Piala Dunia 2026 Menggema di Daerah, Sumsel Ikut Larut Euforia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
- visibility 53
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
EUFORIA Piala Dunia 2026 pelan-pelan tidak lagi terasa seperti milik kota-kota besar di benua lain, namun mulai mengalir dan menemukan ruangnya sendiri di daerah-daerah Indonesia, termasuk Sumatera Selatan (Sumsel).
Di Kambang Iwak, Palembang, suasana minggu pagi biasanya di isi dengan langkah santai warga yang berolahraga berubah menjadi ruang dialog yang sarat makna.
Di situlah Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru hadir dalam kegiatan “Bola Gembira Menuju Piala Dunia Bersama Gubernur Sumsel”, sebuah momen kecil yang menyimpan narasi besar tentang bagaimana sepak bola dunia menyentuh kehidupan lokal.
Sepak bola memang selalu punya cara unik untuk menembus batas, sepak bola tidak butuh pintu masuk resmi, tidak menunggu undangan, dan tidak peduli pada jarak geografis.
Ketika Piala Dunia 2026 mulai digaungkan dengan format baru 48 negara dan digelar di tiga negara sekaligus, Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada yang ikut bergerak bukan hanya federasinya dan stadion megah, tetapi juga imajinasi masyarakat dunia hingga di daerah dan pelosok desa.
Di Palembang, imajinasi itu menemukan bentuknya di ruang publik seperti Kambang Iwak, ruang yang selama ini menjadi pertemuan warga untuk nyantai dan berolahraga, dan berinteraksi.
Kini Kambang Iwak juga menjadi pertemuan antara event global yang menyatu dengan harapan lokal.
Dari tempat itulah Herman Deru berbagi antusiasmenya terhadap sepak bola, sekaligus menyampaikan pesan yang sederhana tetapi penuh makna, yaitu, sepak bola adalah olahraga rakyat.
Pesan itu bukan hanya sebagai slogan semata, pasalnya sepak bola memang lahir dari kesederhanaan dan bisa menjadi alat pemersatu bangsa, dari elemen di pelosok kampung hingga elit.
Itulah luar biasanya si kulit bundar (bola) itu, apalagi bola bisa dibuat dari apa saja, misalnya plastik hingga hanya kain bekas yang masukan ke kantong plastik lalu dibentuk bundar menjadi alat untuk bermain bola.
Sementara lapangan bisa digunakan mana saja, bahkan pemainnya tidak mengenal batas status sosial, dari bocah hingga lensia pun bisa bermain, elit hingga rakyat biasa.
Sehingga sepak bola bukan hanya pertandingan, sepak bola bisa juga menjadi ruang sosial pemersatu semua golongan.
Tengok saja disetiap pertandingan dari kelas ‘tarkam’ (antar kampung) hingga kompetisi resmi Nasional dan Internasional selalu ramai.
Herman Deru dalam kesempatan itu juga mengisahkan pengalamannya saat masih menjadi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov Sumsel, ketika itu, ia pernah terlibat dalam tim sepak bola OPD.
Cerita ini memberi warna personal yang membuat sepak bola terasa lebih dekat, bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga pengalaman hidup.
Oleh sebab itu dari ruang birokrasi hingga lapangan sederhana, sepak bola tetap menghadirkan hal – hal yang sama, yaitu ‘kebersamaan’ sebagai kata kunci.
Jika dilihat lebih luas lagi, momen seperti inilah sebenarnya memperlihatkan bagaimana sebuah event global bisa diterjemahkan ke dalam konteks lokal.
Memang Piala Dunia 2026 berlangsung jauh dari Indonesia, tetapi gaungnya cukup luar bisa, bisa dirasakan hingga di Palembang melalui siaran televisi Nasional yang memegang hak siar resmi.
Oleh karena itu media sangat penting, sebab media menjadi jembatan antara panggung dunia hingga ke daerah pelosok.
Namun yang lebih menarik lagi bukan hanya akses tontonannya saja, melainkan dampaknya terhadap psikologi sosial masyarakat.
Apalagi ketika sebuah komunitas ikut larut dalam euforia global, selalu ada efek ikutannya, misalnya rasa bangga, rasa ingin terlibat, bahkan dorongan untuk berprestasi.
Setidaknya dengan ajang Piala Dunia 2026 bisa membuka asa menjadi kegiatan ‘Bola Gembira’ sehingga euforia Piala Dunia bisa menjadi pemantik lahirnya bibit-bibit muda sepak bola dari daerah terutama di Sumsel.
Inilah asanya, karna olahraga itu bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga bisa menjadi alat inspirasi.
Bahkan anak-anak yang menonton Piala Dunia bisa saja ke depannya menjadi pemain bola bahkan bisa menjadi sebelas pemain inti di Tim Nasional (Garuda) Indonesia U -17, U-20, U – 23 hingga senior.
Namun perlu diingat juga, tentu tidak cukup dengan inspirasi saja. Prestasi dan menciptakan bibit itu perlu ditopang ekosistem dengan pembinaan yang baik, fasilitas yang memadai, serta ruang sosial yang mendukung.
Maka dari itu, Kambang Iwak menjadi simbol kecil dari ruang publik yang hidup, bukan saja di stadion megah, tetapi tempat dimana interaksi sosial itu terjadi setiap hari.
Ketika ruang seperti Kambang Iwak ikut disambungkan dengan narasi besar Piala Dunia, maka yang terjadi bukan hanya euforia sesaat, tetapi juga perluasan makna olahraga itu sendiri.
Inklusif
Piala Dunia 2026 dengan format barunya juga memberi pesan tersendiri, dunia sepak bola sedang berubah menjadi lebih inklusif.
Dengan bertambahnya jumlah peserta menjadi 48 negara, semakin banyak bangsa yang punya kesempatan tampil di panggung terbesar. Secara simbolik, tentu hal ini sejalan dengan semangat yang juga diharapkan tumbuh di daerah, apalagi kesempatan untuk maju tidak boleh hanya dimonopoli oleh pusat-pusat besar.
Di Sumsel, pesan itu bisa menjadi relevan karena Sumsel memiliki sejarah panjang dalam olahraga, termasuk sepak bolanya, yang hidup di berbagai level masyarakat.
Dari kompetisi lokal hingga klub-klub daerah, bahkan di Kota Palembang pernah lahir klub sepak bola besar di era galatama, yaitu Krama Yudha Tiga Berlian bahkan pernah beberapa kali mengangkat tropi di kompetisi, ada pula PS Pusri. Selain itu ada pula Sriwijaja FC (SFC) ‘ Laskar Wong Kito’ yang belum hilang dari ingatan kita, sebab SFC juga pernah bikin bangga Sumsel menjuarai kompetisi Liga Indonesia, Piala Presiden bahkan lagi ada Sriwidjaya FC dikenal hingga di Asean.
Oleh sebab itu, potensi untuk maju masih tetap ada, yang jelas ada konsistensi pembinaan dan ruang yang terus menjaga semangat agar tetap hidup.
Oleh sebab itu setidaknya lewat euforia, Piala Dunia 2026 mulai terasa di Sumsel, bukan hanya soal ikut meramaikan ajang global. Namun lebih dari itu, yaitu tentang bagaimana sebuah daerah membaca peluang dari peristiwa dunia.
Bagaimana pula masyarakatnya tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa menjadi bagian dari ekosistem semangat yang lebih besar.
Di antara langkah-langkah pagi di Kambang Iwak, di antara obrolan santai warga dan suara tawa anak-anak, ada satu hal yang perlahan tumbuh, yaitu tentang mimpi besar yang bisa dimulai dari tempat sederhana.
Sepak bola, memang merakyat karena selalu kembali ke akar paling dasarnya siapa lagi kalau bukan rakyat yang ikut meramaikannya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
