Ketika Bantuan Jadi Jalan untuk Mandiri, Ada Asa yang Ingin Dijahit Kembali di Sumsel
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bantuan UMKM dan bantuan sosial Sumsel disalurkan Gubernur Herman Deru guna membuka peluang usaha serta membantu lansia dan penyandang disabilitas.
SENYUM terlihat di antara para penerima bantuan yang berdiri berjejer sambil memegang papan penyerahan bantuan. Ada papan bertuliskan bantuan mesin jahit, ada pula bantuan peralatan usaha lainnya.
Di tengah suasana itu, penyerahan bantuan mengingatkan kebutuhan masyarakat tidak selalu sama, pasalnya sebagian membutuhkan sarana untuk mencari penghasilan, sementara yang lainnya hanya memerlukan dukungan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Namun, dari mesin jahit hingga kursi roda, bantuan yang disalurkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) membawa tujuan berbeda, bertemu pada satu hal hingga membuka kesempatan, agar masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Seseorang yang ingin merintis usaha menjahit, mesin jahit tak hanya peralatan. Benda itu bisa menjadi sarana untuk menghasilkan produk, menerima pesanan, dan perlahan membangun sumber penghasilan.
Begitu pula dengan kompor gas, peralatan bengkel, maupun alat panggang sate yang dapat menunjang berbagai jenis usaha.
Sementara untuk warga lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan sosial, dukungan memiliki arti berbeda. Kursi roda dan kebutuhan sehari-hari menjadi bagian dari upaya membantu memenuhi kebutuhan serta menunjang aktivitas mereka.
Dua bentuk dukungan itu hadir dalam penyerahan bantuan secara simbolis di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumsel, Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Senin (26/10/2026).
Melalui Dinas Koperasi dan UMKM Sumsel, pemerintah menyalurkan berbagai peralatan untuk menunjang kegiatan ekonomi masyarakat.
Bantuan tersebut mencakup 92 unit mesin jahit, satu set peralatan mesin bengkel lengkap dengan alat pres dan multi pres, 30 unit kompor gas, tiga unit alat katering, satu set mesin songket dan mesin ram sulam, serta 10 unit alat panggang sate beserta tabung gas.
Setiap peralatan memiliki kegunaan yang berbeda. Mesin jahit dapat mendukung usaha jahit dan produksi pakaian. Peralatan bengkel dapat menunjang jasa perbaikan, sementara kompor gas, alat katering, dan alat panggang sate bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha kuliner.
Bantuan semacam ini membuka peluang bagi masyarakat yang ingin mengembangkan keterampilan menjadi kegiatan produktif. Peralatan yang tersedia dapat membantu pekerjaan menjadi lebih mudah dan mendukung peningkatan kapasitas usaha.
Meski demikian, perjalanan membangun usaha tidak selesai ketika peralatan diterima. Ada keterampilan yang harus terus diasah, pelanggan yang perlu dijangkau, serta biaya operasional yang mesti diperhitungkan.
Oleh sebab itu, bantuan peralatan perlu berjalan beriringan dengan pelatihan dan kemampuan mengelola usaha. Tujuannya bukan hanya agar penerima memiliki sarana kerja, tetapi juga agar sarana tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumsel, Dr. Drs. H. Apriyadi Mahmud, M.Si., menjelaskan bantuan peralatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk UMKM, menarik minat konsumen, dan menambah pendapatan pelaku usaha.
Ia juga berharap pengembangan UMKM dapat membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat.
Dengan begitu, usaha yang tumbuh tidak hanya berpotensi menopang kehidupan pemiliknya, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi orang lain ketika usaha tersebut berkembang.
Membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas
Kesempatan untuk mengembangkan usaha juga menjadi bagian dari program rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas, khususnya di wilayah Muara Enim dan Ogan Ilir.
Melalui Dinas Sosial Sumsel, pemerintah menyalurkan seperangkat peralatan gunting rambut dan tata rias salon, 20 unit mesin jahit, bahan katun, serta paket bantuan usaha warung sembako.
Bantuan tersebut disesuaikan dengan jenis kegiatan yang dapat dikembangkan penerima. Peralatan salon dapat menunjang usaha jasa kecantikan, mesin jahit dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan menjahit, sedangkan paket warung sembako dapat menjadi sarana untuk memulai usaha perdagangan kebutuhan sehari-hari.
Peluang untuk mandiri tidak selalu dimulai dari usaha besar. Ada yang dapat memulainya melalui jasa berdasarkan keterampilan, ada pula yang memilih usaha rumahan sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Pemprov Sumsel turut mendukung upaya tersebut melalui Program Pelatihan Stimulan Angkatan II Tahun 2026. Pelatihan ini mencakup keterampilan menjahit, tata rias salon, dan pengembangan usaha sembako.
Keterampilan menjadi bagian penting dari proses pemberdayaan. Peralatan yang tersedia akan lebih bermanfaat apabila penerimanya juga memperoleh kesempatan untuk belajar, berlatih, dan menerapkan kemampuan tersebut dalam kegiatan nyata.
Tentu, hasil setiap usaha dapat berbeda. Keberlanjutannya dipengaruhi banyak hal, mulai dari kemampuan penerima, kebutuhan pasar, hingga pendampingan yang tersedia. Namun, penyediaan sarana usaha dan pelatihan dapat menjadi salah satu langkah untuk membuka kesempatan tersebut.
Tidak semua warga membutuhkan peralatan untuk bekerja. Sebagian lainnya memerlukan bantuan untuk menunjang kehidupan sehari-hari, terutama kelompok lansia dan anak-anak.
Untuk kelompok tersebut, Dinas Sosial Sumsel menyalurkan bantuan berupa kursi roda, susu, handuk, selimut, biskuit, gula, dan tas anak.
Bantuan ini memiliki fungsi yang berbeda dari peralatan usaha. Kursi roda, misalnya, ditujukan untuk menunjang mobilitas penerima yang membutuhkan, sementara berbagai kebutuhan lainnya menjadi bagian dari dukungan sosial bagi kelompok sasaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan dasar sering kali menjadi bagian penting dari kesejahteraan keluarga. Dukungan yang sesuai dapat membantu meringankan sebagian beban dan memberikan perhatian kepada warga yang membutuhkan.
Di sinilah bantuan sosial dan bantuan produktif memiliki peran masing-masing. Bantuan sosial berfokus pada kebutuhan penerima, sedangkan bantuan usaha diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi dan membuka peluang memperoleh penghasilan. Keduanya membutuhkan penyaluran yang tepat agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan.
Dalam arahannya, Gubernur Sumsel H. Herman Deru menekankan menjadi wirausahawan tak cukup dengan modal dan peralatan. Pelaku usaha juga harus siap menghadapi persoalan, menyusun strategi, serta terus meningkatkan kemampuan.
“Kalau kita sudah menyatakan diri menjadi wirausahawan, lebih dari 50 persen pekerjaannya adalah mengelola masalah. Itu tidak mudah dan butuh strategi. Kunci utamanya adalah keberanian dan kemauan untuk terus upgrade diri,” ujar Herman Deru.
Ia juga mencontohkan program Sultan Muda, wadah yang diinisiasi Pemprov Sumsel untuk mengakomodasi minat, kreativitas, dan semangat anak muda agar berani terjun ke dunia usaha.
Herman Deru mengajak pelaku usaha meningkatkan pelayanan, menciptakan nilai tambah pada produk, dan tidak mudah terbuai gaya hidup. Ia juga mendorong masyarakat memulai usaha dari bidang yang diminati.
Menurut dia, Pemprov Sumsel bersama Bank Indonesia, OJK, dan pemerintah pusat siap memfasilitasi pengembangan kewirausahaan.
Ia berpesan pelaku usaha yang telah sukses perlu berkontribusi terhadap pembangunan daerah melalui pembayaran pajak.
Pesan menjelaskan, bantuan merupakan salah satu bagian dari proses membangun usaha. Peralatan dapat menjadi modal awal, tetapi keberanian menghadapi tantangan, kemauan belajar, dan kemampuan mengelola bisnis tetap diperlukan.
Penyerahan bantuan dapat berlangsung dalam satu kegiatan, tetapi manfaatnya membutuhkan proses yang lebih panjang. Mesin jahit perlu digunakan, peralatan usaha perlu dimanfaatkan, dan keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan perlu diterapkan. Sementara itu, bantuan sosial perlu menjangkau kebutuhan penerima secara tepat dan memberikan manfaat sesuai peruntukannya.
Keberhasilan program tidak hanya berkaitan dengan jumlah barang yang disalurkan. Hal yang juga penting ialah bagaimana bantuan digunakan, apakah usaha penerima dapat berkembang, dan sejauh mana kebutuhan kelompok rentan terbantu.
Senyum yang terlihat dalam foto penyerahan bantuan menjadi bagian dari suasana kegiatan hari itu. Namun, perjalanan setiap penerima setelah acara tentu berbeda-beda. Ada yang akan menggunakan peralatan untuk menunjang usaha, ada yang masih perlu mengasah keterampilan, dan ada pula yang membutuhkan dukungan sosial sesuai kondisi masing-masing.
Langkah ini setidaknya menuju kemandirian bisa dimulai dari sebuah mesin jahit. Bagi yang lain, kesempatan itu mungkin hadir melalui peralatan usaha, pelatihan, atau bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Oleh sebab itu, bantuan menemukan maknanya ketika dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kehidupan. Bukan hanya tentang apa yang diterima hari ini, melainkan juga tentang kesempatan yang terbuka setelahnya.
Sebab, asa untuk hidup lebih baik tidak selalu tumbuh melalui langkah besar. Terkadang, ia bermula dari sebuah alat untuk bekerja, keterampilan yang kembali diasah, atau dukungan yang datang ketika dibutuhkan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
