Mengapa Kabut Asap Karhutla Sulit Hilang? Ada Fenomena Atmosfer yang Ikut Berperan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 48 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya dipengaruhi banyaknya api yang membakar vegetasi. Kondisi atmosfer juga menentukan apakah asap mudah menyebar atau justru bertahan di dekat permukaan bumi.
Salah satu fenomena yang dapat memperburuk kondisi tersebut adalah inversi suhu. Keadaan ini membuat pergerakan udara ke atas terhambat sehingga polutan yang dilepaskan dari kebakaran bisa terkumpul di lapisan atmosfer dekat permukaan.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), inversi suhu dapat menghambat penyebaran polutan, termasuk partikel halus PM2.5. Akibatnya, kualitas udara di suatu wilayah berpotensi memburuk meskipun tidak terjadi penambahan sumber pencemar yang signifikan.
Asap karhutla tidak selalu berhenti di sekitar lokasi kebakaran. Partikel dan gas yang dihasilkan dapat terbawa angin menuju daerah lain, sehingga masyarakat tetap merasakan dampaknya meskipun titik api berada cukup jauh dari permukiman.
Kondisi cuaca turut menentukan seberapa luas asap menyebar. Ketika angin membantu pergerakan udara, asap dapat terdorong menjauh dari sumbernya. Sebaliknya, saat atmosfer stabil dan pergerakan udara terbatas, polutan lebih sulit terdispersi.
Situasi ini menjelaskan mengapa kabut asap dapat bertahan dalam kondisi tertentu. Persoalannya bukan semata-mata seberapa banyak asap yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana atmosfer mengangkut dan menyebarkannya.
Pada umumnya, suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian. Namun, saat terjadi inversi suhu, lapisan udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan. Susunan ini membuat atmosfer lebih stabil dan menghambat pergerakan udara secara vertikal. Asap serta polutan yang berada di lapisan bawah pun lebih sulit bergerak naik dan menyebar.
Fenomena tersebut dapat berlangsung selama beberapa jam hingga lebih lama, bergantung pada kondisi cuaca setempat. Ketika inversi melemah dan pergerakan udara kembali mendukung pencampuran atmosfer, polutan dapat lebih mudah terdispersi.
Penjelasan mengenai mekanisme ini juga dimuat dalam publikasi BMKG tentang inversi suhu dan pengaruhnya terhadap kualitas udara.
Memadamkan api tetap menjadi langkah utama dalam penanganan karhutla. Namun, ketika asap sudah menyebar, upaya mengendalikan kebakaran dan mengurangi dampak pencemaran udara menjadi dua persoalan yang saling berkaitan, tetapi tidak sepenuhnya sama.
Asap mengandung berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Karena itu, berkurangnya asap yang terlihat belum tentu menunjukkan bahwa kualitas udara sudah sepenuhnya membaik.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menjelaskan asap kebakaran merupakan campuran kompleks berbagai gas dan partikel. Konsentrasi partikel di udara dapat meningkat tajam selama kebakaran dan menyebabkan penurunan jarak pandang.
Informasi lebih lanjut tersedia dalam publikasi EPA mengenai komposisi asap kebakaran dan risiko partikel halus.
Modifikasi atmosfer menjadi salah satu opsi mitigasi
Upaya mengurangi dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api. Dalam kondisi tertentu, modifikasi atmosfer juga diuji sebagai salah satu pendekatan untuk membantu mengatasi asap yang terperangkap di udara.
Pada Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan uji coba operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice di Sumatera Selatan. Penyemaian tersebut difokuskan di sekitar Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, untuk membantu meningkatkan jarak pandang yang terganggu oleh asap karhutla.
Metode ini berbeda dari penyemaian yang ditujukan untuk merangsang hujan. Penggunaan dry ice dalam operasi tersebut diarahkan untuk memengaruhi kondisi atmosfer agar asap yang terperangkap dapat bergerak dan menyebar.
Meski demikian, perubahan kondisi atmosfer tidak otomatis menghilangkan seluruh polutan. Hasil penerapan metode tersebut perlu dinilai berdasarkan pengamatan meteorologi, perubahan jarak pandang, serta pengukuran kualitas udara sebelum dan sesudah operasi.
Ketika kabut asap menebal, jarak pandang menjadi salah satu indikator penting, terutama bagi keselamatan transportasi. Namun, indikator tersebut tidak cukup untuk menggambarkan seluruh kondisi pencemaran udara.
Udara yang terlihat lebih jernih belum tentu bebas dari partikel berbahaya. Oleh karena itu, pengukuran PM2.5 dan pemantauan kualitas udara tetap diperlukan untuk mengetahui apakah paparan polutan benar-benar berkurang.
BMKG menyediakan informasi mengenai pemantauan PM2.5 dan prediksi sebaran partikulat kabut asap di Indonesia. Data tersebut dapat membantu masyarakat memahami kondisi udara sekaligus menjadi salah satu sumber informasi dalam evaluasi penanganan kabut asap.
Modifikasi atmosfer perlu dipandang sebagai bagian dari upaya mitigasi, bukan pengganti pencegahan dan pemadaman karhutla. Pengendalian sumber kebakaran, pemantauan kondisi atmosfer, dan pengukuran kualitas udara tetap diperlukan agar dampak kabut asap terhadap masyarakat dapat ditekan secara berkelanjutan. (***) /berbagai sumber
- Penulis: Irwan Wahyudi
