Kemkomdigi Satukan Operator Hadapi Raksasa AI
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : komdigi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pemerintah mendorong operator telekomunikasi Indonesia menyatukan kekuatan guna menghadapi ekspansi perusahaan kecerdasan artifisial (AI) global.
Langkah ini diperlukan agar Indonesia tidak hanyamenjadi pasar teknologi asing, sementara nilai ekonomi dari bisnis AI lebih banyak dinikmati perusahaan luar negeri.
Pengalaman industri telekomunikasi menghadapi perusahaan over the top (OTT) menjadi pelajaran. Ketika pemain global semakin kuat, operator berisiko hanya menjadi penyedia akses dan saluran bisnis. Pemerintah tidak ingin pola serupa terulang dalam perkembangan AI.
Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Ismail, menilai operator tidak bisa menghadapi perubahan industri AI dengan strategi masing-masing.
Menurutnya, persaingan selama ini menjadi bagian dari bisnis telekomunikasi perlu diimbangi kerja sama pada sektor-sektor strategis.
Ismail melanjutkan, kekuatan pasar Indonesia seharusnya menjadi modal untuk membangun posisi tawar di hadapan perusahaan teknologi global. Namun, potensi itu sulit dimanfaatkan, jika setiap operator berjalan sendiri, termasuk dalam menentukan investasi dan negosiasi kerja sama.
“Kalau pendekatan ini berjalan terus, kita akan menyiapkan karpet merah buat pemain global dan kita hanya menjadi pasar. Para operator hanya akan menjadi saluran bisnis mereka, jadi kita dapat remah-remahnya saja,” ujar Ismail dalam Diskusi Panel Lintas Teknologi Solutions Day 2026 di Jakarta Timur, Sabtu (31/10/2026).
Oleh karena itu, Kemkomdigi mendorong pemerintah dan operator duduk bersama menyusun model bisnis serta strategi menghadapi pemain global.
Pemerintah, tambah dia, akan mengambil peran sebagai orkestrator agar kepentingan industri dapat dibawa dalam satu kerangka negosiasi.
“Komdigi hadir menjadi orkestrator untuk membantu memperbaiki model bisnis ini dulu. Untuk diskusi ke depan, bersama para global player, pemerintah dan para telko harus duduk satu meja agar posisi tawar kita kuat. Karena kita punya pasar,” kata Ismail.
Pendekatan itu, paparnya akan dibangun melalui strategi Indonesia Incorporated. Pemerintah ingin investasi dan negosiasi pada berbagai lapisan ekosistem AI atau stack dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan nasional, bukan hanya kebutuhan masing-masing perusahaan.
Ismail menilai posisi tawar Indonesia akan berbeda jika operator menggabungkan kekuatan ketika berhadapan dengan perusahaan global. Apalagi skala pasar yang besar dapat menjadi modal untuk memperkuat posisi dalam kerja sama teknologi maupun pengembangan bisnis AI.
“Kalau kita belanja sendiri-sendiri atau mengeluarkan negosiasi sendiri-sendiri, pasti akan berbeda ketika kita bicara Indonesian Incorporated untuk setiap stack itu. Kita harus membangun daya tawar sebagai bangsa, bukan sebagai perusahaan yang datang sendiri-sendiri,” jelasnya.
Meski demikian, penyatuan kekuatan bukan berarti operator harus menghentikan persaingan. Kompetisi tetap diperlukan untuk mendorong kualitas layanan. Yang perlu dicari adalah bidang-bidang strategis yang lebih efektif jika dibangun bersama.
Ismail mengingatkan perkembangan AI berkaitan langsung dengan kepentingan jangka panjang Indonesia, terutama kedaulatan data dan digital. Karena itu, industri telekomunikasi perlu menentukan kepentingan yang harus diperjuangkan secara kolektif.
“Masalah AI ini adalah masalah kedaulatan bangsa ke depan. Di sana ada kedaulatan data, ada kedaulatan digital. Operator saling bersaing, wajar. Namun, kita harus cari di bagian mana yang kita tidak harus bersaing,” ungkapnya. (***)/diolah dari sumber utama komdigi.
- Penulis: Irwan Wahyudi
