Selasa, 8 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Agribisnis » PIRING RAKYAT: “Dari Lumbung ke Lambung, Ketahanan Ekonomi Dimulai dari Ketulusan Membangun Pangan”

PIRING RAKYAT: “Dari Lumbung ke Lambung, Ketahanan Ekonomi Dimulai dari Ketulusan Membangun Pangan”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
  • visibility 912
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BICARA swasembada pangan, semua orang semangatnya bisa mengalahkan supporter timnas waktu adu penalti. Tapi jangan lupa, swasembada itu bukan spanduk yang dibentangkan tiap ada kunjungan menteri, apalagi sekadar seminar dengan air mineral rasa formalitas.

Swasembada adalah kerja keras dari ujung pacul hingga ujung piring makan rakyat, ketika Sriwijaya Economic Forum (SEF) 2025 digelar Bank Indonesia Sumsel dengan tema “Akselerasi Program Swasembada Pangan untuk Mewujudkan Ketahanan Ekonomi Sumsel yang Berkelanjutan”. Kita patut memberi tepuk tangan dan apresiasi….., lalu bertanya pelan “Lalu, bagaimana implementasinya di lapangan, Pak?”. Bahkan kita juga wajib angkat topi, tapi juga wajib bertanya “Setelah ini, apa yang digarap?”.

Sekretaris Daerah Sumsel, Drs. H. Edward Candra, MH, sudah menyampaikan sederet program yang bisa bikin bulir padi bergetar haru, dari Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP), target produksi 1 juta ton Gabah Kering Giling, cetak sawah 1 juta hektare, bantuan benih, irigasi, sampai pembinaan petani milenial dan UMKM agro.

Sungguh, bukan program sembarangan, karena kalau berhasil, bukan tak mungkin Sumsel ekspor rendang ke Dubai, dan ngopi sawah di Norwegia. Namun, sebagaimana pepatah petani bilang “Padi takkan tumbuh dari rencana, tapi dari cangkul yang turun ke tanah”.

Narasi-narasi program yang dibacakan di forum kadang terlalu megah untuk realita lapangan. Di balik janji ‘1 juta hektare cetak sawah’.

Terkadang memang masih muncul masalah klasik, masih banyak lahan tidur yang dibiarkan mendengkur, petani yang masih kebingungan soal pupuk bersubsidi, dan irigasi yang kering karena pompa rusak tapi suratnya belum naik meja camat. Ini bukan kritik sinis, tapi teguran halus yang semoga menyiram akal sehat.

Sebab kata orang tua. “Kalau mau mengingatkan sapi yang lari dari kandang, jangan dilempar batu, cukup panggil dengan rumput”.

Boleh sejenak kita menengok keluar pagar, lihatlah Desa Tamansari di Banyuwangi, yang kini jadi ikon pertanian terpadu berbasis wisata dan digitalisasi, berkat sinergi antara pemerintah daerah, petani, dan investor lokal. Di sana, petani bukan cuma menanam, tapi juga mengelola hasil panen, membuat pupuk sendiri, dan bahkan punya homestay untuk turis.

Kalau ingin menengok lebih jauh, ada Desa Kurkku di India Selatan, yang jadi role model pertanian organik mandiri. Mereka mengusung prinsip “Makan dari tanah sendiri”, memproduksi benih sendiri, bahkan punya bank benih lokal. Pemerintah setempat tak cuma memberi bibit, tapi juga membantu pemasaran dan pendampingan koperasi petani.

Bahkan di Jepang, Kamikatsu, sebuah desa kecil di Prefektur Tokushima, sukses membangun ekonomi sirkular pertanian. Mereka punya bank kompos desa, sistem pertanian terintegrasi, dan komunitas lansia yang tetap aktif bercocok tanam.

Petani di sana tak cuma hidup, mereka makmur dan dihormati, meskipun usia mereka rata-rata sudah di atas 65 tahun. Petani milenial? Di sana malah muncul istilah baru, yakni istilahnya petani pensiun yang produktif.

Kita berharap Sumsel semakin maju, seperti contoh di atas, padahal tanah mereka tidak seluas Sumsel?, semoga komitmen luas kemauan dan kesungguhan dapat mewujudkannya.

Solusinya yang harus dilakukan pertama, perkuat data lapangan, banyak program hebat terjebak angka estimasi, padahal sawah tak tumbuh dari Excel. Validasi kebutuhan petani harus lebih presisi, dari kondisi air hingga akses pupuk.

Kedua, digitalisasi pertanian dengan sentuhan manusiawi, kalau ada aplikasi untuk ngatur AC dari HP, kenapa tidak buat dashboard interaktif yang bisa bantu petani lapor kelangkaan pupuk atau air secara real-time?. Tapi ingat, jangan terlalu ribet, petani itu sibuk ngurus hama, bukan password.

Ketiga, bangun koperasi pangan modern, jangan biarkan petani milenial cuma jadi baliho kampanye. Bina mereka agar bisa bertani dengan pola bisnis, punya jaringan distribusi, dan bahkan melek ekspor. Kalau perlu, buat Petanipreneur Hub, tempat anak muda belajar bertani sekaligus buka toko online beras organik.

Terakhir, libatkan desa sebagai poros pangan daerah, yakni bangun pusat pelatihan pangan di desa, dan jadikan kepala desa sebagai manajer pangan setempat, bukan hanya pejabat tanda tangan proposal, karena dari desa, lahir ketahanan, bukan dari hotel berbintang, meskipun pendinginnya sejuk dan kopinya gratis.

Kita juga mengapresiasi komitmen Bank Indonesia, yang lewat Pak Bambang Pramono, terus mendukung GSMP, memberi fasilitas usaha tani, dan mengangkat fakta bahwa Sumsel adalah produsen padi nomor lima nasional. Tapi, posisi kelima itu juga harus dibarengi dengan peringkat pertama dalam kesejahteraan petani, bukan hanya produksi. Jangan sampai, Sumsel kenyang panen tapi petaninya tetap lapar.

Bukan sekadar mimpi

Swasembada pangan bukan sekadar mimpi sawah yang dibalut PowerPoint, ia adalah gerakan nyata dari lumpur ke lumbung, dari desa ke kota, dari janji ke aksi.

Karena seperti pepatah khas kampung “Yang panen padi jangan kalah pintar dari yang panen tepuk tangan”, pastikan forum-forum seperti SEF 2025 tak berhenti jadi acara tahunan penuh selfie dan sambutan, tapi benar-benar jadi titik tolak gerakan pangan dari bawah.

Di tengah dunia yang makin tak pasti, ketahanan pangan adalah pertahanan paling utama. Bukan dengan jargon, tapi dengan cangkul, benih, dan gotong royong yang nyata.

Kalau kita ingin makan dari tanah sendiri, jangan hanya bicara, ayo mulai mencangkul bersama, sebab  kalau terlalu lama sibuk bermusyawarah tanpa turun ke sawah, bisa-bisa nanti yang swasembada malah negara tetangga, sementara kita cuma swasembada webinar.

Petani kita juga bukan butuh janji manis seperti gula rafinasi, tapi harga gabah yang masuk akal, pupuk yang sampai tepat waktu, dan saluran irigasi yang tidak sekering bibir waktu puasa.

Tanamlah dalam hati, apalagi “Negara kuat bukan karena gedung tinggi, tapi karena dapur rakyatnya tidak pernah kosong”.

Semoga Sumsel tak hanya jadi provinsi penghasil padi, tapi juga contoh ketahanan pangan yang mengakar dan mengangkat martabat petani, kalau petani bahagia, kita semua bisa tertawa sambil makan nasi, bukan cuma tepuk dada tanpa isi.

Pastikan forum-forum seperti SEF 2025 tak berhenti jadi acara tahunan penuh selfie dan sambutan, tapi benar-benar jadi titik tolak gerakan pangan dari bawah.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemandangan Umum Fraksi Terhadap Empat Raperda Pemkab Muba 

    Pemandangan Umum Fraksi Terhadap Empat Raperda Pemkab Muba 

    • calendar_month Selasa, 10 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.846
    • 0Komentar

    BUPATI Musi Banyuasin Dr H Dodi Reza Alex Noerdin diwakili Wakil Bupati Muba Beni Hernedi menghadiri Rapat Paripurna Masa Persidangan I Rapat ke-39 Dalam Rangka Pemandangan Umum Fraksiraksi-fraksi DPRD Muba Terhadap 4 ( Empat) Raperda Pemerintahan Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2020 di Ruang Rapat Paripurna DPRD Muba, Senin (9/11/2020). Rapat paripurna dipimpin Wakil Ketua III […]

  • Lantik Pengurus FKUB, Gubernur Minta Maksimalkan Peran  FKUB Ciptakan Toleransi Antar Umat Bergama

    Lantik Pengurus FKUB, Gubernur Minta Maksimalkan Peran  FKUB Ciptakan Toleransi Antar Umat Bergama

    • calendar_month Kamis, 7 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 741
    • 0Komentar

      GUBERNUR Sumsel H Herman Deru minta agar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumsel terus meningkatkan perannya dalam mendorong kerukunan  antar umat agama di Sumsel agar selalu kondusif. Bahkan, dia menginginkan kerukunan tersebut terus terjaga mulai dari internal hingga eksternal. “FKUB harus bisa mencegah terjadinya konflik mulai dari internal penganut agama, hingga kemudian mengatasi […]

  • “Jalan Tol Inovasi, Kampus ke Industri, Jangan Cuma Nyangkut di Laboratorium”

    “Jalan Tol Inovasi, Kampus ke Industri, Jangan Cuma Nyangkut di Laboratorium”

    • calendar_month Minggu, 24 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 850
    • 0Komentar

    ADA pepatah lama “Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.” Nah, di Indonesia pepatah itu sering kebalik pohonnya banyak, buahnya entah kemana, yang nongol malah laporan setebal bantal hotel melati. Beginilah nasib sebagian besar riset di kampus kita berakhir sebagai skripsi yang dipajang di perpustakaan, hanya dibaca dosen penguji dan cicak yang lewat di rak […]

  • Pemkot Palembang Tambah Anggaran Untuk Pencegahan Covid-19

    Pemkot Palembang Tambah Anggaran Untuk Pencegahan Covid-19

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 1.188
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang akan menambah anggaran sebesar Rp 4 miliar untuk penanganan Virus Corona atau COVID-19 di Palembang. Penambahan sebesar Rp 4 m, menambah anggaran pencegahan Virus Corona sebelumnya Rp 116 M. “Penambahan anggaran ini akan diambil dari pergeseran dana hibah dan lain-lain,” kata Walikota Palembang H.Harnojoyo Selasa (7/4/2020) usai rapat via video conference […]

  • Gubernur Sumsel & Pimpinan DPRD Tandatangani KUA PPAS

    Gubernur Sumsel & Pimpinan DPRD Tandatangani KUA PPAS

    • calendar_month Sabtu, 14 Des 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.684
    • 0Komentar

    SETELAH melalui tahapan yang cukup panjang, Gubernur Sumsel H.Herman Deru, Jumat (13/12) pagi akhirnya melakukan penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama Antara Pimpinan DPRD Prov. Sumsel dan Gubernur Sumsel Terhadap KUA dan PPAS APBD Tahun Anggaran 2020. Penandatanganan ini dilakukan di Ruang Rapat Paripurna DPRD Prov. Sumsel dalam Rapat Paripurna VI DPRD Prov. Sumsel. Berdasarkan Nota Kesepakatan […]

  • Datangi lokasi peternakan kerbau di Pampangan, Pj Bupati OKI imbau masyarakat sabar hadapi wabah penyakit, janjikan bakal anggarkan bantuan bibit kerbau

    Datangi lokasi peternakan kerbau di Pampangan, Pj Bupati OKI imbau masyarakat sabar hadapi wabah penyakit, janjikan bakal anggarkan bantuan bibit kerbau

    • calendar_month Kamis, 18 Apr 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 927
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Pj. Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Ir. Asmar Wijaya M.Si turun langsung ke lokasi peternakan kerbau di Kecamatan Pampangan yang sedang mengalami wabah penyakit. Setelah sebelumnya ratusan ekor kerbau mati mendadak usai terkena penyakit ngorok yang diduga disebabkan oleh virus septicaemia epizootica (SE). Sebelumnya, Pemkab OKI telah melakukan langkah cepat melalui Dinas Perkebunan […]

expand_less
WordPress Archive Albertino – Laboratory WordPress Theme Album Gallery – Ultimate WordPress Photo Gallery Plugin AlbumsList v3.2 | Gallery Module for Gmedia plugin Alchemists – Sports, eSports & Gaming Club and News HTML Template Alcor — Dark Real Estate Elementor Template Kit Aldo | Black and White Gutenberg Blog WordPress Theme Ale – eCommerce WordPress Multipurpose Theme Aleb – Event Conference Onepage WordPress Theme Alecta – Creative Agency WordPress Theme Aleos – Business Agency Elementor Template Kit