Senin, 19 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » Ketika APBD Menyempit, Daerah Mulai Lirik “Uang Patungan” Bernama Obligasi

Ketika APBD Menyempit, Daerah Mulai Lirik “Uang Patungan” Bernama Obligasi

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • visibility 60
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI HOTEL Aston Palembang, Selasa kemarin suasana bukan seperti orang lagi arisan RT yang rebutan doorprize minyak goreng.

Namun kalau disederhanakan sedikit dengan gaya kampung, hal ini mirip-mirip “arisan pembangunan,” hanya saja yang dibahas bukan iuran 50 ribu per orang, melainkan skema besar bernama obligasi daerah.

Dan di tengah forum Sarasehan Kebangsaan MPR RI itu, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru datang bersama Wakil Gubernur H. Cik Ujang, membawa satu kegelisahan yang cukup jujur, APBD makin lama makin terasa seperti celana lama dipakai masih bisa, tapi kalau dipaksa lari sudah sempit di paha anggaran.

“Kegiatan ini tentu sangat kami nantikan. Obligasi ini sebenarnya belum sepenuhnya dimengerti masyarakat umum. Maka literasi terkait obligasi harus terus disebarluaskan,” ujar Herman Deru.

Kalimat itu sederhana, tapi kalau dibedah pelan-pelan, isinya cukup “nendang” banyak orang bicara pembangunan, tapi belum tentu paham dari mana uangnya datang, dan bagaimana cara mencarinya ketika kantong daerah mulai cekak.

APBD ke Obligasi: Dari “Belanja Langsung” ke “Patungan Terukur”

Selama ini, pembangunan daerah identik dengan satu sumber utama, APBD. Ibarat dapur rumah tangga, APBD itu uang belanja bulanan. Tapi ketika kebutuhan makin banyak jalan harus diperbaiki, sekolah harus ditambah, layanan publik harus ditingkatkan, apalagi sola uang belanja itu sering kali terasa seperti nasi satu piring untuk satu keluarga besar.

Oleh sebab itu istilah “obligasi daerah” muncul. Kalau dibuat bahasa warung kopi, ini seperti patungan resmi, pemerintah daerah menerbitkan surat utang ke publik atau investor, lalu dana itu dipakai untuk membiayai proyek pembangunan, dan nanti dibayar kembali sesuai skema yang disepakati.

Tapi jangan buru-buru dibayangkan seperti orang pinjam uang ke rentenir, hal ini jauh lebih rapi, lebih diawasi, dan penuh aturan main negara.

Hanya saja, seperti yang diakui sendiri oleh Herman Deru, konsep ini masih terasa asing di telinga masyarakat.

Kata “obligasi” saja kadang sudah bikin sebagian orang langsung merasa ini urusan orang kantoran berjas rapi, bukan urusan warga yang tiap hari mikirin harga cabai.

Makanya, ia menekankan pentingnya literasi. Karena kalau istilahnya tidak dipahami, nanti bisa-bisa obligasi dianggap “utang gaya baru” yang bikin salah paham di warung kopi.

Saat Daerah Mulai Cari Nafas Baru

Di sisi lain, ada realitas yang tidak bisa ditutup-tutupi, efisiensi anggaran membuat ruang gerak pemerintah daerah makin ketat. Herman Deru menyebutkan kepala daerah tetap punya tanggung jawab memenuhi janji pembangunan.

Dan di sinilah posisi obligasi daerah jadi menarik bukan hanya sebagai instrumen keuangan, tapi semacam jalan alternatif disaat jalan utama sedang macet anggaran.

Kalau dianalogikan, ini seperti tukang bangunan yang biasanya beli material dari satu toko, tapi karena harga naik dan stok terbatas, ia mulai mempertimbangkan sistem pre-order atau kerja sama pembiayaan dengan pihak lain. Tetap membangun, tapi caranya lebih fleksibel.

Sumsel sendiri, lewat pernyataan Gubernur, tidak hanya ingin ikut-ikutan. Ada ambisi yang cukup percaya diri, siap mempelajari secara serius, bahkan siap menjadi role model jika skema ini resmi diterapkan secara nasional.

Kalimat role model ini penting karena di dunia kebijakan, jadi percontohan itu seperti jadi anak pertama yang mencoba sepeda tanpa roda bantu. Kalau berhasil, dipuji. Kalau jatuh, ya biasanya jadi bahan evaluasi nasional.

MPR RI dan Jalan Menuju “Aturan Main Baru”

Di forum itu, MPR RI juga tidak hanya datang untuk seremonial. Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, menegaskan bahwa hasil sarasehan ini akan memperkaya naskah akademis yang nantinya diserahkan ke DPR RI.

Artinya, obrolan di hotel itu tidak berhenti di ruangan ber-AC dan coffee break. Ada kemungkinan ia naik kelas menjadi bahan pembentukan undang-undang.

Kalau sudah sampai tahap itu, maka obligasi daerah bukan lagi sekadar “ide keren di seminar”, tapi bisa menjadi sistem resmi pembiayaan pembangunan nasional.

Antara Harapan, Risiko, dan PR Besar

Tentu saja, ide ini tidak datang tanpa tantangan. Di satu sisi, obligasi daerah bisa membuka ruang pendanaan baru. Di sisi lain, ada PR besar yaitu transparansi, kepercayaan publik, dan kemampuan daerah mengelola risiko.

Karena dalam dunia keuangan, yang paling mahal bukan hanya uang—tapi kepercayaan.

Sebab kalau salah hitung, obligasi bisa berubah dari “solusi pembangunan” menjadi beban jangka panjang. Pemerintah daerah tetap wajib membayar bunga dan pokok obligasi, meski kondisi keuangan sedang tidak baik-baik saja.

Ibarat orang membangun rumah dengan sistem cicilan besar, bangunannya memang berdiri megah, tapi tiap bulan kepala ikut cenat-cenut memikirkan tagihan.

Belum lagi risiko proyek yang ternyata tidak produktif. Kalau dana obligasi dipakai untuk proyek yang minim manfaat ekonomi atau sekadar proyek pencitraan, maka daerah bisa nombok bertahun-tahun. Jalan mungkin mulus, gedung mungkin berdiri, tapi pemasukan daerah tidak ikut tumbuh.

Ada pula kekhawatiran klasik negeri ini, salah kelola dan kebocoran anggaran. Karena ketika uang besar mulai berputar, godaan juga biasanya ikut antre di belakang meja.

Kalau pengawasan lemah, proyek bisa mangkrak, kualitas pembangunan menurun, atau lebih parah lagi masyarakat hanya kebagian spanduk peresmian sementara utangnya tetap harus dibayar.

Risiko lainnya, obligasi sering kali berumur panjang. Kepala daerah yang sekarang meresmikan proyek bisa saja sudah selesai masa jabatan ketika cicilannya masih berjalan. Dalam bahasa sederhana, yang menanam, belum tentu yang memanen dan kadang yang menikmati tepuk tangan bukan yang membayar tagihan terakhir.

Karena itu, obligasi daerah bukan sekadar soal mencari uang tambahan, melainkan soal kesiapan daerah mengelola kepercayaan publik. Tanpa tata kelola yang sehat, instrumen modern ini bisa berubah menjadi “utang berpakaian rapi”.

Dan di sinilah literasi yang tadi disinggung Herman Deru menjadi kunci. Tanpa pemahaman publik, instrumen secanggih apa pun bisa dianggap “aneh-aneh”. Padahal esensinya sederhana, serta mencari cara agar pembangunan tetap jalan, meski APBD sedang tidak longgar.(***)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ingat! Janji Camat Kalidoni Bakal Gotong Royong Perbaiki Jalan M. Zen

    Ingat! Janji Camat Kalidoni Bakal Gotong Royong Perbaiki Jalan M. Zen

    • calendar_month Kamis, 7 Feb 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.167
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang – Camat Kalidoni, Palembang menjanjikan Jalan May Zen yang rusak parah di Kelurahan Sei – Selayur – sepanjang Sei – Selincah akan diperbaiki dengan cara bergotong royong. Gotong Royong tersebut akan dilaksanakan dua minggu lagi secara mandiri. “Perbaikan ini sifatnya hanya untuk memuluskan jalan saja dan memperlancar arus lalu lintas di jalan itu […]

  • Pelindo III- Pushidrosal Teken MoU Keselamatan Pelayaran

    Pelindo III- Pushidrosal Teken MoU Keselamatan Pelayaran

    • calendar_month Kamis, 20 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.043
    • 0Komentar

    BUMN kepelabuhanan Pelindo III terus berkomitmen untuk mendukung keselamatan pelayaran dan meningkatkan layanan lalu lintas kapal di pelabuhan, aksi ini tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang dilakukan antara Pelindo III dengan Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) di Jakarta, pada Rabu (19/05).   Perjanjian kerja sama ini dilakukan langsung oleh Direktur Utama Pelindo III, […]

  • Hujan Deras Semalam, Air Genangi Jalan dan Halaman Rumah Warga di Palembang

    Hujan Deras Semalam, Air Genangi Jalan dan Halaman Rumah Warga di Palembang

    • calendar_month Jumat, 30 Mar 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.290
    • 0Komentar

    Hujan sudah turun disertai angin kencang, kami hanya berdoa semoga hujan tida deras dan segera berhenti,”

  • ‘Melawan Korupsi Untuk Pembangunan’

    ‘Melawan Korupsi Untuk Pembangunan’

    • calendar_month Minggu, 9 Des 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.322
    • 0Komentar

    KORUPSI telah banyak menimbulkan kerugian di berbagai sektor. PerserikatanBangsa-bangsa (PBB) mencatat, korupsi adalah kejahatan serius yang dapat melemahkan pembangunan sosial dan ekonomi di semua lapisan masyarakat. Baik negara, wilayah, maupun masyarakat dirasa tidak kebal terhadap kejahatan ini. Setiap tahunnya, PBB mencatat sekitar $2,6 triliun lenyap akibat korupsi. Angka tersebut setara dengan 5 persen PDB (Pendapatan […]

  • Ini Agenda Kunjungan Presiden Ke Sumsel, Ground Breaking Hilirisasi Batubara

    Ini Agenda Kunjungan Presiden Ke Sumsel, Ground Breaking Hilirisasi Batubara

    • calendar_month Senin, 24 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.370
    • 0Komentar

    PRESIDEN Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada Senin (24/1/2022). Dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Presiden dan rombongan lepas landas menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 sekitar pukul 07.20 WIB. Dikutip dari laman setkab.go.id, setibanya di Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Kota Palembang, Presiden akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan […]

  • Sukseskan Feskom 2024, mata kuliah ini jadi populer, simak yuk!

    Sukseskan Feskom 2024, mata kuliah ini jadi populer, simak yuk!

    • calendar_month Minggu, 9 Jun 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.624
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Prodi ilmu komunikasi Uin Raden Fatah Palembang memiliki tiga penjurusan konsentrasi dimulai dari tahun 2023 hingga saat ini, beberapa konsentrasi penjurusan diantaranya adalah Public Relations (Humas), Marketing Communication dan Produksi TV (PTV). Penjurusan ini banyak diminati oleh mahasiswa ilmu komunikasi tentunya, dengan berbagai mata kuliah yang diampu hingga dosen-dosen dari prodi Ilmu Komunikasi yang […]

expand_less
WordPress Archive OceanWP Popup Login OceanWP Portfolio OceanWP Pro Demos OceanWP Side Panel OceanWP Sticky Footer OceanWP Sticky Header OceanWP White Label OceanWP Woo Popup Ochiz – Photography & Portfolio Elementor Template Kit Oconnor - Law, Lawyer & Attorney WordPress Theme