Rabu, 14 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Features » Ketika Listrik Jadi Nyawa Tukang Las Untuk Meraup Cuan

Ketika Listrik Jadi Nyawa Tukang Las Untuk Meraup Cuan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month 19 menit yang lalu
  • visibility 9
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JARUM jam menunjukkan pukul 09.00 WIB, sementara terlihat kabut asap masih menyelimuti kawasan Kalidoni, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Langit tampak putih keabu-abuan, dampak dari musim kemarau panjang saat ini menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda wilayah Sumsel, ntah sampai kapan.

Akibatnya cuaca di Kota Palembang kurang bersahabat untuk kesehatan masyarakat, meski demikian, kondisi itu tak menyurutkan semangat Keken (40), pemilik bengkel las di Jalan H. Azhari, Kalidoni, Palembang. Hampir setiap pagi aktivitas terlihat di bengkel las, ia tetap sibuk menyelesaikan pesanan pagar besi dan lainnya yang dipesan konsumennya.

Di bengkel berbentuk los berukuran 5 x 7 meter tersebut, suasana nampak semrawut. Tumpukan besi hollow tergeletak di lantai. Mesin las, stik las, dan gerinda berada di antara peralatan kerja lainnya. Potongan besi dan baut berserakan di sejumlah sudut, sementara lantai tampak kusam akibat aktivitas pengerjaan besi setiap hari.

“Ya, namonyo bengkel las, dak pacak rapi. Pasti berantakan tulah. Kalo biso rapi, paling dak lamo, limo menit balek lagi cak aslinyo, berantakan,” kata Keken dengan logat Palembang yang kental saat ditemui belum lama ini.

Mengenakan wearpack berwarna orange yang kusam dan kotor, Keken mulai bekerja. Ia mengambil potongan besi hollow yang telah diukur dan dipotong, kemudian menyambungkannya satu per satu menggunakan mesin las.

Krik… krik… criiik… percikan api beterbangan dari titik pertemuan dua potong besi. Sesekali, cahaya terang muncul ketika elektroda menyentuh material yang hendak disambungkan. Perlahan, potongan-potongan besi itu membentuk kerangka pagar rumah.

Di tengah kabut asap pagi itu, percikan api dari mesin las tampak seperti kembang api. Namun, bagi Keken, nyala api tersebut bukan hanya pemandangan, karena dibalik setiap sambungan besi, ada pesanan yang harus diselesaikan dan kebutuhan keluarga yang mesti dipenuhi, agar dapur tetap ngebul dan sekolah anak lancar, serta anak yang bungsu belum genap setahun tetap minum susu untuk pertumbuhan tubuh.

Dari bengkel sederhana itulah, ia mencari nafkah, guna menghidupi istri dan empat anaknya. Keken memang bukan orang baru dalam dunia pengelasan. Keterampilan yang kini menjadi sumber penghasilannya dipelajari langsung dari sang bapak, yang juga berprofesi sebagai tukang las di kampung halaman.

Sejak duduk di bangku kelas III SMP, Keken sudah ikut membantu bapaknya. Mulai dari memegang besi, belajar mengukur, hingga perlahan memahami cara menyambungkan besi menggunakan mesin las. “Bapak aku ni, jugo tukang las di dusun, dari SMP aku sudah melok bapak, megangi besi, belajar ngukur. Ilmu las ini warisan bapak,” kenangnya.

Berbekal keterampilan itu, Keken yang berasal dari Dusun Mariana, Kabupaten Banyuasin, Sumsel, kemudian merintis usaha sendiri di Palembang. Perjalanannya tidak langsung mulus. Awalnya, sebelum memiliki bengkel, seperti sekarang ini, ia pernah menjalankan usaha dari teras rumah subsidi tipe 36 di Perumahan Pesona Harapan, Kalidoni, Palembang.

Di tempat yang terbatas itu, Keken mengerjakan pesanan dengan peralatan seadanya. Namun, suara mesin gerinda dan alat pemotong besi kerap menjadi persoalan karena rumah-rumah di kompleks tersebut berdempetan.

Ia memahami, tidak semua tetangga bisa menerima suara bising dari aktivitas bengkel. Ada keluarga yang memiliki bayi, ada pula penghuni rumah yang membutuhkan istirahat setelah bekerja. “Namanyo rumah subsidi, rumah dempet. Kasihan kalo ado nak istirahat, ado yang sakit. Suaro ngeeeeng… kriiik… krikkk, dari gerinda motong besi bisa bikin tetangga sewot. Doso kito samo bae, dzalim,” katanya.

Bagi Keken, mencari nafkah memang penting, tetapi kenyamanan orang lain juga harus diperhatikan. Ia tak ingin usaha yang dijalankannya justru mengganggu tetangga sendiri, sekitar enam tahun lalu, ia akhirnya memutuskan memindahkan bengkel dari teras rumah. Keputusan itu menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan usahanya.

Untuk mendapatkan tempat usaha, Keken mengaku menjual sebagian tanah atau kebun karet warisan dari bapaknya. Uang hasil penjualan itu kemudian digabungkan dengan tabungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. “Alhamdulillah, uangnyo cukup untuk beli los ukurannyo 5 x 7 meter di Jalan H. Azhari. Los punyo dewe, bukan ngontrak lagi. Ini punyo aku. Sekarang aku lebih leluasa begawe, dak khawatir ganggu tetanggo cak waktu masih begawe di teras rumah, kebetulan jugo los ini dak jauh dari perumahan aku, jadi jam istirahat biso balek makan,” ujarnya.

Memiliki tempat usaha sendiri membuat Keken lebih semangat untuk mencari orderan dan mengatur jam kerja, bahkan bisa menggunakan peralatan dengan bebas. Namun hal itu bukan satu-satunya menentukan kelancaran pekerjaannya, sebab ada satu kebutuhan yang  penting sebagai nyawa dan yang tak bisa dipisahkan dari aktivitas sehari-hari Keken, yaitu soal listrik PLN.

Sebab, bagi tukang las sendiri, listrik PLN juga tak hanya digunakan untuk penerangan ruangan, tapi yang paling penting, yaitu untuk menghidupkan mesin las, mesin gerinda, karena mesin las membutuhkan tenaga listrik untuk menyambungkan besi, selain itu juga gerinda digunakan untuk memotong dan merapikan material, jika pasokan listrik bermasalah, pekerjaan yang sedang berlangsung bisa terhenti.

Dua orang helper las tengah memasang dan menyetel pagar di rumah konsumen, foto : one

Keken bercerita, pernah mengalami situasi tersebut saat masih menjalankan bengkel dari rumah. Ketika mesin las dan gerinda digunakan bersamaan dengan peralatan rumah tangga, aliran listrik kerap terputus atau biasa disebut jeglek. Saat itu, ia masih mengandalkan sambungan listrik rumah berdaya 900 VA. Penggunaan sejumlah peralatan bengkel, ditambah kebutuhan listrik keluarga, membuatnya harus memperhatikan pemakaian agar pekerjaan tidak terus terganggu.

Setelah pindah ke los, Keken mendaftar sebagai pelanggan baru PLN dengan sambungan listrik prabayar atau token berdaya 1.200 VA yang digunakan khusus untuk bengkel. “Pindah ke los ini, saya daftar pelanggan baru ke PLN menggunakan listrik token 1.200 watt. Alhamdulillah, sekarang tidak jeglek lagi, karena cuma fokus digunakan untuk usaha ini,” katanya.

Dengan sambungan listrik khusus bengkel, kebutuhan listrik untuk bekerja tidak lagi bercampur dengan pemakaian rumah tangga seperti sebelumnya. Keken pun merasa lebih leluasa mengoperasikan peralatan. Apalagi dengan listrik token bisa mengontrol pemakaianya, setidaknya juga bisa ngirit.

Ia menjelaskan, mesin las yang digunakan memiliki daya sekitar 900 watt. Dalam proses pengerjaan, ia mengatur mesin sesuai kebutuhan dan menggunakan gerinda secara bergantian. “Mesin las aku 900 watt, aku set di 90 ampere, jarumnya di angka 9. Pas itu, token Rp20 ribu bisa buat satu pagar. Listrik 1.200 watt token PLN ini kuat, tidak jeglek walau gerinda nyala bergantian,” akunya sembari menikmati segelas kopi hangat dan sebatang rokok lintingan sendiri.

Mengatur penggunaan peralatan secara bergantian menjadi salah satu cara Keken menjaga pekerjaan tetap berjalan. Mesin las digunakan untuk menyambungkan besi, sementara gerinda dipakai untuk memotong dan merapikan bagian yang diperlukan.

Ia juga memperhitungkan kebutuhan material serta waktu pengerjaan agar pesanan bisa diselesaikan sesuai kemampuan bengkel, pasalnya pekerjaan yang terhenti bukan hanya membuat proses produksi tertunda. Ada pelanggan yang menunggu pesanan selesai, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan setiap hari. “Kalau listrik mati, aku melok mati. Empat anak aku nak makan apo? kareno galo-galo gawean aku ini bergantung dengan listrik,” ucapnya.

Memang masuk di akal pernyataan Keken, sebab betapa erat hubungan antara kelancaran pasokan listrik dan keberlangsungan usaha yang dijalaninya. Ketika mesin tak bisa digunakan, waktu produksi bisa terbuang. Padahal, setiap pesanan yang selesai menjadi bagian dari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sejak memiliki tempat usaha sendiri, Keken menerima beragam pesanan pengerjaan besi. Tidak hanya pagar rumah, ia juga mengerjakan teralis, pagar untuk kanopi rumah, serta bak atau gerobak mini untuk mobil Pick Up, termasuk bagian pagar besinya sesuai kebutuhan konsumen.

Setiap pesanan aku Keken, memang memiliki ukuran dan tingkat kesulitan berbeda, ada pekerjaan yang relatif sederhana, tetapi ada pula yang membutuhkan pengukuran lebih teliti dan penyesuaian agar konstruksi besi sesuai dengan kebutuhan pemesan. Lalu, paparnya, proses pengerjaan biasanya dimulai di bengkel. Besi diukur, dipotong, kemudian disambungkan menggunakan mesin las hingga membentuk konstruksi yang diinginkan.

Namun, pekerjaan tidak selalu selesai ketika produk sudah terbentuk di bengkel. Untuk pesanan tertentu, Keken harus mengantarkan hasil pengerjaan ke rumah konsumen untuk dipasang, disetel kembali, dan di las pada bagian yang membutuhkan penyesuaian. Dalam pekerjaan pemasangan tersebut, ia terkadang mengajak pekerja lepas atau freelance untuk membantu. Mereka bekerja bersama di lokasi konsumen, terutama ketika pagar perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan sebelum terpasang dengan baik.

Keken menjelaskan, proses pemasangan merupakan bagian penting dari penyelesaian pesanan. Pagar yang sudah dibuat di bengkel tetap harus disesuaikan dengan kondisi lokasi, agar hasil akhirnya memenuhi kebutuhan pelanggan. Aktivitas itu setidak sebagai gambaran memang, pekerjaan tukang las tidak hanya berkutat di dalam bengkel. Ada proses pengukuran, pengerjaan material, pengangkutan, hingga pemasangan yang harus dilakukan sebelum pekerjaan benar-benar tuntas. Hal itu menjadi pokok dalam profesi ini.

Keselamatan kerja juga harus menjadi perhatian, karena bekerja menggunakan api listrik kabel – kabel sering di kontrol mencari yang sobek, agar tak membahayakan diri sendiri dan pekerja freelance. “Iyo, harus perhatike, bahayo kalo terinjek ada kabel sobek biso kesetrum,”ungkapnya sembari membuka helm pelindung berbentuk topeng dan mengganti kaca mata hitam biasa untuk mengerjakan pagar pengaman bak mobil pick- up di teras los –nya.

Keken  menganggap pekerjaan mengelas besi terali bak pengaman mobil pick -up relatif santai, meski memang proses pengelasan tetap memiliki risiko, karena ada cahaya busur las dan percikan panas. Namun, akunya lagi tetap menggunakan pelindung mata dan wajah yang sesuai untuk pekerjaan pengelasan tetap diperlukan untuk mengurangi risiko cedera selama bekerja.

Keken biasanya mulai bekerja sekitar pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB, bergantung pada jumlah pesanan yang masuk. Jika sebelumnya ia mengaku hanya mampu menyelesaikan satu pagar kecil sehari ketika masih bekerja dari rumah. Kini ia bisa mengerjakan sekitar dua pagar, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Ketika pesanan sedang ramai, terutama untuk pekerjaan teralis masjid, penghasilannya bisa meningkat. Namun, pendapatan tersebut tetap bergantung pada jenis pekerjaan, biaya material, serta waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pesanan.

“Sehari biso duo pager. Kalau lagi ramai pesanan teralis masjid, ya, lumayan borongannyo bisolah dapur ngembul penghasilan bersihnyp. Sebulan Alhamdulillah biso puluhan juta juga, bahkan kadang biso lebih,” katanya sembari tersenyum dan merahasiakan angka omzet pasti  per order.

Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai sekolah empat anaknya, susu serta menyisihkan uang untuk tabungan. “Cukup untuk  anak sekolah, untuk untuk kebutuhan dapur, sisanya untuk ditabung,” tambahnya.

Keken memaparkan, pendapatan dari bengkel las memang tidak selalu sama setiap bulan. Ketika pesanan ramai, penghasilan bisa meningkat, sebaliknya, ketika jumlah pesanan berkurang, ia harus menyesuaikan pengeluaran dengan pemasukan yang tersedia. Oleh sebab itu, menjaga kepercayaan pelanggan tetap yang paling utama, karena ketika pelanggan puas, biasanya mereka kembali lagi untuk memesan, bahkan biasa mereka mengajak tetangganya untuk memesan terali pintu atau yang lain ke bengkelnya. “Makonyo, gawean harus dikerjoke dengan baik, agar hasilnya sesuai kebutuhan dan pelanggan bisa kembali menggunakan jaso kito,” imbuhnya lagi.

Keterampilan yang diwariskan sang bapak memang menjadi modal utama dalam menjalankan usaha. Sementara itu, pengalaman bertahun-tahun mengelola bengkel mengajarkannya untuk mengatur pekerjaan, memperhitungkan biaya, dan menjaga hubungan dengan pelanggan. Keken berharap usahanya terus berkembang. Ia juga ingin pengalamannya menjadi pelajaran bagi orang lain yang hendak merintis usaha pengelasan dengan modal terbatas. Menurutnya, usaha tidak harus langsung dimulai dengan menyewa ruko besar, ia sendiri pernah memanfaatkan teras rumah subsidi sebelum akhirnya mampu membeli tempat usaha sendiri.

 

Berharap listrik terus andal

Di tengah upayanya mengembangkan usaha, Keken berharap PLN terus menjaga keandalan pasokan listrik, terutama bagi pelaku usaha kecil yang menggunakan peralatan listrik untuk mencari nafkah. Ia mengakui, pemadaman hingga berjam-jam jarang terjadi di kawasan tempat usahanya. Meski begitu, ia berharap kondisi tersebut teta terus terjaga dan gangguan listrik yang berlangsung lama dapat diminimalkan.

Keken menerangkan pasokan listrik yang tersedia saat dibutuhkan memberi kesempatan untuk bekerja tanpa terlalu khawatir kehilangan waktu produksi. Jika, misalnya listrik padam dalam waktu lama, pekerjaan yang seharusnya selesai hari itu bisa tertunda, sementara pelanggan tetap menunggu, akhirnya rugi waktu.

Menurutnya, berbeda dengan sejumlah jenis usaha yang masih bisa menjalankan sebagian aktivitasnya secara manual ketika listrik padam, pekerjaan pengelasan sangat bergantung pada mesin yang membutuhkan tenaga listrik PLN. Tanpa pasokan listrik, mesin las tak bisa digunakan dan proses menyambungkan besi pun terhenti. Waktu kerja yang hilang dapat berpengaruh terhadap penyelesaian pesanan. Bagi usaha kecil seperti milik Keken, kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri, karena kegiatan produksi berkaitan langsung dengan penghasilan keluarga.

Kisah Keken yang berprofesi sebagai tukang las sangat menarik dan patut diapresiasi, karena salah satu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan hidup dengan mengandalkan peralatan listrik.

Pasokan listrik untuk memproduksi tukang las bukan hanya sebagai fasilitas penunjang, melainkan yang paling pokok, ibaratnya listrik PLN sebagai nyawa bahkan merupakan bagian penting dari proses produksi yang membantu usaha terus lancar untuk menghasilkan cuan.

Keandalan pasokan listrik dapat mendukung pelaku usaha dalam mengatur waktu kerja, menyelesaikan pesanan, dan menjaga kepercayaan pelanggan. Meski memang juga bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan, listrik PLN yang andal menjadi salah satu penopang aktivitas usaha sehari-hari.

PLN pun memang diakui Keken, jarang melakukan pemadaman di daerahnya, namun ketika ada pemadaman atau ada masalah di sistem kelistrikan hingga ke pelosok yang memakan waktu berjam-jam bisa memperbaikinnya bisa bisa membuat kerugian di usaha las sehingga usaha terkendala.

Pagi itu, memang suara gerinda dan mesin las kembali memecah suasana bengkel di Jalan H. Azhari. Keken membenahi posisi besi, lalu melanjutkan pekerjaan yang belum selesai hingga menjelang petang.

Potongan-potongan besi perlahan menyatu menjadi konstruksi yang kelak dipasang di rumah konsumen. Di bengkel sederhana itu, setiap sambungan besi memiliki arti lebih dari sebuah produk. Ada pesanan yang harus dituntaskan, pelanggan yang menunggu, serta kebutuhan istri dan empat anak harus dipenuhi.

Selama PLN tetap mengaliri listrik di daerahnya tanpa pemadaman berjam-jam, mesin bisa bekerja dan pesanan terus berdatangan, Keken berusaha menjaga roda usahanya tetap berputar hingga akhirnya anaknya lancar bersekolah, susu anak terpenuhi, dapur tetap ngebul, dan istri pun tetap tersenyum saat ia pulang ke rumah. (***)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Muba punya cara sendiri untuk angkat UMKM, apa tuh !

    Muba punya cara sendiri untuk angkat UMKM, apa tuh !

    • calendar_month Rabu, 24 Apr 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.068
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Tak lama lagi Kabupaten Muba menjadi tuan rumah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan ini digelar pada  3-10 Mei 2024 mendatang, dan dinyakini juga dapat mempromosikan UMKM di Muba.Selain harapannya  MTQ sukses dan dapat mempromisikan UMKM daerah. Sekda Muba Apriyadi Mahmud didampingi Kepala OPD Pemkab Muba, Rabu (24/4/2024) mengecek langsung persiapan […]

  • Gubernur Sumsel Instruksikan Semua OPD Pakai Data BPS 

    Gubernur Sumsel Instruksikan Semua OPD Pakai Data BPS 

    • calendar_month Selasa, 23 Okt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.453
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – Gubernur Sumsel Herman Deru menghimbau semua organisasi perangkat daerah (OPD) membiasakan diri menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS). Pernyataan tersebut diungkapkannya saat membuka  Pemantapan Statistik Pertanian dan Program Nasional Ketahanan Pangan 2018 di Hotel The Zuri, Selasa (23/10/2018). Mantan Bupati OKUT dua periode itu mengatakan, sejak memimpin OKUT dirinya sangat konsen setiap […]

  • Bank SumselBabel Bagi Cahaya Lewat Operasi Mata Gratis

    Bank SumselBabel Bagi Cahaya Lewat Operasi Mata Gratis

    • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.068
    • 0Komentar

    “Bank Sumsel Babel lewat program CSR operasi mata gratis hadirkan cahaya baru bagi masyarakat Sumsel kurang mampu, dari uang jadi harapan dan senyum,” KALAU mendengar kata bank, yang terbayang biasanya adalah antrean panjang, slip setoran, dan wajah nasabah yang kadang lebih kaku daripada kertas Rp50 ribuan baru cetak. Tapi, siapa sangka, ada sebuah bank daerah […]

  • Wagub Inginkan Sumsel Jadi Contoh Kerukunan di Indonesia

    Wagub Inginkan Sumsel Jadi Contoh Kerukunan di Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 11 Jan 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 844
    • 0Komentar

    WAKIL Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru melalui Wakil Gubernur Sumsel H. Mawardi Yahya meminta agar umat Kristen Katolik menjadi salah satu agama yang bisa menjembatani kerukunan di Sumsel. Hal itu disampaikan Mawardi dalam sambutannya saat menghadiri Perayaan Natal Oikumene 2019 di PSCC, Palembang,kemarin. Dia mengatakan, momentum Perayaan Natal Oikumene ini hendaklah menjadi penyemangat […]

  • sfc-sarimuda

    Biarlah Rakyat yang Tentukan Pilihan, Sarimuda Minta Panwaslu Awasi ASN

    • calendar_month Senin, 12 Feb 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 796
    • 0Komentar

    Bisa menentukan pilihannya jangan diarahkan, saya berharap Pilkada Kota Palembang fear

  • Pisah Sambut Kejati, Gub Sumsel : Banyak Aset Sumsel Sudah Kembali

    Pisah Sambut Kejati, Gub Sumsel : Banyak Aset Sumsel Sudah Kembali

    • calendar_month Minggu, 12 Jan 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 986
    • 0Komentar

    GUBERNUR Provinsi Sumatera Selatan H. Herman Deru mengucapkan Selamat kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Sumsel Dr. Sugeng Purnomo, SH., M.Hum atas promosi jabatan Eselon I sebagai Staf Ahli Jaksa Agung. Menurutnya, selama menjalankan tugas sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Dr. Sugeng Purnomo, SH., M.Hum, telah berhasil menjalin hubungan kerja yang baik dan rasa kekeluargaan, baik sesama […]

expand_less
WordPress Archive LearnDash LMS Toolkit Addon LearnDash LMS Visual Customizer LearnDash LMS WooCommerce Integration Addon LearnDash LMS WordPress Plugin LearnDash LMS Zapier Integration LearnDash Notes LearnKit – e-Learning Elementor Template Kit Learnomatic – Udemy Affiliate Plugin for WordPress LearnPLUS | Education LMS Responsive Theme | Education LearnPress 2Checkout add-on