Zona Merah Karhutla Susut, Tapi 688 Hotspot Masih Terdeteksi di 7 Wilayah
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 34 menit yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Zona merah karhutla mulai menyusut seiring membaiknya kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak.
Namun, kondisi itu belum menjadi tanda ancaman kebakaran hutan dan lahan sepenuhnya berakhir. Ratusan titik panas masih terpantau di sejumlah kawasan Kalimantan dan Sumatera.
Data pemantauan BMKG menjelaskan wilayah dengan kualitas udara sangat tidak sehat kini tinggal di sebagian kecil Kalimantan Barat.
Di daerah lain, kondisi udara relatif lebih baik, meski kategori tidak sehat masih ditemukan di sejumlah wilayah Kalimantan dan sebagian Sumatera bagian barat.
Perhatian kini bergeser pada keberadaan titik panas yang masih muncul. Data SiPongi Kementerian Kehutanan berdasarkan pantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 688 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi hingga 3 September 2026 pukul 21.19 WIB.
Pemantauan dipusatkan pada tujuh wilayah dinilai perlu mendapat perhatian, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Meski begitu, angka hotspot tersebut tidak serta-merta menunjukkan seluruh titik sedang terbakar.
Kementerian Kehutanan menjelaskan hotspot merupakan indikasi panas yang ditangkap sensor satelit sehingga setiap temuan tetap perlu diverifikasi langsung di lapangan.
Respons pun terus dilakukan sebelum titik panas berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, masyarakat peduli api, serta sejumlah pihak terkait masih melakukan patroli dan pemadaman di wilayah prioritas.
Dukungan dari udara juga diperkuat. Sebanyak 53 armada dikerahkan, dengan 19 unit menjalankan patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 unit digunakan untuk water bombing di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
OMC dilakukan pada waktu dan wilayah yang memenuhi kondisi meteorologis. Operasi tersebut diarahkan untuk membantu memicu terbentuknya awan hujan sehingga peluang turunnya hujan di wilayah sasaran dapat meningkat.
Membaiknya kualitas udara menjadi perkembangan positif dalam penanganan karhutla. Namun, kemunculan ratusan hotspot membuat pengawasan tetap diperlukan, terutama ketika kondisi cuaca masih kering.
Kementerian Kehutanan pun meminta masyarakat dan pelaku usaha tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap atau indikasi kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya agar dapat diperiksa dan ditangani secepat mungkin. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
