Selasa, 22 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan Kaki Bukit » Palembang Belajar dari Negeri yang Hidup di Bawah Laut

Palembang Belajar dari Negeri yang Hidup di Bawah Laut

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • visibility 53
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

HUJAN di Palembang kadang hanya turun satu jam, tetapi dampaknya bisa terasa sampai malam.

Saya sendiri mengalaminya kemarin sore, saat hendak menjemput anak kuliah, motor yang saya kendarai tiba-tiba mogok setelah menerobos genangan di kawasan Jalan Patal, Simpang Tiga Sekojo.

Air rupanya masuk hingga ke bagian busi. Hujan sebenarnya sudah reda, tetapi air masih menguasai badan jalan. Akhirnya saya memilih menepi dan berteduh di bawah teras toko bersama pengendara lain yang bernasib serupa.

Pemandangan seperti itu bukan lagi cerita asing di Palembang.

Di beberapa sudut kota, genangan bahkan seperti tamu lama yang selalu tahu jalan pulang.

Ironisnya, semua itu terjadi di kota yang sejak dulu hidup dari air.

Palembang bukan kota yang lahir jauh dari sungai. Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, kota ini tumbuh di antara rawa, anak sungai, dan aliran Musi yang menjadi urat nadi perdagangan. Orang-orang tua dahulu membangun rumah panggung bukan cuma tradisi, melainkan cara membaca alam.

Mereka memahami satu hal sederhana, air tidak selalu bisa dilawan.

Namun zaman berubah. Rawa perlahan ditimbun, beton terus bertambah, saluran menyempit, sementara ruang air semakin sedikit. Kawasan pinggiran yang dahulu dipenuhi sawah, kebun, dan rawa penyangga kini berubah menjadi deretan perumahan baru.

Kota terus tumbuh, tetapi air kehilangan tempat singgah.

Di beberapa titik, kolam retensi dan kawasan resapan belum mampu mengimbangi laju pembangunan. Anak-anak sungai yang dahulu menjadi jalur alami aliran air sebagian mulai menyempit, bahkan ada yang perlahan menghilang tertutup pembangunan.

Ketika hujan deras turun bersamaan dengan pasang sungai, genangan akhirnya seperti menemukan jalannya sendiri.

Karena itulah langkah Pemerintah Kota Palembang membuka diskusi dengan Pemerintah Belanda terasa menarik untuk diperhatikan.

Kamis (7/5/2026), Wali Kota Palembang Ratu Dewa melakukan zoom meeting bersama Senior Climate Affairs and Water Management Officer Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Indonesia, Nur An-Nisa Milyana.

Dalam pertemuan itu, Pemkot Palembang membahas peluang kerja sama terkait pengendalian banjir dan penanganan genangan air.

Sekilas memang terlihat seperti rapat pemerintahan biasa. Tetapi sesungguhnya ada simbol besar dibalik pertemuan tersebut.

Palembang kota air di tepian Musi yang kini mulai belajar kepada Belanda, negara yang sebagian wilayahnya justru berada di bawah permukaan laut.

Belanda dikenal memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan air. Mereka membangun tanggul, kanal, pompa air, hingga sistem tata kota yang dirancang agar air tetap memiliki ruang bergerak.

Di negara itu, air tidak hanya dipandang sebagai ancaman, tetapi bagian dari kehidupan kota, karena itu banyak negara dan kota pernah belajar kepada mereka.

Jakarta, misalnya, pernah menggandeng Belanda dalam proyek penataan kawasan pesisir dan pengendalian rob. Semarang juga menjalin kerja sama dalam pengelolaan banjir pesisir. Sejumlah kota di Vietnam dan Bangladesh pun mempelajari pendekatan Belanda dalam menghadapi ancaman tenggelam akibat perubahan iklim.

Meski begitu, hasilnya tidak selalu instan.

Sebagian kawasan memang mengalami perbaikan pengendalian banjir dan rob.

Namun banyak proyek juga menghadapi tantangan besar, mulai dari pembiayaan, tata ruang, hingga konsistensi pelaksanaan di lapangan.

Artinya, belajar kepada Belanda bukan jaminan sebuah kota langsung bebas banjir.

Teknologi hanyalah alat, sedangkan keberhasilannya tetap bergantung pada keseriusan pemerintah, keberlanjutan kebijakan, serta keberanian menjaga keseimbangan pembangunan dan lingkungan.

Dalam diskusi tersebut, Kepala Dinas PUPR dan Bappeda Litbang Kota Palembang memaparkan berbagai persoalan utama penyebab banjir di kota ini. Mulai dari kapasitas drainase yang terbatas, curah hujan tinggi, pengaruh pasang surut sungai, hingga persoalan sampah di saluran air.

Namun menyalahkan masyarakat semata tentu juga tidak cukup adil.

Sebab persoalan banjir di kota besar hampir selalu lahir dari banyak faktor yang saling bertumpuk, misalnya pembangunan yang melaju cepat, berkurangnya ruang resapan, alih fungsi lahan, drainase yang tertinggal, hingga sungai-sungai kecil yang perlahan kehilangan ruang hidupnya.

Dan Palembang hari ini sedang menghadapi semuanya sekaligus.

Air

Belajar dengan Belanda juga seharusnya tidak dimaknai hanya sekadar mendatangkan proyek, seminar, atau studi banding yang ramai di awal lalu perlahan menghilang tanpa kabar.

Masyarakat  sudah terlalu sering melihat kerja sama besar berhenti di meja presentasi dan tumpukan proposal.

Karena itu tantangan terbesar Palembang sebenarnya bukan memulai diskusi, melainkan menjaga keseriusan setelah diskusi selesai.

Sebab kota ini tidak kekurangan rencana,  yang sering hilang justru konsistensi menjalankan solusi dalam jangka panjang.

Pernyataan Wali Kota Palembang Ratu Dewa dalam pertemuan itu setidaknya memberi sinyal  persoalan banjir ingin ditangani lebih serius dan terintegrasi.

“Penanggulangan banjir ini harus terintegrasi dengan seluruh stakeholder terkait. Karena itu saya minta ada progres nyata dan segera dieksekusi,” tegas Ratu Dewa.

Kalimatnya progres nyata bahkan menjadi penting, pasalnya masyarakat hari ini tidak lagi hanya ingin mendengar rencana. Masyarakat Palembang ingin melihat suatu perubahan besar, yaitu genangan berkurang, drainase berfungsi, sungai lebih bersih, serta pembangunan kota yang mulai lebih ramah terhadap air.

Pihak Kedutaan Besar Belanda pun melihat peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama Palembang.

“Belanda memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan air dan pengendalian banjir. Kami melihat ada peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama Pemerintah Kota Palembang,” ujar Nur An-Nisa Milyana.

Palembang sebenarnya punya modal sejarah untuk memahami itu. Kota ini sejak dulu hidup bersama sungai. Sayangnya modernisasi kadang membuat kota lupa pada karakter alamnya sendiri.

Rawa ditutup.

Sungai dipersempit.

Air dipaksa pergi terlalu cepat dari kota yang terus dipenuhi beton.

Lantas ketika hujan turun dan genangan datang kembali, semua orang sibuk mencari siapa yang salah.

Padahal mungkin persoalan utamanya bukan semata hujan, melainkan kota yang perlahan kehilangan ruang untuk air.

Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar yang sedang dicari Palembang dari negeri yang hidup di bawah laut itu, air tidak selalu harus ditakuti.

Kadang ia hanya perlu diberi ruang untuk kembali bernapas. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Usai Pembukaan Asian Games 2018 Listrik Padam,PLN Minta Maaf kepada Masyarakat  Palembang

    Usai Pembukaan Asian Games 2018 Listrik Padam,PLN Minta Maaf kepada Masyarakat  Palembang

    • calendar_month Minggu, 19 Agt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 669
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – Padam lampu sebagian Kota Palembang terutama di seputaran Jembatan Ampera usai Pembukaan Asian Games 2018 semalam membuat tanda tanya masyarakat. PLN melalui Deputi Manager Hukum dan Humas PLN wilayah S2JB, Rosmalina mengakui selang beberapa jam setelah event Asian Games 2018 resmi dibuka, terjadi padam di beberapa daerah di Kota Palembang. Daerah yang […]

  • Teken Kesepakatan dengan BP2MI, Tak Ada Pekerja Migran Asal Muba Tanpa Prosedural

    Teken Kesepakatan dengan BP2MI, Tak Ada Pekerja Migran Asal Muba Tanpa Prosedural

    • calendar_month Rabu, 16 Nov 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.091
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, Jakarta – Dalam upaya perluasan peluang kerja keluar negeri, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin menandatangani Nota Kesepahaman antara dengan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Pusat, di Aula Abdu Rahman BP2MI Jakarta, Selasa (15/11/2022).   Agenda penandatanganan MoU yang dilakukan Pj Bupati Muba Drs H Apriyadi MSi diwakili oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan […]

  • Vaksinasi Palembang Capai Target, Pemkot Terapkan PPKM Level 1

    Vaksinasi Palembang Capai Target, Pemkot Terapkan PPKM Level 1

    • calendar_month Kamis, 9 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.528
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kota (Pemkot) Palembang mengumumkan kondisi wilayah sudah aman penyebaran Covid-19 dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1. “Palembang sudah menerapkan PPKM Level 1, dari Instruksi Mendagri ditujukan untuk Gubernur dan Wali Kota yang bakal segera diteruskan lewat surat edaran,” ujar Wali Kota Palembang H Harnojoyo, Rabu (8/6/2022). Penerapan PPKM level 1 juga […]

  • PSR OKI jadi Terluas di RI, OKI Dianugerahi Penghargaan

    PSR OKI jadi Terluas di RI, OKI Dianugerahi Penghargaan

    • calendar_month Jumat, 8 Sep 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.029
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi yang terluas di Indonesia. Per Agustus 2023, seluas 32.297 Hektare lahan sawit rakyat diremajakan. Atas capaian tersebut, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia menganugerahi Pemkab OKI penghargaan perkebunan 2023 kategori Pemerintah Daerah dengan realisasi Program Peremajaan Sawit Rakyat terluas dengan […]

  • Kapolda Sumsel Berikan Pin Emas Kepada Personel yang Berprestasi

    Kapolda Sumsel Berikan Pin Emas Kepada Personel yang Berprestasi

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 765
    • 0Komentar

      KEPALA Kepolisian Daerah Sumatera Selatan Irjen. Pol. Drs. Toni Harmanto, M.H., memimpin apel pagi sekaligus memberikan pin emas dan piagam penghargaan kepada personel yang berprestasi yang digelar di Lapangan Apel Mapolda Sumsel Jalan Jenderal Sudirman KM 3,5 Palembang, Senin (15/11/2021). Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakapolda Sumsel Brigjen. Pol. Rudi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H. […]

  • Filosofi Bola – Hidup Itu Mirip Jadwal FIFA Matchday, dari Kekecewaan jadi Kemenangan

    Filosofi Bola – Hidup Itu Mirip Jadwal FIFA Matchday, dari Kekecewaan jadi Kemenangan

    • calendar_month Rabu, 27 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.107
    • 0Komentar

    PEMBATALAN  pertandingan FIFA Matchday antara Timnas Indonesia vs Kuwait tanggal 21 Agustus 2025 kemarin memang bikin banyak orang kaget. Misalnya, tiket sudah dibeli, jersey sudah dicuci, bahkan sebagian Garuda Fans sudah siap bikin koreografi “Selamat Datang Kuwait”. Eh, tiba-tiba datang surat dari FA Kuwait pertandingan dibatalkan sepihak. Rasanya mirip kayak sudah siap kencan, parfum sudah […]

expand_less
WordPress Archive AntiqueMall – Antique Store Marketplace WordPress Theme Antomi – Multipurpose Theme for WooCommerce WordPress Anubia | Smoking and Hookah Bar WordPress Theme Anwalt – Law Firm and Lawyer WordPress Theme AnyCar – Automotive, Dealership WordPress Theme Anymag – Magazine Style WordPress Blog AnyWhere Elementor Pro WordPress Plugin AOi – Software & Technology WordPress Theme Aoki – Creative Design Agency WordPress Theme Aonsil – Business & Consulting Elementor Template Kit