Cara Mengubah Karya Kreator Jadi Aset Menghasilkan Uang, Ini Penjelasan Wamen Ekraf
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 5 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ekraf.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Punya karya belum tentu otomatis punya penghasilan. Bagi kreator, tantangan sebenarnya bisa muncul setelah sebuah karya selesai dibuat: bagaimana membuat karya tersebut tetap bernilai, dikenal lebih luas, dan pada akhirnya bisa menghasilkan uang.
Hal inilah yang menjadi perhatian Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, saat menghadiri IdeaFriends After Hours: Creative Economy di Taman Arca, Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Irene, kreator saat ini membutuhkan lebih dari sekadar tempat untuk menunjukkan karya. Mereka juga perlu akses teknologi, kesempatan belajar, komunitas, jaringan industri, serta ruang untuk mengembangkan kreativitas menjadi pekerjaan dan sumber penghasilan.
“Semangat yang kami bangun adalah create, connect, and earn,” kata Irene.
Tiga kata tersebut menjadi gambaran sederhana tentang ekosistem yang ingin dibangun. Kreator perlu mendapat ruang untuk create, kemudian connect dengan teknologi, komunitas, pemerintah, dan industri. Dari sana, karya diharapkan bisa masuk ke tahap earn, atau memberikan nilai ekonomi bagi pembuatnya.
Karya Bisa Dikembangkan Menjadi Aset
Menurut Irene, sebuah karya seharusnya tidak berhenti sebagai hasil kreativitas. Kekayaan Intelektual (KI) yang ada di dalamnya justru dapat dikembangkan menjadi aset yang memiliki nilai ekonomi.
Caranya bisa beragam, tergantung jenis karya dan pasar yang dituju. Kreator dapat mengembangkan model bisnis, membuka peluang lisensi, membangun kolaborasi, maupun mencari bentuk komersialisasi yang sesuai.
Artinya, nilai sebuah karya tidak hanya terletak pada hasil akhirnya. Cara karya tersebut dikelola juga menentukan seberapa jauh potensinya untuk berkembang.
Di sinilah pemahaman mengenai Kekayaan Intelektual menjadi penting. Kreator perlu mengetahui siapa pemilik karya, bagaimana melindunginya, serta bagaimana hak atas karya tersebut dapat dimanfaatkan ketika masuk ke dunia bisnis.
Dengan begitu, karya yang awalnya dibuat untuk memenuhi kebutuhan kreatif dapat memiliki perjalanan yang lebih panjang dan membuka peluang penghasilan bagi penciptanya.
Jangan Berhenti Setelah Karya Selesai
Irene juga menilai pembinaan talenta perlu dilakukan sejak dini. Kreator perlu mendapat kesempatan untuk mengenal industri sehingga memahami bahwa proses kreatif tidak selesai ketika sebuah karya sudah dibuat.
Ada banyak hal yang kemudian perlu dipikirkan, mulai dari membangun jaringan, mencari mitra, memperkenalkan karya kepada audiens, sampai melihat kemungkinan karya tersebut dikembangkan ke bidang lain.
Peluangnya pun cukup besar. Indonesia memiliki 21 subsektor ekonomi kreatif, sehingga ide dan karya kreator dapat memiliki banyak jalur pengembangan sesuai karakter, kemampuan, dan pasar yang ingin dituju.
Karena itu, kemampuan menghasilkan karya perlu berjalan beriringan dengan kemampuan melihat peluang di balik karya tersebut.
Peluang Tidak Hanya Milik Kreator Jakarta
Pengembangan ekonomi kreatif juga tidak seharusnya hanya berpusat di Jakarta. Irene menekankan bahwa kreator dari berbagai daerah perlu memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkolaborasi, memperkenalkan karya, dan menjangkau audiens yang lebih luas.
Kehadiran komunitas, industri, pemerintah, dan teknologi menjadi penting karena tidak semua kreator memiliki akses yang sama terhadap jaringan tersebut.
Pertemuan antara berbagai pihak dalam satu ekosistem juga dapat membuka peluang kolaborasi yang sebelumnya sulit dijangkau kreator secara individual.
IdeaFriends Perkenalkan Kreator dengan Ekosistem Industri
Gagasan tersebut salah satunya terlihat dalam IdeaFriends After Hours: Creative Economy. Kegiatan ini mempertemukan sekitar 100 kreator dalam suasana yang memadukan ruang budaya dengan teknologi kreatif.
Kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison, Adobe, Kementerian Ekonomi Kreatif, Museum Nasional Indonesia, dan IdeaFest tersebut menghadirkan sejumlah kegiatan, mulai dari Tur Malam di Museum, Adobe Express Template Challenge, Lightning Talks, pengenalan komunitas, hingga sesi jejaring.
Bukan hanya menjadi tempat berkumpul, kegiatan tersebut juga mempertemukan kreator dengan komunitas, pelaku industri, teknologi, dan pemerintah.
Director & Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Reski Damayanti, mengatakan kekayaan budaya dan alam Indonesia merupakan salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan melalui ekonomi kreatif.
“Budaya kita adalah salah satu keunikan terbesar Indonesia. Karena itu, kita membutuhkan teman-teman dari ekosistem kreator untuk mengembangkan budaya kita menjadi sesuatu yang bernilai dan dapat dikenal dunia,” ujar Reski.
Sehingga, peluang kreator tidak hanya berhenti pada seberapa menarik sebuah karya dibuat. Ada pekerjaan berikutnya yang tidak kalah penting, yakni menjaga karya tersebut, menemukan pasar, membangun kerja sama, dan mencari cara agar kreativitas yang sudah dihasilkan dapat terus memberikan nilai.
Pesan create, connect, and earn yang disampaikan Wamen Ekraf pun menjadi relevan bagi kreator yang ingin menjadikan karya bukan hanya sebagai portofolio, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan karier dan sumber penghasilan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
