Kamis, 15 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan-Kaki Bukit » Pramuka, Swasembada Pangan dan “Pelita Kecil” yang Kita Butuhkan

Pramuka, Swasembada Pangan dan “Pelita Kecil” yang Kita Butuhkan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
  • visibility 43
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERINGATAN Hari Pramuka ke-65 di Sumatera Selatan tahun ini mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.”

Tema itu memang patut diapresiasi, Wakil Gubernur Sumatera Selatan H. Cik Ujang juga mendorong Gerakan Pramuka mengambil bagian dalam agenda tersebut.

Ia menekankan pentingnya pendidikan, keterampilan, teknologi, kewirausahaan, pengelolaan sumber daya, serta kesiapan generasi muda untuk ikut menyelesaikan persoalan di lingkungannya.

Namun, ada satu pertanyaan yang layak diajukan, yaitu setelah dorongan itu disampaikan, apa langkah konkretnya?

Sebab, swasembada pangan tidak lahir dari tema, pidato, atau seremoni. Ia membutuhkan proses yang panjang, target yang jelas, program yang konsisten, pelaksana, pendampingan, teknologi, serta evaluasi.

Kita bisa belajar dari sejarah,  karena Indonesia pernah mencapai swasembada beras pada 1984. Pencapaian tersebut tidak muncul secara tiba-tiba.

Peningkatan produksi didukung berbagai kebijakan dan program, antara lain intensifikasi, penyuluhan pertanian, penyediaan sarana produksi, kredit usaha tani, pendampingan penyuluh, infrastruktur, teknologi, serta kebijakan harga dan pemasaran. Program Bimas, misalnya, menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut.

Pelajarannya bukan tentang siapa yang berkuasa pada masa itu. Pelajarannya adalah swasembada membutuhkan desain pembangunan yang dikerjakan secara bertahap dan konsisten.

Oleh sebab itu, ketika Pramuka Sumatera Selatan didorong ikut mendukung swasembada pangan, jangan berhenti pada ajakan agar anak-anak muda mencintai pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan.

Berikan mereka proyek nyata.

Mengapa tidak dibuat semacam “Pelita Pramuka Pangan” di Sumatera Selatan? Bukan Pelita dalam pengertian politik masa lalu, melainkan model program bertahap yang sederhana, realistis dan dapat diukur.

Tahun pertama, misalnya, setiap kabupaten dan kota memilih sejumlah gugus depan sebagai percontohan. Mereka tidak hanya diberi tugas menanam, tetapi diberi ruang belajar, seperti lahan yang memungkinkan, bibit, peralatan dasar, pendamping dari penyuluh pertanian, serta dukungan teknologi dari perguruan tinggi atau pihak terkait.

Anggota Pramuka kemudian belajar dari hulu hingga hilir, memilih komoditas, mengolah tanah, menggunakan teknologi, mengatur air, menghitung biaya produksi, memanen, mengolah hasil, hingga memasarkannya.

Di situlah pendidikan kepramukaan bisa menjadi nyata. Apalagi seorang anggota Pramuka tidak hanya belajar tentang kemandirian dalam teori, tetapi mengalami sendiri proses menghasilkan pangan.

Dan ia juga, tidak hanya mendengar tentang kewirausahaan, tetapi belajar menghitung apakah hasil kebunnya memberikan nilai ekonomi.

Program juga tidak perlu langsung besar. Mulailah dari satu gugus depan, kemudian sepuluh, lalu seratus. Program yang berhasil diperluas,  dan yang tidak berhasil dievaluasi.

Ukuran keberhasilannya pun sederhana, berapa gugus depan yang memiliki kebun pangan, berapa luas lahan yang dimanfaatkan, berapa hasil panen, berapa anggota yang dilatih, berapa produk yang terjual, dan berapa nilai ekonomi yang dihasilkan.

Dengan ukuran seperti itu, masyarakat dapat melihat apakah tema swasembada pangan benar-benar berubah menjadi gerakan atau hanya menjadi jargon tahunan.

Pramuka juga tidak perlu dipaksa menjadi organisasi pertanian, sebab pramuka adalah ruang pendidikan.

Sedangkan pertanian, perikanan, perkebunan, teknologi dan kewirausahaan dapat menjadi media untuk membentuk generasi muda yang mandiri dan produktif.

Pemerintah menyediakan kebijakan dan dukungan. Dinas teknis menyediakan pendampingan. Sekolah menyediakan ruang pendidikan. Perguruan tinggi membantu teknologi. Dunia usaha dapat membuka akses pasar dan hilirisasi. Pramuka menjadi ruang pembentukan generasi mudanya.

Pembagian peran seperti itu jauh lebih masuk akal daripada membebankan seluruh agenda swasembada pangan kepada Pramuka.

Maka dari itu, jangan hanya beri mereka tema tapi, berilah target. Jangan juga hanya meminta mereka mencintai pertanian, tapi beri mereka ruang untuk belajar bertani.

Jangan hanya berbicara tentang teknologi, tapi juga perlu memberikan teknologi yang bisa digunakan, selain itu jangan hanya bicara kewirausahaan, bantu mereka menemukan pasar.

Dan jangan menunggu akhir program untuk bertanya apakah berhasil, namun perlu menentukan ukurannya sejak awal.

Sejarah juga mengingatkan keberhasilan swasembada tidak selalu berlangsung permanen. Indonesia kembali menjadi importir beras pada akhir 1980-an. Artinya, swasembada bukan sebuah piala yang sekali diraih lalu selesai, melainkan kondisi yang harus terus dipelihara melalui kebijakan dan produktivitas yang berkelanjutan.

Apalagi tantangan saat ini sangat berat dan tentunya berbeda, sebab penduduk terus bertambah, teknologi berkembang, bahkan perubahan iklim menjadi persoalan utama, serta kebutuhan pangan semakin kompleks.

Oleh sebab itu, kita tidak perlu menyalin masa lalu. Yang perlu kita ambil adalah cara berpikirnya, ada tujuan, tahapan, program, dukungan, dan ada ukuran keberhasilan.

Jika tema Hari Pramuka ke-65 ingin benar-benar bermakna, Sumatera Selatan tidak perlu menunggu program yang besar.

Mulailah dari satu gugus depan, misalnya dari satu menjadi sepuluh, dan dari sepuluh menjadi seratus.  Lalu, ukur hasilnya, perbaiki kekurangannya, dan kemudian perluas.

Sebab swasembada pangan tidak lahir dari slogan besar. Ia lahir dari tindakan-tindakan kecil yang direncanakan, dikerjakan dan diukur secara konsisten.

Dan mungkin, yang dibutuhkan generasi muda Sumatera Selatan hari ini bukan hanya seruan untuk mendukung swasembada pangan.

Kita membutuhkan “Pelita kecil” yang mengajarkan pangan tidak datang begitu saja dari pasar. Pangan harus ditanam, dirawat, diproduksi, diolah, dipasarkan dan dihargai.

Dari proses kecil itulah Pramuka dapat mengambil bagian dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya berbicara tentang Indonesia Emas 2045, tetapi memiliki keterampilan untuk ikut mewujudkannya. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dulu Urut 3 dari Bawah, Kini Kumpulkan 22 Emas, Muba Melompat ke Posisi IV pada Ajang Peparprov III

    Dulu Urut 3 dari Bawah, Kini Kumpulkan 22 Emas, Muba Melompat ke Posisi IV pada Ajang Peparprov III

    • calendar_month Sabtu, 11 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.174
    • 0Komentar

    KABUPATEN Musi Banyausin (Muba) berhasil menduduki posisi empat klasemen akhir di Pekan Paralimpic Provinsi (Peparprov) Provinsi Sumatera Selatan III, yang digelar di OKU Raya pada tanggal 5 – 13 Desember 2021. Hal ini berdasarkan rilis panitia Peparprov Sumsel III, Kontingen Peparprov Muba berhasil mengumpulkan 22 emas, 28 perak dan 16 medali perunggu. Dengan hasil tersebut […]

  • Rapat Staf OPD Muba, Apa Yang Diinginkan Bupati Hingga Akhir Tahun ?

    Rapat Staf OPD Muba, Apa Yang Diinginkan Bupati Hingga Akhir Tahun ?

    • calendar_month Senin, 5 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 788
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Musi Banyuasin [Muba] melaksanakan Rapat Staf Jajaran Pemkab Muba, di Ruang Rapat Serasan Sekate Pemkab Muba, Senin (5/8/2019). Rapat ini dipimpin langsung oleh Bupati Muba H Dodi Reza Alex Noerdin yang diikuti oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Muba Drs H Apriyadi MSi, Para Asisten, Kepala Perangkat Daerah Kabupaten Muba beserta Para Camat. Pada kesempatan tersebut […]

  • Siswa/siswi di OKI Ikut Seleksi Paskibraka 2021

    Siswa/siswi di OKI Ikut Seleksi Paskibraka 2021

    • calendar_month Selasa, 23 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.676
    • 0Komentar

    SEBANYAK 75  orang siswa dan siswi tingkat SMA sederajat dari beberapa perwakilan sekolah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengikuti seleksi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tahun 2021 yang digelar oleh Dinas Pemuda, Olahraga (Dispora) Kabupaten OKI di GOR Perahu Kajang. Anggota paskibraka ini akan mewakili Kabupaten OKI pada upacara peringatan Detik-detik Hari Ulang […]

  • Rahasia KWT Muba Tetap Produktif di Tengah Pandemi COVID-19

    Rahasia KWT Muba Tetap Produktif di Tengah Pandemi COVID-19

    • calendar_month Rabu, 10 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.704
    • 0Komentar

    MESKI terbatas oleh kondisi ekonomi dan sosial di tengah pandemi COVID-19, Kelompok Wanita Tani (KWT) Kabupaten Musi Banyuasin bersama Pemkab Muba terus berupaya tetap produktif menjaga ketahanan pangan warga. Hal ini karena Kabupaten Musi Banyuasin menggelar kegiatan pasar tani yang kegiatannya ditinjau Ketua Dekranasda Muba Hj Thia Yufada Dodi Reza di Sekayu, Rabu. Dalam kesempatan […]

  • Sampah Jadi Listrik, Tapi PR Palembang Belum Selesai di Rumah Warga

    Sampah Jadi Listrik, Tapi PR Palembang Belum Selesai di Rumah Warga

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 82
    • 0Komentar

    SAMPAH selalu punya pola hidup yang hampir sama, dikumpulkan, diangkut, lalu disingkirkan sejauh mungkin dari pandangan, selesai di jalan, selesai juga di pikiran. Tapi pola itu pelan-pelan mulai diganggu di Palembang. Di sebuah titik di Jalan Keramasan, Kertapati, sesuatu yang dulu dianggap “akhir urusan kota” kini justru disiapkan menjadi awal energi baru. Sampah tidak lagi […]

  • Stock  Sumsel Berlimpah, Gubernur Kirim 85 ton Oksigen ke Jabar

    Stock  Sumsel Berlimpah, Gubernur Kirim 85 ton Oksigen ke Jabar

    • calendar_month Minggu, 25 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 666
    • 0Komentar

    MESKI dalam kondisi pandemi. Namun tak menyurutkan langkah Gubernur Sumsel H. Herman Deru untuk membantu provinsi lainnya  yang membutuhkan bantuan. Seperti Sabtu (24/7) malam misalnya, Herman Deru turun  melepas secara langsung keberangkatan pengiriman bantuan oksigen sebanyak 85 ton untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Barat. Gubernur Herman Deru mengatakan, pengiriman oksigen tersebut seyogyanya dilakukan pada Minggu […]

expand_less
WordPress Archive WPBakery Page Builder Addons Bundle WPBakery Page Builder Addons Bundle (formerly Visual Composer) WPBakery Page Builder Extension Remover WPBakery Page Builder Extensions Add-on – Figure Navigation WPBakery Page Builder Extensions Add-on – Testimonial Carousel WPBakery Page Builder Extensions Popup and Notification WPBakery Page Builder for WordPress WPBakery Page Builder (Visual Composer) Clipboard WPBakery Page Intro WPBakery YouTube Channel with Carousel Addon