kita sadar sedikit…di negeri ini, proyek ganti presiden biasanya ganti nasib. Yang lama disimpan di gudang arsip, yang baru dipamerkan di baliho. Tapi panda ini beda. Dia tahan banting politik. Tiga presiden lewat, dia tetap hidup, sehat, dan malah beranak.

Tiga presiden, satu bayi panda.
Kalau ini proyek infrastruktur, sudah jadi studi banding se-Asia Tenggara.

Era presiden SBY, panda masih wacana, eh malah, masih sebatas mimpi dan proposal, mungkin saat itu orang bertanya, “buat apa panda?” Sama seperti dulu orang bertanya, “buat apa internet?” ya..kan gitu?

Masuk era Jokowi, panda akhirnya datang, orang tuanya mendarat di Indonesia tahun 2017. Sewaktu itu proyek belum panen, belum ada bayi dan terkesan masih sabar, seperti nanam durian yang nunggu bukan seminggu, tapi bertahun-tahun sambil doa.

Lalu masuk era Prabowo… jreng!
Lahirlah bayi panda bernama Satrio Wiratama, panggilannya keren Rio. Namanya cukup gagah. Isinya lucu. Baru segede botol minum, tapi sudah bikin dua negara senyum.

Aku ngakak di sini.
Di Indonesia, bayi panda bisa punya riwayat kepresidenan lebih lengkap daripada sebagian manusia.

Rio dinamai langsung Presiden.
Punya nama Indonesia dan Mandarin.
CV-nya luar biasa karena hasil kerja tiga presiden.

Yang bikin tambah kocak lagi tuh, panda ini tidak pernah ikut ribut, dan juga salutnya tidak pernah bikin pernyataan politik, tidak kenal  update status, hebatnya… justru dia yang sukses.

Sementara manusia?

Sedikit-sedikit debat.

Sedikit-sedikit klaim.

Sedikit-sedikit ribut.

Dibalik kelahiran Rio (bayi Panda) itu, ada pelajaran yang penting, yaitu diam, makan bambu, konsisten hasilnya lahir juga si Rio.

Yang bikin aku salut sekaligus geli, proyek panda ini tidak pernah diperebutkan

Tidak ada yang bilang lho, “ini program saya”

Semua jalan saja, estafetnya rapi, tidak ada yang senggol-senggolan di tikungan.

Dan akhirnya, lahirlah Rio sebagai bukti bahwa di negeri ini, sesuatu bisa selesai kalau tidak diributkan.

Aku jadi mikir sambil ketawa sendiri, kalau panda saja bisa bertahan dari tiga presiden, harusnya niat baik kita juga bisa.

Oleh karena itu, walau pun disampaikan lewat bulu hitam-putih, negara ini tidak kekurangan ide, yang kurang itu konsistensi.

Rio mungkin tidak paham arti SBY, Jokowi, atau Prabowo. Namun si Rio kecil adalah arsip hidup  kerja jangka panjang itu ada hasilnya.

Jadi lain kali kalau ada yang bilang, “Indonesia nggak ada yang beres,” aku akan jawab santai “Ada.. Panda” si Rio Lucu!

Tiga presiden, satu bayi panda.
Tidak ribut, tidak ganti nama, tidak mangkrak.

Dan…. di ujung rilis Menhut itu, aku tutup laptop sambil senyum, ternyata di antara segala hiruk-pikuk politik, yang paling konsisten justru seekor panda. The and… Rio kecil tidur, kita ketawa sambil mikir, aku juga ikut tidur. (***)

Terpopuler

To Top