Kampung Sehati Sulap Seragam Bekas Jadi Produk Bernilai, Ibu-Ibu Temukan Peluang Usaha dari Barang Tak Terpakai
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 11 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : humas pusri
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID -Kampung Sehati mendorong ibu-ibu bisa memanfaatkan seragam bekas menjadi produk bernilai melalui pelatihan menjahit. Barang yang sebelumnya tak terpakai itu diolah kembali menjadi produk fungsional sekaligus membuka peluang usaha bagi warga.
Pelatihan Keterampilan Menjahit Kampung Sehati digelar PT Pusri Palembang tersebut mengangkat tema “Jahit Kreatif, Mandiri Produktif”.
Peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan menjahit, tetapi juga diajak melihat kembali potensi barang yang sudah tidak digunakan. Salah satunya dengan mengolah baju seragam bekas melalui teknik upcycle menjadi produk baru yang masih memiliki manfaat.
Cara ini membuat kegiatan menjahit tidak berhenti pada keterampilan membuat atau memperbaiki pakaian.
Bahan yang sebelumnya dianggap tidak terpakai dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang memiliki fungsi dan berpotensi menghasilkan nilai ekonomi.
Keterampilan yang dilakukan ibu-ibu Kampung Sehati tersebut bisa menjadi bekal untuk mengembangkan kegiatan produktif dari lingkungan sekitar. Produk hasil olahan juga berpeluang dikembangkan menjadi barang yang dapat dipasarkan.
Pemanfaatan seragam bekas menjadi bagian dari upaya mengurangi limbah tekstil. Pusri menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) dengan mendorong masyarakat menggunakan kembali barang yang masih memiliki potensi.
VP TJSL Pusri, Rahmawati, mengatakan pelatihan tersebut diarahkan agar masyarakat, khususnya perempuan, semakin kreatif dalam melihat peluang yang berasal dari barang yang sudah tidak digunakan.
“Melalui Pelatihan Menjahit Kampung Sehati ini, kami ingin mendorong masyarakat, khususnya ibu-ibu, agar dapat meningkatkan keterampilan dan kreativitas serta melihat peluang ekonomi dari barang-barang yang sebelumnya tidak lagi digunakan,” ujar Rahmawati.
Menurutnya, seragam bekas masih dapat diolah menjadi produk baru yang fungsional dan memiliki nilai jual. Keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan terus dikembangkan sehingga dapat menjadi peluang usaha bagi masyarakat.
Program tersebut juga berkaitan dengan penerapan Creating Shared Value (CSV). Pendekatan ini diarahkan untuk menciptakan manfaat secara bersamaan, baik melalui penguatan potensi ekonomi masyarakat maupun kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui pelatihan ini, Pusri berharap keterampilan ibu-ibu Kampung Sehati dapat terus berkembang setelah kegiatan berakhir. Produk hasil upcycle juga diharapkan tidak hanya menjadi barang pemanfaatan, tetapi dapat berkembang menjadi peluang usaha baru.
Upaya tersebut memperlihatkan barang yang sudah tidak digunakan masih bisa memiliki nilai ketika diolah dengan kreativitas. Dari seragam bekas, ibu-ibu Kampung Sehati kini mendapat keterampilan sekaligus peluang untuk menjadi lebih produktif secara ekonomi. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
