Senin, 12 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan Kaki Bukit » Palembang Belajar dari Negeri yang Hidup di Bawah Laut

Palembang Belajar dari Negeri yang Hidup di Bawah Laut

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • visibility 66
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

HUJAN di Palembang kadang hanya turun satu jam, tetapi dampaknya bisa terasa sampai malam.

Saya sendiri mengalaminya kemarin sore, saat hendak menjemput anak kuliah, motor yang saya kendarai tiba-tiba mogok setelah menerobos genangan di kawasan Jalan Patal, Simpang Tiga Sekojo.

Air rupanya masuk hingga ke bagian busi. Hujan sebenarnya sudah reda, tetapi air masih menguasai badan jalan. Akhirnya saya memilih menepi dan berteduh di bawah teras toko bersama pengendara lain yang bernasib serupa.

Pemandangan seperti itu bukan lagi cerita asing di Palembang.

Di beberapa sudut kota, genangan bahkan seperti tamu lama yang selalu tahu jalan pulang.

Ironisnya, semua itu terjadi di kota yang sejak dulu hidup dari air.

Palembang bukan kota yang lahir jauh dari sungai. Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, kota ini tumbuh di antara rawa, anak sungai, dan aliran Musi yang menjadi urat nadi perdagangan. Orang-orang tua dahulu membangun rumah panggung bukan cuma tradisi, melainkan cara membaca alam.

Mereka memahami satu hal sederhana, air tidak selalu bisa dilawan.

Namun zaman berubah. Rawa perlahan ditimbun, beton terus bertambah, saluran menyempit, sementara ruang air semakin sedikit. Kawasan pinggiran yang dahulu dipenuhi sawah, kebun, dan rawa penyangga kini berubah menjadi deretan perumahan baru.

Kota terus tumbuh, tetapi air kehilangan tempat singgah.

Di beberapa titik, kolam retensi dan kawasan resapan belum mampu mengimbangi laju pembangunan. Anak-anak sungai yang dahulu menjadi jalur alami aliran air sebagian mulai menyempit, bahkan ada yang perlahan menghilang tertutup pembangunan.

Ketika hujan deras turun bersamaan dengan pasang sungai, genangan akhirnya seperti menemukan jalannya sendiri.

Karena itulah langkah Pemerintah Kota Palembang membuka diskusi dengan Pemerintah Belanda terasa menarik untuk diperhatikan.

Kamis (7/5/2026), Wali Kota Palembang Ratu Dewa melakukan zoom meeting bersama Senior Climate Affairs and Water Management Officer Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Indonesia, Nur An-Nisa Milyana.

Dalam pertemuan itu, Pemkot Palembang membahas peluang kerja sama terkait pengendalian banjir dan penanganan genangan air.

Sekilas memang terlihat seperti rapat pemerintahan biasa. Tetapi sesungguhnya ada simbol besar dibalik pertemuan tersebut.

Palembang kota air di tepian Musi yang kini mulai belajar kepada Belanda, negara yang sebagian wilayahnya justru berada di bawah permukaan laut.

Belanda dikenal memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan air. Mereka membangun tanggul, kanal, pompa air, hingga sistem tata kota yang dirancang agar air tetap memiliki ruang bergerak.

Di negara itu, air tidak hanya dipandang sebagai ancaman, tetapi bagian dari kehidupan kota, karena itu banyak negara dan kota pernah belajar kepada mereka.

Jakarta, misalnya, pernah menggandeng Belanda dalam proyek penataan kawasan pesisir dan pengendalian rob. Semarang juga menjalin kerja sama dalam pengelolaan banjir pesisir. Sejumlah kota di Vietnam dan Bangladesh pun mempelajari pendekatan Belanda dalam menghadapi ancaman tenggelam akibat perubahan iklim.

Meski begitu, hasilnya tidak selalu instan.

Sebagian kawasan memang mengalami perbaikan pengendalian banjir dan rob.

Namun banyak proyek juga menghadapi tantangan besar, mulai dari pembiayaan, tata ruang, hingga konsistensi pelaksanaan di lapangan.

Artinya, belajar kepada Belanda bukan jaminan sebuah kota langsung bebas banjir.

Teknologi hanyalah alat, sedangkan keberhasilannya tetap bergantung pada keseriusan pemerintah, keberlanjutan kebijakan, serta keberanian menjaga keseimbangan pembangunan dan lingkungan.

Dalam diskusi tersebut, Kepala Dinas PUPR dan Bappeda Litbang Kota Palembang memaparkan berbagai persoalan utama penyebab banjir di kota ini. Mulai dari kapasitas drainase yang terbatas, curah hujan tinggi, pengaruh pasang surut sungai, hingga persoalan sampah di saluran air.

Namun menyalahkan masyarakat semata tentu juga tidak cukup adil.

Sebab persoalan banjir di kota besar hampir selalu lahir dari banyak faktor yang saling bertumpuk, misalnya pembangunan yang melaju cepat, berkurangnya ruang resapan, alih fungsi lahan, drainase yang tertinggal, hingga sungai-sungai kecil yang perlahan kehilangan ruang hidupnya.

Dan Palembang hari ini sedang menghadapi semuanya sekaligus.

Air

Belajar dengan Belanda juga seharusnya tidak dimaknai hanya sekadar mendatangkan proyek, seminar, atau studi banding yang ramai di awal lalu perlahan menghilang tanpa kabar.

Masyarakat  sudah terlalu sering melihat kerja sama besar berhenti di meja presentasi dan tumpukan proposal.

Karena itu tantangan terbesar Palembang sebenarnya bukan memulai diskusi, melainkan menjaga keseriusan setelah diskusi selesai.

Sebab kota ini tidak kekurangan rencana,  yang sering hilang justru konsistensi menjalankan solusi dalam jangka panjang.

Pernyataan Wali Kota Palembang Ratu Dewa dalam pertemuan itu setidaknya memberi sinyal  persoalan banjir ingin ditangani lebih serius dan terintegrasi.

“Penanggulangan banjir ini harus terintegrasi dengan seluruh stakeholder terkait. Karena itu saya minta ada progres nyata dan segera dieksekusi,” tegas Ratu Dewa.

Kalimatnya progres nyata bahkan menjadi penting, pasalnya masyarakat hari ini tidak lagi hanya ingin mendengar rencana. Masyarakat Palembang ingin melihat suatu perubahan besar, yaitu genangan berkurang, drainase berfungsi, sungai lebih bersih, serta pembangunan kota yang mulai lebih ramah terhadap air.

Pihak Kedutaan Besar Belanda pun melihat peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama Palembang.

“Belanda memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan air dan pengendalian banjir. Kami melihat ada peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama Pemerintah Kota Palembang,” ujar Nur An-Nisa Milyana.

Palembang sebenarnya punya modal sejarah untuk memahami itu. Kota ini sejak dulu hidup bersama sungai. Sayangnya modernisasi kadang membuat kota lupa pada karakter alamnya sendiri.

Rawa ditutup.

Sungai dipersempit.

Air dipaksa pergi terlalu cepat dari kota yang terus dipenuhi beton.

Lantas ketika hujan turun dan genangan datang kembali, semua orang sibuk mencari siapa yang salah.

Padahal mungkin persoalan utamanya bukan semata hujan, melainkan kota yang perlahan kehilangan ruang untuk air.

Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar yang sedang dicari Palembang dari negeri yang hidup di bawah laut itu, air tidak selalu harus ditakuti.

Kadang ia hanya perlu diberi ruang untuk kembali bernapas. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Praktik Risiko Siber Kroll Umumkan Karyawan Baru untuk Dukung Ekspansi APAC

    Praktik Risiko Siber Kroll Umumkan Karyawan Baru untuk Dukung Ekspansi APAC

    • calendar_month Kamis, 14 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 786
    • 0Komentar

    KROLL, penyedia layanan dan produk digital utama dunia yang terkait dengan penilaian, tata kelola, risiko, dan transparansi, hari ini mengumumkan perluasan layanan risiko siber di Asia Pasifik dengan beberapa karyawan baru strategis baru-baru ini untuk meningkatkan kemampuan kelas dunia yang ada. Pengalaman perusahaan menangani lebih dari 3.000 insiden secara global pada tahun lalu telah memungkinkan […]

  • Geliat Dollar AS Berpontesi Salip Uang Garuda Lagi

    Geliat Dollar AS Berpontesi Salip Uang Garuda Lagi

    • calendar_month Selasa, 19 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.024
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Jakarta – Beberapa hari kemarin Uang Garuda mampu menggoyangkan perkasaan dollar AS, namun di perdagangan Selasa, [19/3/2019] Uang Garuda [Rupiah] dalam keadaan labil, dan berpotensi terancam kembali ditekan  dollar AS. Kondisi ini terlihat pada perdagangan spot hari ini. Pasalnya, geliat dolar AS untuk berbalik melawan rupiah mulai jelas terlihat dari menipisnya apresiasi rupiah. Jika pada pembukaan […]

  • Dorong Produksi Budidaya Berbasis Kearifan Lokal Meningkat, KKP Bantu Alat Berat Excavator di Tulang Bawang

    Dorong Produksi Budidaya Berbasis Kearifan Lokal Meningkat, KKP Bantu Alat Berat Excavator di Tulang Bawang

    • calendar_month Sabtu, 27 Agt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.118
    • 0Komentar

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) kembali mendistribusikan bantuan alat berat excavator di Kabupaten Tulang Bawang. Penyaluran bantuan tersebut dimaksudkan untuk mendukung pengerjaan kolam dan jaringan irigasi agar produksi budidaya meningkat.   Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, mengatakan KKP terus menginisiasi akselerasi program terobosan pada sub sektor […]

  • Semen Baturaja Salurkan Bantuan Alat Kesehatan Melalui Satgas Penanggulangan Covid-19 Wil.OKU
    CSR

    Semen Baturaja Salurkan Bantuan Alat Kesehatan Melalui Satgas Penanggulangan Covid-19 Wil.OKU

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.903
    • 0Komentar

    Wabah virus Corona (Covid-19) telah menyebar di lebih dari 282 kota/kabupaten di Indonesia. Jumlah ini terus bertambah, meskipun sudah ada penurunan kurva kasus positif dan naiknya kasus sembuh akibat Covid-19 ini.   PER tanggal 26 April 2020, tercatat sebanyak 129 kasus positif Covid-19 di Provinsi Sumatera Selatan yang tersebar di berbagai daerah. Dalam upaya pencegahan […]

  • Redam Konflik, FKUB Bakal Road Show ke Daerah Sesuai Instruksi Gubernur

    Redam Konflik, FKUB Bakal Road Show ke Daerah Sesuai Instruksi Gubernur

    • calendar_month Selasa, 7 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 894
    • 0Komentar

    kerukunan umat beragama menjadi sangat penting dijaga bersama dalam rangka suksesnya dua agenda besar, yakni pelaksanaan pilkada serentak dan Asian Games 2018

  • Inspektorat Kawal Ketat Dana Penanganan Covid-19

    Inspektorat Kawal Ketat Dana Penanganan Covid-19

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.141
    • 0Komentar

    APARATUR Pengawas Internal Pemerintah (APIP) atau Inspektorat Kabupaten OKI akan melakukan pendampingan dan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan dan penggunaan anggaran penanggulangan wabah virus corona (Covid-19). Inspektur Kabupaten OKI, Syarifudin, SP, M. Si mengatakan dalam pengawasan ini pihaknya Didukung penuh oleh Badan Pemeriksa Keuangan & Pembangunan  (BPKP) Perwakilan Sumsel dan koordinasi intensif dengan Kejari dan Polres OKI […]

expand_less
WordPress Archive AntiqueMall – Antique Store Marketplace WordPress Theme Antomi – Multipurpose Theme for WooCommerce WordPress Anubia | Smoking and Hookah Bar WordPress Theme Anwalt – Law Firm and Lawyer WordPress Theme AnyCar – Automotive, Dealership WordPress Theme Anymag – Magazine Style WordPress Blog AnyWhere Elementor Pro WordPress Plugin AOi – Software & Technology WordPress Theme Aoki – Creative Design Agency WordPress Theme Aonsil – Business & Consulting Elementor Template Kit