Ekonomi

Inflasi Palembang Melandai ke 1,71 Persen, Tekanan Global Mulai Terlihat

ist

LAJU inflasi di Kota Palembang mulai menunjukkan perlambatan pada April 2026, Ssecara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi tercatat sebesar 1,71 persen, menjadi titik terendah sepanjang tahun ini sekaligus berada di bawah kisaran target nasional.

Perlambatan ini terutama dipicu oleh normalisasi harga pangan setelah periode Ramadhan dan Idulfitri. Komoditas utama seperti daging ayam ras dan telur ayam ras yang sebelumnya mengalami kenaikan kini kembali stabil, sehingga menahan tekanan pada indeks harga konsumen.

Di luar pangan, penurunan harga emas perhiasan turut memberikan kontribusi terhadap meredanya inflasi pada bulan tersebut.

Meski demikian, ruang penurunan inflasi dinilai tidak sepenuhnya longgar. Sejumlah indikator menunjukkan mulai munculnya tekanan dari faktor eksternal, terutama akibat kenaikan harga minyak mentah dunia sejak Maret 2026.

Dampaknya mulai terasa pada komponen biaya transportasi dan beberapa barang konsumsi yang bergantung pada rantai pasok global.

Kenaikan biaya produksi serta keterbatasan bahan kemasan di Pasar Internasional juga mendorong pelaku usaha melakukan penyesuaian harga. Kondisi ini berpotensi menahan tren penurunan inflasi dalam jangka pendek.

Pemerintah Kota Palembang merespons situasi tersebut dengan memperkuat langkah pengendalian harga, antara lain melalui operasi pasar dan penguatan pasokan.

Intervensi difokuskan pada komoditas yang memiliki kontribusi besar terhadap inflasi, sekaligus menjaga stabilitas distribusi di tingkat lokal.

Koordinasi antar daerah dan optimalisasi cadangan pangan juga menjadi bagian dari strategi untuk mengantisipasi gejolak harga sementara perbaikan infrastruktur distribusi seperti jalan dan pasar terus dilakukan guna menekan biaya logistik.

Staf Ahli Wali Kota Palembang Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Investasi, Riza Fahlevi, menjelaskan pengendalian inflasi saat ini tidak bisa dilepaskan dari kerja sama lintas sektor yang berbasis data.

“Inflasi April berada di 1,71 persen dan menjadi yang terendah sepanjang 2026,” ujarnya di Kantor Wali Kota Palembang, Senin (4/5/2026).

Stabilitas harga tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan ekstrem di Palembang. Sepanjang 2025, jumlah penduduk dalam kategori tersebut tercatat berkurang sekitar 6,79 ribu jiwa atau turun 0,39 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan capaian tersebut, tingkat kemiskinan ekstrem di Palembang berada di bawah rata-rata Provinsi Sumsel.

Meski tren inflasi saat ini relatif terkendali, pemerintah daerah menilai kewaspadaan tetap diperlukan. Dinamika harga global dan biaya produksi yang belum stabil berpotensi memengaruhi harga di tingkat konsumen dalam beberapa waktu ke depan.

Penguatan koordinasi dan konsistensi intervensi dinilai menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan daya beli masyarakat. (***)

To Top