Pendidikan

SMK Sumsel Didorong Jadi “Iron ManWong Kito”

ist

SEJAK awal kegiatan LKS SMK Sumsel 2026 dimulai di SMK Negeri 2 Palembang, suasananya terlihat sudah dipenuhi siswa dari berbagai daerah yang datang membawa keterampilan masing-masing untuk diuji di tingkat provinsi.

Ada yang datang dengan wajah serius, ada yang santai, ada juga yang kelihatannya sudah “mode fokus total” seperti mau menghadapi ujian hidup, padahal ini baru lomba keterampilan.

Tapi, memang begitulah Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Sumatera Selatan 2026 ini. Bukan hanya acara tahunan yang formal dan rapi di atas kertas, tapi arena tempat anak SMK unjuk kemampuan, dari teknik, teknologi, sampai keterampilan yang nanti ujungnya diharapkan bisa dipakai di dunia nyata.

Di tengah suasana itu, Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang, memberi pesan yang cukup tegas, tapi disampaikan dengan gaya yang membumi. Ia tidak hanya bicara soal lomba, tapi soal arah.

“Bangunlah teknologi yang bisa membantu petani karet kita, ciptakan mesin yang meringankan kerja nelayan Sungai Musi, dan kembangkan aplikasi yang mengangkat UMKM lokal wong kito,” ujarnya.

Kalau diterjemahkan ke bahasa santai, kira-kira begini maksudnya, jangan sampai anak SMK cuma jago di bengkel atau lab, tapi bingung ketika disuruh bantu menyelesaikan masalah di lapangan.

Dan dari situ muncul gambaran yang agak menarik kalau boleh sedikit dibumbui imajinasi, anak SMK Sumsel ini seperti sedang disiapkan jadi “Iron Man versi Wong Kito”.

Bukan pakai armor futuristik atau terbang di langit, tapi pakai solder, kabel, mesin, dan laptop yang kadang kipasnya bunyi lebih keras dari suara kelas.

Iron Man versi ini kerjanya lebih membumi, bantu petani karet supaya kerja lebih efisien, bantu nelayan Sungai Musi supaya alat tangkapnya lebih efektif, atau bantu UMKM lokal biar dagangannya bisa naik kelas, bukan cuma naik status WhatsApp.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan, Mondyaboni, menjelaskan LKS tahun ini mempertandingkan 31 bidang lomba. Seperti 31 “ruang latihan” yang berbeda-beda, masing-masing punya tantangan sendiri, tapi ujungnya sama, menguji kemampuan siswa SMK.

Ada yang serius mengerjakan teknis, ada yang sibuk merancang, ada yang mungkin kelihatannya diam tapi pikirannya lagi “full loading”. Namanya juga kompetisi, semua orang punya mode masing-masing.

Di sisi lain, LKS ini juga bukan akhir cerita. Para pemenang dari tingkat provinsi akan melanjutkan ke LKS tingkat nasional yang dijadwalkan 26 Juli hingga 1 Agustus 2026. Jadi apa yang terjadi di Palembang ini sebenarnya baru “bab latihan”, bukan finalnya.

Bengkel ide

Kalau dilihat dari sudut yang lebih santai, LKS ini seperti semacam “audisi besar-besaran” calon tukang solusi. Bukan audisi nyanyi atau akting, tapi audisi kemampuan bikin sesuatu yang bisa dipakai orang lain.

Dan di sinilah pesan Wagub terasa masuk akal. Karena kalau ilmu hanya berhenti di sekolah, ya dia cuma jadi teori yang rapi di buku. Tapi kalau bisa turun ke masyarakat, dia bisa berubah jadi alat bantu yang benar-benar terasa manfaatnya.

Petani karet tidak butuh teori panjang, mereka butuh alat yang memudahkan kerja. Nelayan Sungai Musi tidak butuh penjelasan rumit, mereka butuh solusi yang bisa dipakai langsung. UMKM juga tidak butuh jargon teknologi, mereka butuh cara agar dagangannya lebih laku.

Oleh sebab itu, di tengah semua itu, SMK jadi titik penting. Tempat di mana teori pelan-pelan harus belajar “turun ke bumi”.

Kalau boleh ditarik dengan gaya santai, mungkin begini, SMK Sumsel sekarang sedang diminta bukan cuma jadi tempat belajar, tapi juga jadi “bengkel ide” yang hasilnya bisa langsung dipakai masyarakat.

Bukan berarti semua harus langsung jadi sempurna. Tapi setidaknya, arah besarnya jelas ilmu bukan untuk disimpan, tapi untuk dipakai.

Sehingga dari LKS SMK Sumsel 2026 harapannya bukan cuma lahir juara lomba, tapi juga lahir generasi yang kalau melihat masalah di sekitar, refleksnya bukan “ini sulit”, tapi “ini bisa kita bantu bagaimana ya?”

Itu mungkin versi paling sederhana dari “Iron Man Wong Kito” yang dimaksud bukan superhero film, tapi anak SMK yang pelan-pelan belajar jadi solusi nyata di dunia nyata.(***)

 

To Top