Rabu, 30 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Agribisnis » PIRING RAKYAT: “Dari Lumbung ke Lambung, Ketahanan Ekonomi Dimulai dari Ketulusan Membangun Pangan”

PIRING RAKYAT: “Dari Lumbung ke Lambung, Ketahanan Ekonomi Dimulai dari Ketulusan Membangun Pangan”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
  • visibility 919
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BICARA swasembada pangan, semua orang semangatnya bisa mengalahkan supporter timnas waktu adu penalti. Tapi jangan lupa, swasembada itu bukan spanduk yang dibentangkan tiap ada kunjungan menteri, apalagi sekadar seminar dengan air mineral rasa formalitas.

Swasembada adalah kerja keras dari ujung pacul hingga ujung piring makan rakyat, ketika Sriwijaya Economic Forum (SEF) 2025 digelar Bank Indonesia Sumsel dengan tema “Akselerasi Program Swasembada Pangan untuk Mewujudkan Ketahanan Ekonomi Sumsel yang Berkelanjutan”. Kita patut memberi tepuk tangan dan apresiasi….., lalu bertanya pelan “Lalu, bagaimana implementasinya di lapangan, Pak?”. Bahkan kita juga wajib angkat topi, tapi juga wajib bertanya “Setelah ini, apa yang digarap?”.

Sekretaris Daerah Sumsel, Drs. H. Edward Candra, MH, sudah menyampaikan sederet program yang bisa bikin bulir padi bergetar haru, dari Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP), target produksi 1 juta ton Gabah Kering Giling, cetak sawah 1 juta hektare, bantuan benih, irigasi, sampai pembinaan petani milenial dan UMKM agro.

Sungguh, bukan program sembarangan, karena kalau berhasil, bukan tak mungkin Sumsel ekspor rendang ke Dubai, dan ngopi sawah di Norwegia. Namun, sebagaimana pepatah petani bilang “Padi takkan tumbuh dari rencana, tapi dari cangkul yang turun ke tanah”.

Narasi-narasi program yang dibacakan di forum kadang terlalu megah untuk realita lapangan. Di balik janji ‘1 juta hektare cetak sawah’.

Terkadang memang masih muncul masalah klasik, masih banyak lahan tidur yang dibiarkan mendengkur, petani yang masih kebingungan soal pupuk bersubsidi, dan irigasi yang kering karena pompa rusak tapi suratnya belum naik meja camat. Ini bukan kritik sinis, tapi teguran halus yang semoga menyiram akal sehat.

Sebab kata orang tua. “Kalau mau mengingatkan sapi yang lari dari kandang, jangan dilempar batu, cukup panggil dengan rumput”.

Boleh sejenak kita menengok keluar pagar, lihatlah Desa Tamansari di Banyuwangi, yang kini jadi ikon pertanian terpadu berbasis wisata dan digitalisasi, berkat sinergi antara pemerintah daerah, petani, dan investor lokal. Di sana, petani bukan cuma menanam, tapi juga mengelola hasil panen, membuat pupuk sendiri, dan bahkan punya homestay untuk turis.

Kalau ingin menengok lebih jauh, ada Desa Kurkku di India Selatan, yang jadi role model pertanian organik mandiri. Mereka mengusung prinsip “Makan dari tanah sendiri”, memproduksi benih sendiri, bahkan punya bank benih lokal. Pemerintah setempat tak cuma memberi bibit, tapi juga membantu pemasaran dan pendampingan koperasi petani.

Bahkan di Jepang, Kamikatsu, sebuah desa kecil di Prefektur Tokushima, sukses membangun ekonomi sirkular pertanian. Mereka punya bank kompos desa, sistem pertanian terintegrasi, dan komunitas lansia yang tetap aktif bercocok tanam.

Petani di sana tak cuma hidup, mereka makmur dan dihormati, meskipun usia mereka rata-rata sudah di atas 65 tahun. Petani milenial? Di sana malah muncul istilah baru, yakni istilahnya petani pensiun yang produktif.

Kita berharap Sumsel semakin maju, seperti contoh di atas, padahal tanah mereka tidak seluas Sumsel?, semoga komitmen luas kemauan dan kesungguhan dapat mewujudkannya.

Solusinya yang harus dilakukan pertama, perkuat data lapangan, banyak program hebat terjebak angka estimasi, padahal sawah tak tumbuh dari Excel. Validasi kebutuhan petani harus lebih presisi, dari kondisi air hingga akses pupuk.

Kedua, digitalisasi pertanian dengan sentuhan manusiawi, kalau ada aplikasi untuk ngatur AC dari HP, kenapa tidak buat dashboard interaktif yang bisa bantu petani lapor kelangkaan pupuk atau air secara real-time?. Tapi ingat, jangan terlalu ribet, petani itu sibuk ngurus hama, bukan password.

Ketiga, bangun koperasi pangan modern, jangan biarkan petani milenial cuma jadi baliho kampanye. Bina mereka agar bisa bertani dengan pola bisnis, punya jaringan distribusi, dan bahkan melek ekspor. Kalau perlu, buat Petanipreneur Hub, tempat anak muda belajar bertani sekaligus buka toko online beras organik.

Terakhir, libatkan desa sebagai poros pangan daerah, yakni bangun pusat pelatihan pangan di desa, dan jadikan kepala desa sebagai manajer pangan setempat, bukan hanya pejabat tanda tangan proposal, karena dari desa, lahir ketahanan, bukan dari hotel berbintang, meskipun pendinginnya sejuk dan kopinya gratis.

Kita juga mengapresiasi komitmen Bank Indonesia, yang lewat Pak Bambang Pramono, terus mendukung GSMP, memberi fasilitas usaha tani, dan mengangkat fakta bahwa Sumsel adalah produsen padi nomor lima nasional. Tapi, posisi kelima itu juga harus dibarengi dengan peringkat pertama dalam kesejahteraan petani, bukan hanya produksi. Jangan sampai, Sumsel kenyang panen tapi petaninya tetap lapar.

Bukan sekadar mimpi

Swasembada pangan bukan sekadar mimpi sawah yang dibalut PowerPoint, ia adalah gerakan nyata dari lumpur ke lumbung, dari desa ke kota, dari janji ke aksi.

Karena seperti pepatah khas kampung “Yang panen padi jangan kalah pintar dari yang panen tepuk tangan”, pastikan forum-forum seperti SEF 2025 tak berhenti jadi acara tahunan penuh selfie dan sambutan, tapi benar-benar jadi titik tolak gerakan pangan dari bawah.

Di tengah dunia yang makin tak pasti, ketahanan pangan adalah pertahanan paling utama. Bukan dengan jargon, tapi dengan cangkul, benih, dan gotong royong yang nyata.

Kalau kita ingin makan dari tanah sendiri, jangan hanya bicara, ayo mulai mencangkul bersama, sebab  kalau terlalu lama sibuk bermusyawarah tanpa turun ke sawah, bisa-bisa nanti yang swasembada malah negara tetangga, sementara kita cuma swasembada webinar.

Petani kita juga bukan butuh janji manis seperti gula rafinasi, tapi harga gabah yang masuk akal, pupuk yang sampai tepat waktu, dan saluran irigasi yang tidak sekering bibir waktu puasa.

Tanamlah dalam hati, apalagi “Negara kuat bukan karena gedung tinggi, tapi karena dapur rakyatnya tidak pernah kosong”.

Semoga Sumsel tak hanya jadi provinsi penghasil padi, tapi juga contoh ketahanan pangan yang mengakar dan mengangkat martabat petani, kalau petani bahagia, kita semua bisa tertawa sambil makan nasi, bukan cuma tepuk dada tanpa isi.

Pastikan forum-forum seperti SEF 2025 tak berhenti jadi acara tahunan penuh selfie dan sambutan, tapi benar-benar jadi titik tolak gerakan pangan dari bawah.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pangkas Anggaran Dinas ke Luar Negeri, Sumsel Siap Salurkan Insentif Tenaga Medis COVID-19

    Pangkas Anggaran Dinas ke Luar Negeri, Sumsel Siap Salurkan Insentif Tenaga Medis COVID-19

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 829
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Prov. Sumsel siap menyalurkan Insentif Tenaga Medis yang menangani COVID-19  [dokter dan perawat]. Saat ini kata Gubernur Sumsel Herman Deru, Ia sudah menantikan pengajuan-pengajuan data administrasi dari OPD atau gugus tugas mengenai kebutuhan mereka masing-masing. “Karena uangnya sudah tersedia kita akan alirkan sesuai sistem yang dibuat oleh BPKP utamanya untuk insentif para tenaga medis, […]

  • Wow, Puluhan Ribu Guru MTs Se- Indonesia Ikutin Serentak Acara Ini

    Wow, Puluhan Ribu Guru MTs Se- Indonesia Ikutin Serentak Acara Ini

    • calendar_month Rabu, 1 Feb 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 633
    • 0Komentar

    Sumselterkini,Jakarta – Puluhan ribu Guru MTs Se- Indonesia Ikutin Serentak Sosialisasi dan Bimtek Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) pada Madrasah tahun 2023. Bimtek ini digelar laksanakan oleh Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Digelar secara daring, lebih 40ribu guru MTs mengikutinya. “Ini sudah memasuki hari kedua Bimtek. Total yang mengisi daftar […]

  • Mensos:  Korban TPPO Dapat Pendampingan

    Mensos: Korban TPPO Dapat Pendampingan

    • calendar_month Minggu, 20 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 640
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Sosial (Kemensos) memberikan pendampingan kepada empat perempuan asal Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Papua. Hal tersebut disampaikan Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini, dalam keterangan tertulisnya, usai kunjungan di lokasi banjir Kota Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (19/2/2022). “Ya, kita lagi melakukan pendampingan kepada korban TPPO itu,” ujar […]

  • Kalah Lawan Korsel, “Garuda Didadaku”, Akui Keunggulan Lawan

    Kalah Lawan Korsel, “Garuda Didadaku”, Akui Keunggulan Lawan

    • calendar_month Rabu, 30 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.641
    • 0Komentar

    TIM U-19 Indonesia harus puas mengakui keunggulan timnas Korea Selatan (Korsel) U-19, pada laga uji coba dalam pemusatan latihan di DGB Daegu Bank Park, Daegu, Korea Selatan, kemaren. Dalam laga tersebut Tim U-19 Indonesia tertinggal dari Korsel U-19 tiga gol tanpa balasan melalui Jung Jong-hun (9′ dan 16′) serta Kang Seong-jin (12′) di babak pertama. […]

  • Indonesia Berpeluang Peroleh Emas dari Kayak Tunggal Kano Slalom Putra

    Indonesia Berpeluang Peroleh Emas dari Kayak Tunggal Kano Slalom Putra

    • calendar_month Rabu, 22 Agt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 653
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, MAJALENGKA – Indonesia berpulang untuk meraih emas dari cabang kayak tunggal putra Kano Slalom setelah Afrijal masuk ke semifinal. Atlet nasional kano slalom Indonesia itu memperoleh catatan waktu 97,36 detik. “Urutan start dimulai dari atlet dengan catatan waktu paling lambat ke yang tercepat,” kata pelatih Timnas Kano Slalom Indonesia Uyun Gunawan di Bendungan Rentang […]

  • Percepatan Vaksinasi Covid-19, Polda Kepri Luncurkan Program Nasi Kapau, Apa Itu Nasi Kapau ?

    Percepatan Vaksinasi Covid-19, Polda Kepri Luncurkan Program Nasi Kapau, Apa Itu Nasi Kapau ?

    • calendar_month Rabu, 23 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 913
    • 0Komentar

    DALAM rangka percepatan pelaksanaan program Vaksinasi Covid-19 di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, Polda Kepri meluncurkan Program “Nasi Kapau” (Vaksinasi Jangkau Pulau-pulau). Program ini dilaksanakan mengigat wilayah Provinsi Kepri yang 96 % terdiri dari lautan dengan pulau-pulau yang berpenghuni. Senin (21/6/2021). Dalam kegiatan Peninjauan pelaksanaan Program “Nasi Kapau” Kapolda Kepri Irjen Pol Dr. Aris Budiman, M.Si., […]

expand_less
WordPress Archive Albertino – Laboratory WordPress Theme Album Gallery – Ultimate WordPress Photo Gallery Plugin AlbumsList v3.2 | Gallery Module for Gmedia plugin Alchemists – Sports, eSports & Gaming Club and News HTML Template Alcor — Dark Real Estate Elementor Template Kit Aldo | Black and White Gutenberg Blog WordPress Theme Ale – eCommerce WordPress Multipurpose Theme Aleb – Event Conference Onepage WordPress Theme Alecta – Creative Agency WordPress Theme Aleos – Business Agency Elementor Template Kit