Pertamina Plaju dan Polda Sumsel Bongkar Akar Kekerasan Perempuan dan Anak, Keluarga Jadi Titik Awal
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 21 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Plaju menggandeng Polda Sumatera Selatan (Sumsel) guna memperkuat pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui edukasi berbasis keluarga.
Upaya itu dilakukan lewat Pertiwi Talk yang digelar Pertiwi RU Plaju, Jumat (28/8/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sumsel Kombes Pol. Andes Purwanti serta Psikolog Klinis Health Kilang Plaju Rezza Nadear Nenovarmaychisa atau Chisa.
Andes mengungkapkan sejumlah kasus kekerasan yang ditangani Polda Sumsel mengalami kenaikan pada Triwulan II 2026.
Kasus KDRT tercatat naik dari 127 menjadi 131 kasus. Kekerasan terhadap anak juga meningkat dari 110 menjadi 122 kasus.
Sementara perkara Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) naik lebih dari dua kali lipat, dari 19 kasus pada Triwulan I menjadi 43 kasus pada Triwulan II.
Polda Sumsel juga menangani 76 kasus persetubuhan dalam periode Triwulan I hingga Triwulan II 2026.
Menurut Andes, kekerasan terhadap perempuan dan anak dipengaruhi banyak faktor. Persoalan individu, keluarga, lingkungan sosial, tekanan ekonomi hingga penyalahgunaan zat dapat menjadi pemicunya.
Minimnya edukasi dan keterampilan komunikasi yang sehat juga menjadi faktor sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan.
Apalagi, pencegahan tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum. Edukasi dan kemampuan mengenali persoalan sejak awal juga menjadi bagian penting.
Dalam penanganan kasus, Polda Sumsel menerapkan mekanisme terpadu bagi korban. Tahapannya meliputi penerimaan laporan, asesmen risiko, perlindungan darurat, penyidikan hingga pendampingan hukum dan psikologis.
Proses tersebut dilanjutkan dengan pemulihan dan reintegrasi sosial bagi korban, termasuk dengan pendekatan yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Sementara terkait dengan psikologis, Chisa mengingatkankekerasan dalam hubungan tidak selalu dimulai dari tindakan fisik. Kontrol berlebihan, intimidasi, ancaman dan tindakan merendahkan dapat menjadi tanda awal relasi yang tidak sehat. Kekerasan emosional dan seksual juga perlu dikenali.
Oleh sebab itu, guna membangun hubungan yang sehat, Chisa memperkenalkan lima unsur, yakni respect, trust, communication, boundaries, dan mutual support.
Kelima unsur itu mencakup saling menghargai, membangun kepercayaan, menjaga komunikasi terbuka, menetapkan batasan yang jelas dan saling memberikan dukungan.
Menurut Chisa, hubungan pasangan yang sehat dapat menciptakan suasana aman di rumah. Kondisi tersebut penting untuk mengurangi risiko kekerasan terhadap anak.
Edukasi mengenai kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumsel menjadi bagian dari agenda Pertiwi RU Plaju dalam meningkatkan pemahaman pekerja.
Selain perlindungan perempuan dan anak, kegiatan itu juga mendukung upaya Pertamina Plaju membangun respectful workplace.
Pertiwi RU Plaju mendorong pekerja untuk mengenali tanda relasi tidak sehat, membangun komunikasi yang baik serta berani mencari bantuan ketika menghadapi atau menemukan kekerasan.
Melalui pendekatan keluarga, pencegahan diharapkan dapat dilakukan sebelum persoalan berkembang menjadi kasus yang membutuhkan penanganan hukum. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
