Karhutla Meluas, Kekeringan Berdampak pada 25.830 Warga Bandung
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Karhutla masih menjadi ancaman utama pada musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia, di saat kebakaran hutan dan lahan terus bermunculan di berbagai daerah, dampak lain yang tak kalah serius juga dirasakan masyarakat. Di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kekeringan telah menyebabkan sedikitnya 25.830 warga atau 7.980 kepala keluarga kesulitan memperoleh air bersih.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, dalam laporan harian periode 6 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB hingga 7 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, kejadian bencana masih didominasi kebakaran hutan dan lahan yang dipicu kondisi cuaca kering. Sejumlah peristiwa baru maupun perkembangan penanganan karhutla dilaporkan dari berbagai daerah, sementara pemerintah daerah terus melakukan upaya pemadaman dan pemantauan untuk mencegah kebakaran kembali meluas.
Karhutla terjadi di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, dengan luas lahan terbakar sekitar 13 hektare. Titik api tersebar di Desa Selingsing, Desa Lalang, dan Desa Mangkubang. Setelah upaya pemadaman oleh tim gabungan, api berhasil dikendalikan pada Kamis (6/8) dan kondisi di lokasi dinyatakan aman.
Di Jawa Tengah, kebakaran hutan dan lahan juga melanda Kabupaten Wonogiri dengan luas terdampak sekitar 2,5 hektare. Kebakaran yang terjadi di Desa Kaliancar dan Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, berhasil dipadamkan pada Kamis sore sehingga tidak lagi mengancam permukiman warga.
Sementara itu, dampak musim kemarau paling besar dalam laporan BNPB justru terjadi di Kabupaten Bandung. Berkurangnya ketersediaan air bersih membuat ribuan warga terdampak kekeringan sejak akhir Juli. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD setempat telah menyalurkan sekitar 148.000 liter air bersih ke wilayah terdampak.
Di wilayah timur Indonesia, kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, dengan luas sekitar 3,5 hektare. Petugas masih melakukan pemantauan di sejumlah titik rawan guna mengantisipasi munculnya kebakaran susulan.
Karhutla dengan luasan paling besar dalam laporan kali ini terjadi di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 55 hektare, meski masih dalam proses pendataan. Kebakaran yang berlangsung sejak 29 Juli itu akhirnya berhasil dipadamkan pada Kamis (6/8) malam.
Selain itu, kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dengan luas sekitar 6 hektare dan berhasil dikendalikan pada hari yang sama. Sementara di Kota Sorong, Papua Barat Daya, luas lahan yang terbakar bertambah menjadi sekitar 10 hektare sebelum akhirnya berhasil dipadamkan. Kebakaran juga sempat melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kota Sorong seluas sekitar 5 hektare dan kini telah dinyatakan aman.
BNPB menyatakan pendampingan penanganan karhutla masih terus dilakukan di sejumlah provinsi prioritas, antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur. Dukungan yang diberikan mencakup operasi darat, bantuan udara, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah dengan tingkat risiko kebakaran tinggi.
Mengacu pada prakiraan BMKG, cuaca cerah hingga cerah berawan masih mendominasi sebagian wilayah Sumatra bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua dalam tiga hari ke depan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, meski hujan lokal masih berpeluang terjadi pada sore hingga malam hari di sejumlah wilayah.
BNPB mengimbau pemerintah daerah memperkuat patroli terpadu, meningkatkan deteksi dini titik panas, serta memastikan kesiapan personel dan peralatan pemadaman. Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat segera ditangani sebelum meluas. Sementara di daerah terdampak kekeringan, distribusi air bersih diharapkan terus dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
