Sabtu, 31 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Features » Lompat Kelinci di MarBlok C: Bocah Kampung Menolak Jadi Zombie Digital & Memilih Tertawa di Atas Tanah

Lompat Kelinci di MarBlok C: Bocah Kampung Menolak Jadi Zombie Digital & Memilih Tertawa di Atas Tanah

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
  • visibility 648
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Anak-anak tidak sedang bermain. Mereka sedang bekerja. Serius. – ” Fred Rogers, pencipta Mister Rogers’ Neighborhood

SORE itu, udara di  di MarBlok C enggan lekas berubah jadi malam, pohon karet, akasia, dan gelam berdiri seperti pagar alami di ujung perumahan, membentengi kampung dari kebisingan kota dan truk-truk tronton yang siang malam lewat di Jalan Raya. Tak ada klakson bis antarkota atau suara sirine patroli, yang terdengar justru jeritan khas.

“Aku kelinci! Aku kelinci! Woy, yang jongkok jangan goyang-goyang, jatuh aku nanti!”

Tawa pun meledak dari arah lapangan becek di pinggir blok, di situlah sekelompok bocah cewek usia 8 sampai 10 tahun sedang bermain “Lompat Kelinci” dengan semangat lebih membara dari demo sopir ojek daring di hari Senin.

Mereka bukan karakter kartun Jepang. Mereka adalah Ucul, paling cerewet dan jago salto meski sering nyusruk, Pipit, pendiam yang lompatan diam-diam bikin decak kagum, Tetek, komandan lapangan yang selalu bawa air minum dari rumah, Empol, ketawa dulu, jatuh belakangan, Nduk, spesialis teriak “ulang, ulang, ulang!”,dan Kicik, si kecil mungil yang pantang mundur jadi tumpuan.

Sebelum lanjut, mari kita luruskan, apa itu “MarBlok C” ? istilah itu, bukan nama resmi kelurahan, bukan pula waralaba superhero. Namun plesetan lokal dari “Marvel-nya Blok C”. Sebuah universe imajinatif tempat anak-anak kampung menjadi pahlawan tanpa aplikasi.

Kalau Marvel punya Captain America dan Wakanda, maka MarBlok C punya Ucul, Pipit, dan kawan-kawan yang lompatannya bisa bikin deg-degan emak-emak dari balik jendela.

Di sini, kekuatan super itu bukan bisa terbang atau punya laser mata, tapi bisa nahan jongkok 6 kali tanpa jatuh dan masih bisa ketawa kalau kepeleset lumpur.

MarBlok C adalah semesta nyata yang tidak bisa diunduh, tapi bisa ditemukan  di lapangan becek, di antara sandal jepit hilang, dan tawa yang bersahut-sahutan.

Pipit awalnya bukan pemain tetap. Ia pendiam, suka duduk di pojokan rumah sambil nonton video mukbang atau main game zombie-zombiean. Tapi sejak suatu sore ia ikut nonton permainan, dan Ucul tiba-tiba teriak “Pipiiiit, sini jadi kelinci cadangan!”

Sejak saat itu, Pipit jarang terlihat tanpa lumpur di dengkulnya.

Ibunya, Bu Saminem, bersaksi sambil ngulek sambal “Dulu anak itu kalo disuruh keluar rumah kayak disuruh bayar utang. Sekarang, sandal hilang dua pasang gara-gara main mulu”.

Apa itu lompat Kelinci?, bagi yang belum kenal, ini permainan lawas mirip parkour kampung. Satu anak membungkuk seperti huruf “n”, lalu teman-temannya melompat melewati punggungnya sambil berseru “kelinci!”. Yang sudah lompat, gantian jadi tumpuan, kadang jatuh, kadang nyusruk, tapi selalu ada tawa.

Permainan ini bukan sekadar olahraga, bak pelatihan militer versi empati, anak yang melompat percaya temannya nggak goyang. Yang jadi tumpuan percaya temannya nggak loncat pakai lutut.

Manfaatnya? Banyak, Pak….

Menurut Jean Piaget, psikolog Swiss, anak usia 7–11 tahun sedang berada di tahap operasional konkret – belajar logika lewat perbuatan (The Language and Thought of the Child, 1959). Nah, Lompat Kelinci ini persis seperti simulasi hidup, ada giliran, risiko, kerja sama, dan refleks tubuh.

Dari sisi kesehatan? WHO menyarankan anak usia sekolah minimal 60 menit aktivitas fisik sehari (Guidelines on physical activity and sedentary behaviour, WHO, 2020). Lompat Kelinci bukan cuma cardio, tapi juga terapi stres, terapi tawa, dan terapi jantung emak-emak yang nonton dari jendela. “Gerakan, tawa, dan interaksi sosial itu fondasi kecerdasan anak” -Dr. Stuart Brown, Play: How It Shapes the Brain… (2009).

Bu Tatik (42), guru SD lokal  “Anak-anak itu lebih gampang bahagia kalau dikasih main. Kadang kita yang bikin hidup mereka ribet dengan PR dan les. Main Lompat Kelinci itu pelajaran karakter yang tak ada di modul”.

Pak Giman (58), Ketua RT “Saya lebih senang lihat anak kampung main lari-lari daripada lihat anak kota pegang iPad sambil pasang earphone, kayak astronot isolasi”.

Di kota, taman bermain ada tapi pakai tiket, anak-anak main di mal, bukan di tanah, mereka tahu nama semua karakter game, tapi nggak kenal tetangga sebelah. Ada anak yang hafal fitur TikTok tapi nggak tahu cara main petak umpet.

Di kampung, anak main di jalan perum, bisa juga di lapangan becek, sandal jepit ilang itu biasa. Tapi mereka tahu giliran, tahu rasanya jatuh dan ditertawakan  lalu bangkit dan tertawa bareng.

“Anak yang tak pernah main tanah, akan sulit menumbuhkan akar empati”.- Bu Mirna, guru SD di Musi Banyuasin

Data UNICEF (2023) menyebut 80% anak Asia Tenggara terpapar layar digital lebih dari 4 jam sehari. Di sinilah Lompat Kelinci jadi semacam vaksin sosial.

Ia membangun ketahanan fisik, sosial, dan mental, anak belajar kapan harus menunggu, kapan harus melompat, dan kapan harus mengalah.

Di Jepang ada Darumasan ga Koronda, di Meksiko ada La Rueda, di Afrika ada Jump Stone, tapi di Blok C, Indonesia, masih ada suara bocah berteriak “kelinciii!” dengan kaki penuh tanah.

THE END (Tapi Sebenarnya Baru Awal), suatu hari nanti, mungkin Pipit, Ucul, dan Kicik akan tumbuh dewasa dan hidup di kota besar, duduk di kantor ber-AC sambil mengetik proposal atau ikut rapat daring dengan atasan di lima zona waktu berbeda.

Tapi ingatan tentang jatuh tertimpa pantat temannya, atau suara “ulang, ulang, ulang!” dari Nduk, akan jadi bekal batin yang tak bisa dibeli di toko aplikasi.

Mereka akan lebih tahu cara menghadapi hidup, karena sejak kecil sudah tahu rasanya ditertawakan, lalu ikut tertawa.

Mereka belajar sejak dini bahwa yang jongkok pun harus kuat, dan yang meloncat jangan lupa mendarat, lantaran  di Lompat Kelinci, kalau satu goyang, semua bisa ambruk.

Persis kayak kehidupan sosial di negara berkembang saling percaya atau saling menjatuhkan.

Canggih

Dunia boleh makin cepat dan canggih, tapi empati tidak bisa diunduh dari App Store. Interaksi tidak bisa digantikan dengan emoticon,  dan karakter tak bisa dibentuk hanya dengan main Candy Crush.

Pipit, yang dulu hanya duduk sambil menonton YouTube, kini bisa nyelutuk kalau ibunya cerewet “Bu, aku anak outdoor sekarang. Lantai bukan habitatku”.

Anak-anak di Blok C mungkin tak bisa coding atau bikin NFT. Tapi mereka bisa bikin lingkaran untuk bermain, bisa ganti posisi, bisa jadi tumpuan, bisa belajar sabar, dan tahu kapan harus mundur supaya temannya maju.

Kalau ini bukan pendidikan karakter, lalu apa?

Epilog, surat dari MarBlok C untuk bocah-bocah se-dunia (dan Orang Dewasa yang Pernah Jadi Anak-Anak), wah nyasar jauh bocah global bukan lokalan RT……

Hai kalian, bocah-bocah di mana pun kalian berada.
Di balik gedung pencakar langit New York, di perahu di Sungai Mekong, di kamp pengungsi Palestina, atau di lorong kecil Mumbai,  kami cuma mau bilang kalian boleh main.

Main bukan dosa.
Tanah bukan musuh.
Tawa bukan gangguan.

Dunia sedang kebanyakan layar dan kekurangan tumpuan.
Kita semua sedang kehausan empati.

Dan buat kalian yang sudah dewasa, yang kini duduk serius di balik laptop dengan 37 tab terbuka, coba ingat-ingat

Pernah nggak, kalian jatuh waktu main dan malah ketawa bareng?
Pernah nggak, kalian belajar sabar karena harus nunggu giliran main gasing?

Itu bukan nostalgia murahan. Itu latihan menjadi manusia.

Kalau kita ingin dunia yang lebih damai, empatik, dan penuh tawa, mulailah dari hal sederhana izinkan anak-anak jadi anak-anak.

Karena masa depan tidak sedang diprogram di ruang coding,
tapi sedang dilatih 
di lapangan becek, di jalan blok perum..
di atas tanah yang tertawa.

Dan masa depan itu…
masih bisa melompat.[***]

Catatan: Artikel ini ditulis dalam gaya feature naratif, menggabungkan observasi nyata dengan tokoh-tokoh fiktif untuk menyampaikan nilai-nilai sosial dan pendidikan anak. Referensi dari WHO, Jean Piaget, dan Stuart Brown digunakan secara aktual untuk memperkuat relevansi ilmiah dari fenomena permainan tradisional di masa kini.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kompak, Gunakan Gampo di Sidang Paripurna Istimewa HUT Muba ke -63

    Kompak, Gunakan Gampo di Sidang Paripurna Istimewa HUT Muba ke -63

    • calendar_month Minggu, 29 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 994
    • 0Komentar

    ADA yang berbeda tahun ini pada sidang Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Muba Dalam Rangka Hari Jadi ke-63 Kabupaten Muba Tahun 2019 di Kantor DPRD Muba, karena seluruh tamu undang kompak menggunakan busana terbuat dari Gampo, salah satu kain batik khas daerah ini. Tampak ribuan tamu undangan yang terdiri dari Forkopimda serta tamu kehormatan lainnya berseragam Gampo. […]

  • gunung-agung-bali

    Semburkan Asap Setinggi 1.500 Meter, Status Gunung Agung Tetap Awas

    • calendar_month Minggu, 8 Okt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.360
    • 0Komentar

    Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gede Suantika menjelaskan, intensitas hujan tinggi selama tiga hari terakhir menjadi pemicu asap putih setinggi 1.500 meter pada Sabtu 7 Oktober malam tadi di puncak Gunung Agung. Namun Gunung Agung tetap berstatus awas.

  • Pisah Rumah, Aldi Taher  Ngaku Keretakan Rumah Tangga Sudah Lama

    Pisah Rumah, Aldi Taher Ngaku Keretakan Rumah Tangga Sudah Lama

    • calendar_month Sabtu, 4 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.076
    • 0Komentar

    “Enggak ada hubungannya (dengan keadaan ekonomi). Permasalahan utama, ketidakcocokan dan selalu timbul perselisihan antara Aldi dan Georgia,”

  • Cuma 2 Menit, Harnojoyo Isi Data Sensus Kependudukan Secara Online

    Cuma 2 Menit, Harnojoyo Isi Data Sensus Kependudukan Secara Online

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 1.318
    • 0Komentar

    SENSUS penduduk online tahun 2020 yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) resmi dimulai dan akan berlangsung hingga 31 Maret mendatang. Di Kota Palembang Walikota Palembang H.Harnojoyo mengawali pelaksanaan kegiatan 10 tahun sekali ini, Rabu (4/3/2020) di rumah dinas Walikota Jalan Tasik dengan cara mengisi secara online. Hanya butuh waktu tidak lebih dari 2 menit, langsung […]

  • Ajak Berbagai Pihak Bahas Konservasi Air di Desa Wisata Munduk Bali

    Ajak Berbagai Pihak Bahas Konservasi Air di Desa Wisata Munduk Bali

    • calendar_month Minggu, 4 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.968
    • 0Komentar

    KEMENTRIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengajak berbagai pihak yang terkait dalam wadah Focus Group Discussion (FGD) untuk mencari solusi penanganan konservasi air  di Desa Wisata Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Sekretaris Utama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Wayan Giri Adnyani, dalam  acara yang dilaksanakan di Puri […]

  • polda-sumsel

    Polda Sumsel Amankan 24 TKA Tiongkok

    • calendar_month Minggu, 30 Jul 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.796
    • 0Komentar

    Polda Sumsel melalui Direktorat Intel mengamankan 24 tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok yang bekerja di proyek LRT (Light Rail Transit),  TKA tersebut diamankan karena tidak memiliki visa kerja di Palembang.

expand_less
WordPress Archive Neotek – Electronics WordPress Theme NeoTek – SaaS and Software Company WordPress Theme Neoton – News Magazine WordPress Theme Nepolis – Nail Salon Beauty Care Elementor Template Kit Nest - Grocery Store WooCommerce WordPress Theme Nest – Multipurpose eCommerce HTML Template Nest – Multivendor Organic & Grocery Laravel eCommerce Nestbyte- Creative Agency and Startup WordPress Theme Netfee – Broadband and Internet WordPress Theme Netmix | Broadband & Telecom Internet Provider WordPress Theme