Kamis, 1 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pojok Fisip UIN Raden Fatah » Aku, Salamku, dan Salam Agamamu

Aku, Salamku, dan Salam Agamamu

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 13 Des 2022
  • visibility 2.190
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Belakangan ini kita sering sekali mendengar kalimat Moderasi Beragama, bahkan gaungnya sudah sampai ke pelosok desa, di semua sektor khususnya di bawah naungan Kementerian Agama sudah fasih sekali dengan slogan moderasi beragama. Sering sekali kita lihat dari televisi atau juga secara langsung  kebiasaan para pejabat Muslim mengucapkan salam pembuka semua agama dalam acara resmi maupun acara-acara lainnya. Tentunya hal ini menjadi polemik dan perdebatan tersendiri dalam masyarakat khususnya khususnya umat Islam. Karena banyak orang yang meyakini kalau kita melakukan salam lintas agama dinilai syubhat yang dapat merusak kemurnian dari agama penganutnya. Karena salam merupakan doa yang tidak dapat terpisahkan dari ibadah yang merujuk kepada keyakinan agama masing-masing.

Salam lintas agama yang dimaksud adalah ucapan salam yang berasal dari agama-agama di Indonesia, seperti assalamua’alaikum warahmatullahi wabarokatuh. (Islam), salam sejahtera bagi kita semua (Kristen), Shalom (Katolik), Om Swastiastu (Hindu), Namo Buddhaya (Buddha) dan Salam Kebajikan (Konghucu). Salam lintas agama ini baru popular belakangan di era reformasi. Dimaksudkan sebagai salam penghormatan kepada seluruh pemeluk agama, sekaligus sebagai simbol kerukunan dan toleransi beragama. Dalam pandangan Islam, salam adalah penghormatan sekaligus doa keselamatan dan kebaikan. Islam adalah agama kedamaian yang menganjurkan umatnya untuk menebar kedamaian (ifsyaa’u al-salaam) kepada siapa pun, muslim dan non muslim. Hubungan dengan non-muslim dibangun di atas prinsip kebaikan dan keadilan. Karena prinsipnya selama tidak berbenturan dengan akidah tentunya itu adalah hal yang lumrah karena Indonesia sendiri adalah masyarakat majemuk yang terdiri dari banyak suku, ras, bahasa dan agama. Pastinya tidak ada larangan berlaku baik dan adil terhadap mereka. Namun, melihat persoalan ini tentunya harus ada kriteria dan batasan dalam implementasi toleransi agar tidak merusak kemurnian ajaran agama. Undang-undang menjamin setiap warganegara untuk menjalankan agamanya sesuai keyakinan masing-masing. Kemudian juga Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga terdepan memiliki tanggungjawab moril untuk menegakkan kemurnian ajaran agama. Persoalannya, bagaimana menengahi ketegangan antara keinginan untuk setia pada ajaran agama masing-masing dengan keinginan untuk ramah terhadap pemeluk agama lain dalam hidup bernegara.

Bila ditilik dari redaksinya, tampaknya hanya dua dari lima salam pembuka agama yang dinilai berpotensi ‘merusak’ akidah seorang muslim bila diucapkan, yaitu salam Hindu (Om Swastiastu) dan salam Buddha (Namo Buddhaya). Tiga salam lainnya; salam Katolik (Shalom), salam Kristen (salam sejahtera bagi kita semua) dan salam Khonghucu (salam kebajikan), tidak membawa nama Tuhan. Makna dan maksudnya kurang lebih sama dengan assalamu’alaikum. Hanya beda redaksi. Ikhtilaafun fil lafzhi, ittifaaqun fil ma’naa. (Keduanya merupakan dua kata yang berbeda secara pelapalan, tetapi sama secara makna).

Dalam tradisi Hindu, kata Om simbol atau aksara suci untuk Tuhan. Dan arti dari salam ini adalah ‘semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Hyang Widhi’. Demikian pula dengan Namo Buddhaya yang artinya terpujilah Buddha. Memang begitulah faktanya. Disinilah letak masalah salam lintas agama yang dipersoalkan banyak pihak, yang tentunya memunculkan banyak perdebatan menanggapi persoalan ini. Bersalam kepada non-Muslim dan mengucapkan salam non-Muslim adalah masalah khilafiah. Sebagian kalangan melarangnya dan sebagian kalangan lainnya membolehkan. Karena salam adalah penghormatan bagi sesama muslim, dan jaminan keamanan bagi non-muslim yang hidup berdampingan. Atas dasar itu, doa dan penghormatan kepada non-muslim bisa menggunakan kata salam, dan bisa juga menggunakan redaksi lain sesuai adat dan kebiasaan masyarakat, selama tidak mengandung kalimat atau makna yang diharamkan. Tapi disisi lain mengucapkan salam lintas agama juga masih menjadi polemik tersendiri di sebagian kalangan, sebab disitu terdapat nama Tuhan dalam keyakinan agama lain. Apakah  itu berarti kita meminta kepada Tuhan mereka? Tentu kembali lagi kepada niat saat berucap. Yang pasti semua agama mayakini Tuhan Yang Maha Esa. Zat yang Wajibul-wujud (Maha Ada). Nama, sifat dan cara meyakininya bisa berbeda. Selama merujuk ke situ, maka tak mengapa berbeda nama, tapi tujuan sama. Apalagi di Indonesia kita mempunyai semboyan Bhinekka Tunggal Ika yang menjadi motto untuk persatuan semua lapisan masyarakat Indonesia.

Terkait salam lintas agama, kalau pendekatannya teologis memang pelik. Tetapi dengan pendekatan sosiologis, kita akan mudah menemukan jalan tengah. Apalagi dalam kehidupan bersosial di Indonesia dengan masyarakatnya yang majemuk. Masing-masing pemeluk agama berhak atas klaim kebenaran agamanya, tanpa menafikan eksistensi lainnya. Setiap pemeluk agama harus setia pada kebenaran tunggal yang diyakininya. Selain saling mendoa dan menebar damai, salam lintas agama yang sering diucap pejabat hanyalah sebuah tegur sapa dan bentuk penghormatan kepada semua pemeluk agama sebagai warga bangsa Indonesia yang telah berkomitmen untuk hidup rukun bersama. Dan tidak sampai pada masalah keyakinan. Terlalu jauh bila dimaknai sebagai pangakuan dan permohonan doa kepada Tuhan selain Allah yang manyalahi akidah. Tetapi inilah polemik yang sering kali terjadi di berbagai kalangan masyarakat bahkan terkadang berakhir dengan debat kusir.

Menyikapi persoalan ini Majelis Ulama Indonesia juga pernah menghimbau kepada seluruh masyarakat  bagi imannya akan terganggu bila ia mengucap salam lintas agama. Dan tidak ada kepentingan dengan salam tersebut. Sebaiknya tidak perlu ikut-ikutan mengucapkannya. Namun, jangan juga larang atau ragukan iman orang yang karena tuntutan hubungan pergaulan harus berucap. Dalam situasi seperti ini, kita harus berupaya menemukan jalan tengah. Konsep moderasi beragama seperti inilah yang harus kita tegakkan dalam beragama. Intinya, dalam beragama diperlukan sikap luwes dan bijaksana sehingga antara berIslam dan bernegara bisa saling bersinergi. Demkian, wallahu a’lam bis showab ~

 

Penulis : Putri Citra Hati, M.Sos

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UIN Raden Fatah Palembang.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • INASGOC Tetapkan Harga Tiket Asian Games 2018 Rp750 Ribu- Rp2 Juta

    INASGOC Tetapkan Harga Tiket Asian Games 2018 Rp750 Ribu- Rp2 Juta

    • calendar_month Sabtu, 30 Jun 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.200
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, Jakarta – Harga tiket Asian Games 2018 ditetapkan panitia penyelenggara  paling murah sebesar Rp750 ribu dan Rp2 juta. Tiket tersebut akan dijual pada pertengahan Juli 2018 oleh INASGOC. “Harga tiket pembukaan itu masih terjangkau dibanding tiket pembukaan pesta olahraga di luar negeri sebesar 100 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta),” kata Deputi II Bidang Administrasi […]

  • PCA Pusri 2025, Buka Jalan Cerah Bagi Mahasiswa

    PCA Pusri 2025, Buka Jalan Cerah Bagi Mahasiswa

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.115
    • 0Komentar

    ADA satu hal yang sering bikin mahasiswa menatap langit sambil garuk kepala tanpa gatal, yaitu masa depan.Nggak percaya kan?  tapi yang jelas masa depan itu mirip – mirip sinyal WiFi karena kadang kuat, kadang hilang, kadang muncul tulisan “connected but no internet”. Tapi tahun ini, ada satu program yang datang sebagai “provider premium” buat masa […]

  • Dampak Gempa, Kemenag Salurkan Bantuan Untuk 54 Masjid

    Dampak Gempa, Kemenag Salurkan Bantuan Untuk 54 Masjid

    • calendar_month Jumat, 15 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 590
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Agama (Kemenag) menyalurkan bantuan senilai 1,95 miliar rupiah ke 54 masjid dan musala yang terdampak gempa di Pasaman dan Pasaman Barat, Sumatera Barat belum lama ini. Penyaluran ini merupakan tindak lanjut dari alokasi bantuan senilai 2,35 miliar yang disiapkan Kemenag saat terjadi gempa di Pasaman dan Pasaman Barat pada Februari lalu. “Bantuan itu terdiri […]

  • Karhutla Sumsel: Hotspot Naik dari 46 Jadi 104 Titik, BNPB Kembali Kerahkan OMC

    Karhutla Sumsel: Hotspot Naik dari 46 Jadi 104 Titik, BNPB Kembali Kerahkan OMC

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 30
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Lonjakan titik panas kembali menjadi perhatian di Sumatera Selatan (Sumsel), data satelit NASA NOAA20 mencatat jumlah hotspot di wilayah tersebut meningkat dari 46 titik pada 2 Agustus 2026 menjadi 104 titik pada 3 Agustus 2026. Kenaikan ini menjadi sinyal meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta potensi munculnya kabut asap saat musim […]

  • Serapan kuota haji tahun ini capai 99,6%, Kemenag :  ibadah wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah 1444 H/27 Juni 2023

    Serapan kuota haji tahun ini capai 99,6%, Kemenag : ibadah wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah 1444 H/27 Juni 2023

    • calendar_month Senin, 26 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.009
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Makkah – Tahapan penyelenggaraan ibadah haji 1444 H/2023 M telah menyelesaikan fase pemberangkatan jemaah haji. Proses ini telah berlangsung sejak 24 Mei hingga 25 Juni 2023. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Hilman Latief mengatakan, serapan kuota haji tahun ini mencapai 99,6%. “Alhamdulillah, kerja keras semua pihak mengantarkan keterserapan kuota haji Indonesia hingga 99,6%,” […]

  • Lebaran, Mantan Presiden Megawati dan Puan Maharani Kompak Pakai Gambo Muba

    Lebaran, Mantan Presiden Megawati dan Puan Maharani Kompak Pakai Gambo Muba

    • calendar_month Minggu, 16 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 977
    • 0Komentar

    PERAYAAN Idul Fitri 1442 H ditengah pandemi COVID-19 membuat banyak warga masyarakat lebih memilih berdiam di rumah. Namun, hal tersebut tidak membatasi untuk memaksimalkan penampilan dengan menggunakan balutan kearifan lokal yang berdaya saing internasional. Misalnya saja, Ketua DPR RI Puan Maharani bersama Mantan Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri yang kompak mengenakan Gambo Muba yang […]

expand_less
WordPress Archive Gravity Forms Agile CRM Addon Gravity Forms Authorize.net Addon Gravity Forms Autocomplete (+address field) Gravity Forms Batchbook Addon Gravity Forms Breeze Addon Gravity Forms Campfire Gravity Forms CleverReach Addon Gravity Forms Constant Contact Addon Gravity Forms Count Files Gravity Forms Coupons Addon