Senin, 21 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan-Kaki Bukit » Keliru Memahami Sejarah 1 Juni 1945, Pancasila Menjadi Bias

Keliru Memahami Sejarah 1 Juni 1945, Pancasila Menjadi Bias

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 1 Jun 2022
  • visibility 1.286
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERINGATAN 1 Juni 1945 merupakan salah satu poin penting dalam memahami lintasan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pancasila ini menjadi jawaban atas pertanyaan Kaisar Jepang Tenno Haika pada saat masa penjajahan kolonial Jepang, “apakah yang menjadi dasar Indonesia untuk merdeka?” Pertanyaan ini tentu dilatarbelakangi oleh kehendak rakyat Indonesia yang berkumpul pada 28 Oktober 1928 dalam momentum Sumpah Pemuda, yang menyatakan “Satu tumpah darah, tanah air Indonesia. Satu bangsa, bangsa Indonesia. Dipersatukan oleh satu bahasa, Bahasa Indonesia”. Dan hal ini mengisyaratkan bahwa Bangsa Indonesia terlahir pada saat itu, yang kemudian berkomitmen untuk mendirikan suatu negara Indonesia yang merdeka.

Kurang lebih 17 tahun kemudian setelah momen sumpah pemuda, tepat pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) Dokuritsu Junbi Cosakai yang didirikan oleh penjajah Jepang. Yang saat itu diketuai oleh dr K.R.T Radjiman Wedyodiningrat, kemudian dibentuk keanggotaan yang terdiri dari perwakilan Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan beberapa orang peranakan Eropa, Cina, dan Arab. Melaksanakan sidang ini merupakan tanggung jawab yang berat dan besar dikarenakan menyangkut nasib dan cita-cita bangsa Indonesia yang terlahir untuk merdeka.

Persidangan BPUPKI yang pertama pada 28 Mei 1945 berfokus untuk menggali isi, bentuk, dan falsafah sebagai suatu dasar Indonesia untuk merdeka, yang disampaikan langsung melalui pidato dari dr. Radjiman Wedyodiningrat. Hari kedua, pada tanggal 29 Mei 1945, sidang BPUPKI kedua dilaksanakan secara resmi dengan adanya pidato dari Muh. Yamin, Margono, Sosrodiningrat, Wiranatakusuma, Soemitro, Woerjaningrat, Soerjo, Soesanto, Dasaad, Rooseno, dan M. Aris.

Pada tanggal 30 Mei 1945, mendengarkan pidato Moh. Hatta, Agus Salim, Samsoedin, Wongsonegoro, Soerachman, Abdul Kadir, Soewandi, Abdul Rahim, Soekiman, dan Soetarjo. Pada tanggal 31 Mei 1945, mendengarkan pidato, Muh. Yamin, Sanusi, Soekardjo, Soepomo, dan Hadikoesoemo. Pada tanggal 1 Juni mendengarkan pidato Baswedan, Muzakkir, Soekarno, J. Latuharhary, dan Soekardjo.

Selama pelaksanaan sidang BPUPKI berlangsung, terdapat tiga tokoh yang aktif berpendapat menyampaikan gagasan mengenai dasar Indonesia merdeka, yaitu : 1) Muh. Yamin pada tanggal 29 Mei 1945 menyampaikan mengenai “Asas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia”. 2) Mr. Supomo tanggal 31 Mei 1945 menyampaikan mengenai “Dasar-dasar Negara Indonesia Merdeka”. 3) dan Soekarno menyampaikan pada 1 Juni mengenai “Dasar Indonesia Merdeka”.

Dari ketiga tokoh tersebut, diperoleh 5 (lima) hal untuk dijadikan Dasar-dasar Indonesia Merdeka. Namun Soekarno mengusulkan kelima hal tersebut jangan dinamai dengan Pancadharma akan tetapi Pancasila. Dan kelima nilai itu menurut Muh. Yamin pada 29 Mei 1945 ialah : 1) Peri Kebangsaan, 2) Peri Kemanusiaan, 3) Peri Ketuhanan, 4) Peri Kerakyatan, 5) Kesejahteraan Rakyat. Pada tanggal 31 Mei 1945 Mr. Supomo menyampaikan : 1) Persatuan, 2) Kekeluargaan, 3) Keseimbangan Lahir dan Batin, 4) Musyawarah, 5) Keadilan Rakyat. Kemudian 1 Juni 1945 Soekarno manyampaikan : 1) Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia, 2) Internasionalisme atau perikemanusiaan, 3) Mufakat atau Demokrasi, 4) Kesejahteraan Sosial, 5) Ketuhanan yang berkebudayaan.

 

Momentum persidangan BPUPKI yang dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 1945 – 1 Juni 1945 menggambarkan bagiamana proses musyawarah dalam menggali nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai Dasar Indonesia Merdeka. Dengan tegas Soekarno menyatakan bahwa kelima nilai tersebut tidak dinamai sebagai Pancadharma tetapi adalah Pancasila. Pancasila inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 18 Agustus 1945, yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dengan urutan : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, serta dengan mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Tepat hari ini 1 Juni 2022, bangsa Indonesia memperingati perjalanan sejarah dimana 1 Juni 1945 pada saat itu founding fathers bermusyawarah untuk menetapkan Pancasila menjadi Dasar Indonesia Merdeka. Sehingga dalam konteks ini perlu ditekankan bahwa untuk memperingati 1 Juni 1945 tidak hanya memaknai sebagai Hari Lahirnya nama Pancasila, tetapi memahami secara berkesinambungan dan secara filosofis mengapa Pancasila ditetapkan dan menjadi Dasar Indonesia Merdeka.

Ketika Pancasila disepakati dan ditetapkan kemudian pada 18 Agustus 1945 sebagai Dasar Negara Indonesia, maka seharusnya Pancasila menjadi dimensi dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dalam lini budaya, hukum, sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan yang berlandaskan pada Pancasila. Oleh karena itu Pancasila harus menjadi sifat bangsa, karena menjadi sifat bangsa maka Pancasila akan menjadi sumber dari segala sumber hukum, maka kemudian Pancasila akan menjadi Keyakinan Standar, sehingga Pancasila akan menjadi falsafah dan sikap keberpihakan bangsa Indonesia dan tidak berpihak pada kepentingan asing.

Lemahnya pemahaman Pancasila ini tidak hanya terjadi dikalangan masyarakat umum, akan tetapi juga menjangkit beberapa penyelenggara pemerintahan. Misalnya adalah pemahaman Pancasila sebagai Empat Pilar Kebangsaan. Padahal Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan Amar Putusan Nomor 100/PUU-11/2014 yang membatalkan frasa “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara”. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk memahami sejarah perjalanan bangsa Indonesia dengan benar, sehingga Pancasila tidak bias dipahami.

Dan dalam konteks hari ini, pembatalan frasa “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara” atau yang sering kita lihat aktualisasinya dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar yang biasanya diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) tidak memiliki atau berkesinambungan dengan nilai historis, filosofis, sosiologis, dan yuridis. Artinya, akan terjadi pergeseran makna terhadap nilai-nilai kebangsaan yang akan diterima oleh masyarakat. Dan ini tentu menjadi hal yang berbahaya bagi keutuhan berbangsa dan bernegara bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penggunaan istilah Empat Pilar menjadi hal yang hanya bersifat pragmatisme dan hanya bertujuan untuk labeling semata, dan akan sangat berbahaya apabila hal ini juga bersifat politis. Artinya, kebenaran terhadap terhadap Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan menjadi bias. Sehingga kemudian akan mudah menjustifikasi golongan lainnya anti terhadap NKRI, atau bahkan Pancasila. Maka kemudian pelurusan sejarah bangsa Indonesia harus segara dilakukan, untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia berdasarakan kebenaran perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, 1 Juni ini seharusnya tidak hanya diperingati sebagai peringatan ceremony belaka sebagai peringatan hari Lahirnya Pancasila. Karena sejatinya Pancasila bukan dilahirkan, tapi digali oleh founding fathers sehingga ditemukanlah nilai-nilai yang terkandung di dalam jati diri bangsa, yaitu Pancasila sebagai dasar dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Maka apabila 1 Juni diperingati sebagai hari ditetapkannya Pancasila sebagai Dasar Indonesia Merdeka, maka akan dibangun evaluasi tahunan sejak kurang lebih 77 Tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia dibentuk, apakah sudah mencapai kemerdekaan? Apakah Pancasila sudah diposisikan secara terukur dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara?[***]

 

Oleh: Andika Widiyanto

Mahasiswa Magister Politik dan Pemerintahan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

HP:  0877-7130-3778

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PBAK Revolusi FISIP 2022, Bertema “Bersama PBAK Revolusi, Meningkatkan Kesadaran Moderasi Beragama di Kaum Milenial”, Ini Asanya untuk Mahasiswa UIN Raden Fatah

    PBAK Revolusi FISIP 2022, Bertema “Bersama PBAK Revolusi, Meningkatkan Kesadaran Moderasi Beragama di Kaum Milenial”, Ini Asanya untuk Mahasiswa UIN Raden Fatah

    • calendar_month Senin, 22 Agt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.132
    • 0Komentar

    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah mengadakan Pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Revolusi dengan tema “Bersama PBAK Revolusi, Meningkatkan Kesadaran Moderasi Beragama di Kaum Milenial” diadakan secara langsung  bertempat di Auditorium FISIP dengan tujuan mengenalkan tentang budaya dan akademik di FISIP. Senin, (22/08/22). Kegiatan ini dihadiri […]

  • PLTP Rantau Dedap Tahap I Salah Satu Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan

    PLTP Rantau Dedap Tahap I Salah Satu Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan

    • calendar_month Kamis, 15 Sep 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.616
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang – Wakil Gubernur  Sumatera Selatan (Sumsel) H. Mawardi Yahya mendampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, meresmikan  Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Rantau Dedap tahap 1 dengan kapasitas 91,2 MW, pada acara The 8th Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition 2022, bertempat di Jakarta Convention Center, Rabu (14/9). Peresmian operasional  […]

  • Tekan Penularan COVID, Polri Bangun 407 Pos Penyekatan di Jawa- Bali

    Tekan Penularan COVID, Polri Bangun 407 Pos Penyekatan di Jawa- Bali

    • calendar_month Sabtu, 3 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 899
    • 0Komentar

    KAKORLANTAS Polri Irjen Istiono menyatakan bahwa Polri akan menggelar operasi Aman Nusa II untuk mengawasi penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM) Darurat Jawa-Bali. Polri pun telah membangun 407 posko penyekatan pembatasan mobilitas warga di Jawa dan Bali. “Bahwa kami telah membuat, membangun 407 lokasi pembatasan atau penyekatan serta pengendalian mobilitas PPKM Darurat, dari tanggal […]

  • Di Tengah Pandemi, Aktivitas Pers Harus Terus Berjalan

    Di Tengah Pandemi, Aktivitas Pers Harus Terus Berjalan

    • calendar_month Senin, 26 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 579
    • 0Komentar

    PERS memegang peranan krusial sebagai salah satu pilar demokrasi bangsa. Peran tersebut kian nyata di tengah pandemi Coronavirus disease 2019 (Covid-19) untuk menghadirkan beragam fakta dan informasi tepercaya seputar Covid-19, mulai dari edukasi pentingnya protokol kesehatan, sosialisasi berbagai kebijakan pemerintah terkait penanganan Covid-19, pelaksanaan vaksinasi, dan juga soal penyajian data terkait lainnya secara akurat. Untuk […]

  • Hasil Tes GeNose C19 Berlaku Sebagai Syarat Perjalanan Dalam Negeri

    Hasil Tes GeNose C19 Berlaku Sebagai Syarat Perjalanan Dalam Negeri

    • calendar_month Selasa, 30 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.054
    • 0Komentar

    PELAKU Perjalanan Dalam Negeri (PPDN) dapat gunakan hasil Tes GeNose C19 negatif untuk melengkapi syarat perjalanan. GeNose C19 adalah alat deteksi dini COVID-19 berbasis embusan napas hasil produksi dalam negeri. Berdasarkan Surat Edaran Satgas Penanganan COVID-19 No. 12/2021 yang berlaku mulai 1 April 2021, hasil negatif dari GeNose C19 dapat digunakan syarat perjalanan selain Tes […]

  • Istana Sriwijaya

    Istana Sriwijaya

    • calendar_month Selasa, 6 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.698
    • 0Komentar

    “TABIKPUN…kamahapan di Gusti-Gusti Pohngun pun, kintu mak sangaja kasinggung waktu cakak, atawa kapailik waktu rogoh, hampura pun. Mulai jak panghulu di Gusti Raja pun.” Artinya:  Mohon maaf kepada tuan-tuan sekalian, bila tanpa sengaja tersenggol waktu naik, atauterinjak waktu turun (filosofi Rumah Panggung Komering), mohon dimaafkan. Mulai dari pangkal pada tuan Raja. Mengawali tulisan tentang budaya […]

expand_less
WordPress Archive Bahama Contractor & Architect Elementor Template Kit Bailly – Elementor WooCommerce WordPress Theme bake-bakery-cake-elementor-template-kit Baker – Fresh Bakery, Pastry and Cake Shop WordPress Theme Bakery.co – Bakery Shop Elementor Template Kit Bakery | WordPress Cake & Food Theme Bakevo – Bakery & Cookies WordPress Theme Baller – Basketball Team & Sports Club Elementor Template Kit Baltoo – Tattoo Studio and Artist Elementor Template Kit Bambini – Kindergarten & Pre-School Theme