Sabtu, 19 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan-Kaki Bukit » Jendral Hoegeng & Catatan Kinerja Kepolisian Era Jokowi

Jendral Hoegeng & Catatan Kinerja Kepolisian Era Jokowi

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 29 Nov 2021
  • visibility 1.896
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BULAN lalu, tepatnya tanggal 14 Oktober, merupakan hari lahir Hoegeng Imam Santoso. Nama ini mungkin bagi mereka kalangan yang berprofesi sebagai pengayom masyarakat tidaklah asing lagi. Jenderal kepolisian (purn.) Drs. Hoegeng Imam Santoso, yang lahir di Pekalongan 14 Oktober 1921 adalah mantan Kepala Kepolisian RI (Kapolri) ke-5 yang bertugas tahun 1968 hingga 1971.

Sekilas tidak ada yang menarik jika kita membaca beberapa kalimat tersebut. Namun siapa sangka dibalik nama itu, tersimpan nilai keteladanan yang sangat berharga bagi Negara ini. Sampai penulis sendiri saat membuat tulisan ini berkelakar kecil cerita tentang beliau yang beredar itu hanyalah dongeng semata.

Mengutip OkeZone.Com dalam “Kisah Hoegeng, Polisi Jujur Yang Marah Saat Rumahnya Diisi Perabotan Mewah”, selepas melanjutkan pendidikan di Recht Hoge School (Sekolah Tinggi Hukum) Batavia kemudian masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Tugas professional pertamanya saat ditugaskan di kantor kepolisian Jawa Timur Surabaya tahun 1952. Lalu di tahun 1956, dirinya diberi amanah sebagai Kepala Bagian Reserse Kriminal Kantor Polisi Sumatra Utara di Medan, pada waktu itu adalah daerah yang dikenal dengan tingkat kasus penyelundupan, judi, dan korupsi yang tinggi.

Ketika baru saja tiba di Medan, sekelompok orang yang tidak ia kenal mengucapkan selamat dan mengatakan telah menyiapkan rumah serta mobil padanya. Namun hal itu ia tolak mentah-mentah lalu melanjutkan pergi bersama polisi-polisi yang menjemputnya untuk menuju ke hotel untuk ia beristirahat. Sebelum rumah dinas yang telah disediakan siap  dihuni, hingga akhirnya lepas beberapa hari ia pun menuju kesana.

Tapi, mantan menteri di zaman Soekarno ini terkejut dan marah bukan kepalang, karena melihat orang-orang yang dahulu pernah ditemuinya beberapa waktu lalu kembali ia jumpai, beserta rumah yang telah di isi berbagai perabotan mewah.

Alhasil Hoegeng meminta perabotan-perabotan tersebut dikeluarkan dan setelah dua jam, barang-barang itu akhirnya ia berhasil singkirkan. 17 tahun pasca kepergiannya, kejujuran, ketegasan, integritas, dan kesederhanaannya masih menyisakan kenangan yang membekas bagi rakyat Indonesia. Lebih tepatnya sebuah kerinduan akan hadirnya kembali sosok-sosok Negarawan serupa, terlebih di era reformasi dalam hal ini periode Bapak Presiden Joko Widodo.

Beberapa waktu belakangan, citra kepolisian kembali disorot publik. Sorotan diberikan lantaran tindak laku yang dinilai kian negative. Beberapa rekam jejak digital akibat ulah “oknum” kepolisian pun tidak luput menjadi sasaran bahan pemberitaan yang empuk bagi media.

Mulai dari aksi represif dan smackdown kepada mahasiswa saat demonstrasi (CNN_Indonesia 13/10), teror ancaman verbal kepada Fachrial Kautsar karena cuitannya di Twitter tentang polisi se-Indonesia diganti satpam BCA bisa atau tidak (Bangsa_Mahasiswa 15/10), Kapolsek tiduri putri anak tahanan dengan janji tukar kebebasan ayah (Vivacoid 18/10), Polisi paksa geledah handphone masyarakat sipil (Suara.Com 18/21), polisi hajar anak buah (25/10), dan polisi tilang supir truk minta bawang sekarung (1/11) adalah beberapa catatan mengenai citra polisi di akhir-akhir penghujung tahun ini.

Meski Kapolri pernah mengklaim kepercayaan dan kepuasan publik terhadap polri meningkat (Merdeka.com 16/06) tetapi, berdasarkan survey terbaru dari Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) menunjukkan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap  Polri sebesar 66,3%.

Angka tersebut menjadi yang terendah dibandingkan lembaga penegak hukum lainnya, seperti KPK, pengadilan, dan Kejaksaan Agung (KA) (Databoks 13/8). Ada dua penyebab yang menjelaskan mengapa institusi Polri mendapatkan citra yang buruk atau rendah di mata masyarakat, yang pertama adalah faktor internal dan yang kedua faktor eksternal.

Faktor pertama dijelaskan oleh mantan Kapolri Jendral Tito Karnavian (Kompas 18/08/16). Tito mengakui, kinerja kepolisian masih jauh dari kata maksimal, terutama dalam hal profesionalisme, tindak perilaku koruptif, dan represif. Padahal, pasca era orde baru publik menaruh harapan yang tinggi kepada beberapa institusi, salah satunya adalah Polri. Pelepas tanganan Polri dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di masa Soeharto, diharapkan menjadi angin segar dalam mengawal agenda-agenda reformasi, seperti menegakkan hukum dengan lebih baik serta bersih.

Faktor kedua, menurut Dr. Aqua Dwipayana terdapat faktor di luar internal yang mempengaruhi kinerja Polri dan persepsi publik. Yaitu faktor eksternal yang lebih detailnya disebutkan faktor sosiologis seperti ketimpangan pertumbuhan kota, kondisi sosial, ekonomi, dan budaya pemangku kepentingan.

Ini disebutkannya saat mempertahankan disertasi berjudul “Citra Kepolisian Republik Indonesia dalam Pandangan Pemangku Kepentingan – Studi Kasus Pelayanan Publik Polisi Lalu Lintas (Polantas) Polda Jawa Barat” untuk memperoleh gelar Doktor dalam Bidang Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, lima tahun lalu (Unpad.ac.id 15/04/16). Ini menjadi penelitian yang menarik, sebab bisa menjadi acuan referensi Polri dalam menangani perbaikan kinerja institusi dan masyarakat luas dapat mengetahui problematika kinerja Polri ternyata tidak hanya berasal dari internal institusi itu sendiri.

Berada di zaman “eyes see you everywhere” sudah sepatutnya membuat Polri lebih mawas diri dan berhati-hati. Alih-alih mencitrakan diri dengan penggunaan media, seperti yang terdapat dalam salah satu tayangan di stasiun Tv swasta yang menunjukkan kepolisian bekerja dan hadir di tengah masyarakat.

Perilaku Polri sudah semestinya berintegritas dengan salah satu tugas pokoknya sebagai pengayom masyarakat. Pengetatan seleksi berdasarkan kepribadian dan wawasan umum, pembinaan pasca resmi menjadi polisi, dan penambahan anggota Polri yang tidak hanya mempertimbangkan kuantitas namun kualitas, adalah beberapa ide umum yang bisa dilakukan untuk mereformasi institusi Polri untuk lebih baik lagi.

Sanksi tegas dan kepastian hukum juga sudah semestinya diberikan bagi mereka (polisi) yang melanggar, meski sekecil apapun. Dengan tidak memandang bulu anggota mulai dari tataran paling bawah (grassroot) hingga jajaran pusat, meski sering dalam realitanya berbenturan dengan konflik kepentingan.

Terlebih penanaman budaya anti korupsi serta suap dan moralitas yang menjadi salah dua penyebab utama anljoknya kepercayaan publik institusi Polri di Indonesia. 100 tahun kepergian Hoegeng, Kapolri Listyo Sigit Prabowo mesti bekerja keras menciptakan kultur dan struktural yang ideal di dalam tubuh Polri sebagaimana seharusnya.

Sebagaimana yang ia nyatakan pada akhir bulan Oktober lalu, perlunya mengimplementasikan nilai-nilai positif Hoegeng semasa hidup baik untuk institusi yang ia pimpin maupun bagi masyarakat umum (Tempo 28/10). Di tengah arus modernisasi yang menghanyutkan dan pemujaan kehidupan yang materialistik juga glamour, dapatkah Polri mampu menghadirkan kembali sosok Hoegeng-Hoegeng baru di zaman demokrasi sekarang ini ? Agar kisah keteladanan tentang Hoegeng yang asli tidak dianggap sebagai dongeng semata oleh anak cucu kita di masa yang akan datang. [***]

 

Yusuf Septian Nur Effendy

Penulis adalah Mahasiswa Magister Komunikasi

Salah Satu Universitas di Yogyakarta

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Tradisi Khas Saat Natal di Indonesia

    Ini Tradisi Khas Saat Natal di Indonesia

    • calendar_month Minggu, 12 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 854
    • 0Komentar

      TIDAK hanya di luar negeri kemeriahan malam penuh berkat di Nusantara juga berlangsung, berikut tradisi khas saat Natal di Indonesia yang unik. Perayaan penuh kasih dan semarak ini selalu dinanti Umat Kristiani, berkumpul bersama keluarga merayakannya sesuai tradisi. Ini dia tradisi yang rutin dilaksanakan 1. Marbinda, Sumatra Utara Pertama ada tradisi dari Sumatera Utara, […]

  • Sekedar Mengingatkan, SKD CPNS Kemenag Tahap II Mulai 15 September 2021 di Empat Provinsi Ini

    Sekedar Mengingatkan, SKD CPNS Kemenag Tahap II Mulai 15 September 2021 di Empat Provinsi Ini

    • calendar_month Sabtu, 11 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.187
    • 0Komentar

      KEMENTERIAN Agama sudah mengumumkan pelaksanaan Seleksi Komptetensi Dasar (SKD) Tahap II yang akan berlangsung mulai 15 September sampai 3 Oktober 2021. SKD Tahap II ini berlangsung di empat provinsi, yaitu: Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah. Sekjen Kemenag Nizar mengatakan bahwa SKD dilaksanakan secara luring dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. “SKD CPNS […]

  • Masyarakat Yang Tidak Pakai Masker Jangan Dilayani

    Masyarakat Yang Tidak Pakai Masker Jangan Dilayani

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.092
    • 0Komentar

    BUPATI Banyuasin H Askolani kembali mengingatkan masyarakat untuk disiplin dalam memakai masker ketika keluar rumah. Karena masker ini salah satu upaya untuk mencegah menyebarnya virus covid 19. Dan perlu diketahui, penyebaran virus ini sangat cepat sekali dan sudah memakan korban. Setidaknya sudah ada empat warga Banyuasin yang positif covid 19 dan diharapkan tidak ada korban […]

  • Gelar Akad Nikah, Pasangan Pengantin Asal Sanga Desa Jalankan Protokol Waspada Covid-19

    Gelar Akad Nikah, Pasangan Pengantin Asal Sanga Desa Jalankan Protokol Waspada Covid-19

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.365
    • 0Komentar

    MESKI digelar sederhana dan harus menjalankan protokol waspada Covid-19 atau virus corona, namun pasangan pengantin asal Sanga Desa Kabupaten Muba yakni Ramadhan dan Nova Eliza sudah sah menjadi pasangan suami istri, Minggu (29/3/2020). Keduanya melaksanakan akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sanga Desa yang dihadiri tidak sampai 10 orang sebagaimana sudah menjadi ketentuan […]

  • FIFA Matchday lawan Albiceleste, Ini Asa Rafael Struick

    FIFA Matchday lawan Albiceleste, Ini Asa Rafael Struick

    • calendar_month Jumat, 16 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 6.194
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Jakarta -Timnas Indonesia akan menghadapi Argentina, pada laga FIFA Matchday di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Senin (19/6). Rafael Struick ingin memberikan kekuatan terbaik dalam dirinya saat berjumpa Albiceleste. Pemain berumur 20 tahun itu tak memikirkan megabintang sekaligus kapten timnas Argentina, Lionel Messi yang tak hadir ke Indonesia. “Ini akan menjadi […]

  • Tim Sepakbola PPLPD Muba Melenggang ke Provinsi

    Tim Sepakbola PPLPD Muba Melenggang ke Provinsi

    • calendar_month Rabu, 31 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 944
    • 0Komentar

    SETELAH dimulai pada beberapa waktu lalu, kompetisi sepakbola Gubernur Cup U-20 Tahun 2019 di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) akhirnya selesai, dan keluar sebagai juara yakni tim sepakbola PPLPD Muba yang nantinya akan mewakili Kabupaten Muba bertanding ke tingkat Provinsi. “Jadi yang nantinya akan bertanding ke tingkat Provinsi akan diwakili oleh tim dari PPLPD Muba yang akan […]

expand_less
WordPress Archive MainWP Sucuri Extension MainWP Team Control Extension MainWP Time Capsule MainWP UpdraftPlus MainWP URL Extractor MainWP WooCommerce Shortcuts MainWP WooCommerce Status MainWP WordFence MainWP WordPress SEO MainWP WP Compress Coupon