Jumat, 16 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Lingkungan » Mengapa Kabut Asap Karhutla Sulit Hilang? Ada Fenomena Atmosfer yang Ikut Berperan

Mengapa Kabut Asap Karhutla Sulit Hilang? Ada Fenomena Atmosfer yang Ikut Berperan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month 48 menit yang lalu
  • visibility 6
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya dipengaruhi banyaknya api yang membakar vegetasi. Kondisi atmosfer juga menentukan apakah asap mudah menyebar atau justru bertahan di dekat permukaan bumi.

Salah satu fenomena yang dapat memperburuk kondisi tersebut adalah inversi suhu. Keadaan ini membuat pergerakan udara ke atas terhambat sehingga polutan yang dilepaskan dari kebakaran bisa terkumpul di lapisan atmosfer dekat permukaan.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), inversi suhu dapat menghambat penyebaran polutan, termasuk partikel halus PM2.5. Akibatnya, kualitas udara di suatu wilayah berpotensi memburuk meskipun tidak terjadi penambahan sumber pencemar yang signifikan.

Asap karhutla tidak selalu berhenti di sekitar lokasi kebakaran. Partikel dan gas yang dihasilkan dapat terbawa angin menuju daerah lain, sehingga masyarakat tetap merasakan dampaknya meskipun titik api berada cukup jauh dari permukiman.

Kondisi cuaca turut menentukan seberapa luas asap menyebar. Ketika angin membantu pergerakan udara, asap dapat terdorong menjauh dari sumbernya. Sebaliknya, saat atmosfer stabil dan pergerakan udara terbatas, polutan lebih sulit terdispersi.

Situasi ini menjelaskan mengapa kabut asap dapat bertahan dalam kondisi tertentu. Persoalannya bukan semata-mata seberapa banyak asap yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana atmosfer mengangkut dan menyebarkannya.

Pada umumnya, suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian. Namun, saat terjadi inversi suhu, lapisan udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan. Susunan ini membuat atmosfer lebih stabil dan menghambat pergerakan udara secara vertikal. Asap serta polutan yang berada di lapisan bawah pun lebih sulit bergerak naik dan menyebar.

Fenomena tersebut dapat berlangsung selama beberapa jam hingga lebih lama, bergantung pada kondisi cuaca setempat. Ketika inversi melemah dan pergerakan udara kembali mendukung pencampuran atmosfer, polutan dapat lebih mudah terdispersi.

Penjelasan mengenai mekanisme ini juga dimuat dalam publikasi BMKG tentang inversi suhu dan pengaruhnya terhadap kualitas udara.

Memadamkan api tetap menjadi langkah utama dalam penanganan karhutla. Namun, ketika asap sudah menyebar, upaya mengendalikan kebakaran dan mengurangi dampak pencemaran udara menjadi dua persoalan yang saling berkaitan, tetapi tidak sepenuhnya sama.

Asap mengandung berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Karena itu, berkurangnya asap yang terlihat belum tentu menunjukkan bahwa kualitas udara sudah sepenuhnya membaik.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menjelaskan asap kebakaran merupakan campuran kompleks berbagai gas dan partikel. Konsentrasi partikel di udara dapat meningkat tajam selama kebakaran dan menyebabkan penurunan jarak pandang.

Informasi lebih lanjut tersedia dalam publikasi EPA mengenai komposisi asap kebakaran dan risiko partikel halus.

Modifikasi atmosfer menjadi salah satu opsi mitigasi

Upaya mengurangi dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api. Dalam kondisi tertentu, modifikasi atmosfer juga diuji sebagai salah satu pendekatan untuk membantu mengatasi asap yang terperangkap di udara.

Pada Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan uji coba operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice di Sumatera Selatan. Penyemaian tersebut difokuskan di sekitar Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, untuk membantu meningkatkan jarak pandang yang terganggu oleh asap karhutla.

Metode ini berbeda dari penyemaian yang ditujukan untuk merangsang hujan. Penggunaan dry ice dalam operasi tersebut diarahkan untuk memengaruhi kondisi atmosfer agar asap yang terperangkap dapat bergerak dan menyebar.

Meski demikian, perubahan kondisi atmosfer tidak otomatis menghilangkan seluruh polutan. Hasil penerapan metode tersebut perlu dinilai berdasarkan pengamatan meteorologi, perubahan jarak pandang, serta pengukuran kualitas udara sebelum dan sesudah operasi.

Ketika kabut asap menebal, jarak pandang menjadi salah satu indikator penting, terutama bagi keselamatan transportasi. Namun, indikator tersebut tidak cukup untuk menggambarkan seluruh kondisi pencemaran udara.

Udara yang terlihat lebih jernih belum tentu bebas dari partikel berbahaya. Oleh karena itu, pengukuran PM2.5 dan pemantauan kualitas udara tetap diperlukan untuk mengetahui apakah paparan polutan benar-benar berkurang.

BMKG menyediakan informasi mengenai pemantauan PM2.5 dan prediksi sebaran partikulat kabut asap di Indonesia. Data tersebut dapat membantu masyarakat memahami kondisi udara sekaligus menjadi salah satu sumber informasi dalam evaluasi penanganan kabut asap.

Modifikasi atmosfer perlu dipandang sebagai bagian dari upaya mitigasi, bukan pengganti pencegahan dan pemadaman karhutla. Pengendalian sumber kebakaran, pemantauan kondisi atmosfer, dan pengukuran kualitas udara tetap diperlukan agar dampak kabut asap terhadap masyarakat dapat ditekan secara berkelanjutan. (***) /berbagai sumber

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dihadapan Anggota APTISI, Gubernur Sebut 3 Komitmen Program Pembangunan Sumsel

    Dihadapan Anggota APTISI, Gubernur Sebut 3 Komitmen Program Pembangunan Sumsel

    • calendar_month Jumat, 9 Feb 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 828
    • 0Komentar

    Pada 2010, Jakabaring Sport City (JSC) hanya berupa rawa-rawa yang berada di tengah Kota Palembang.

  • Dodi Ajak Mahasiswa/wi Rammaniyah Hadapi Revolusi Industri 4.0

    Dodi Ajak Mahasiswa/wi Rammaniyah Hadapi Revolusi Industri 4.0

    • calendar_month Selasa, 5 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.163
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Sekayu- Saat ini kita semua segera masuk ke satu tahapan revolusi industri yang dinamakan Revolusi Industri 4.0, dalam kesempatan memberikan kuliah umum di Perguruan Tinggi Rahmaniyah, Selasa (5/3/2019). Bupati Musi Banyuasin [Muba] Dodi Reza Alex Noerdin mengajak seluruh mahasiswa-mahasiswi dapat menghadapi revolusi industri 4.0 bahkan mendapatkan untung saat dihadapkan dengan revolusi industri 4.0. “Revolusi industri […]

  • Presiden Nyatakan, Makna Iduladha sebagai Momentum Penguatan Solidaritas Bangsa

    Presiden Nyatakan, Makna Iduladha sebagai Momentum Penguatan Solidaritas Bangsa

    • calendar_month Selasa, 20 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 920
    • 0Komentar

    PRESIDEN Joko Widodo memaknai Iduladha tahun ini sebagai momentum untuk menguatkan solidaritas untuk bangkit bersama menghadapi pandemi Covid-19. Menurut Presiden, Iduladha mengandung pesan mulia, pengorbanan, dan kemanusiaan yang patut menjadi pegangan bagi bangsa dan negara. Hal tersebut disampaikan Presiden dalam acara Takbir Akbar Hari Raya Iduladha 1442 H yang dilaksanakan melalui konferensi video dari Istana […]

  • Pemberangkatan Haji Belum Jelas, Persiapan Terus Dilaksanakan

    Pemberangkatan Haji Belum Jelas, Persiapan Terus Dilaksanakan

    • calendar_month Kamis, 3 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.104
    • 0Komentar

    PERSIAPAN terus dilakukan Kementerian Agama, meskipun hingga hari ini Pemerintah Arab Saudi belum kunjung menyampaikan informasi resmi terkait teknis penyelenggaraan ibadah haji 1442 H / 2021 M. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah penyiapan asrama haji. “Bahwa kami, Kemenag, khususnya Ditjen PHU, siap melakukan apapun keputusan yang akan ditetapkan oleh pemerintah hari ini,” tutur Plt […]

  • Gubernur Optimistis Sumsel  Sukses Jadi Tuan Rumah  World Cup U-20

    Gubernur Optimistis Sumsel Sukses Jadi Tuan Rumah World Cup U-20

    • calendar_month Rabu, 24 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 815
    • 0Komentar

    DITUNJUKNYA Sumatera Selatan menjadi salah satu tuan rumah dalam perhelatan World Cup U-20 pada tahun 2023 nanti, membuat Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus melakukan perbaikan lapangan latihan guna menyongsong Perhelatan Olahraga Internasional tersebut. Setidaknya ada tiga lapangan latihan yang selesai direnovasi diantaranya lapangan stadion atletik, lapangan panahan, dan lapangan baseball. Diserahkan secara simbolis, ditandai dengan […]

  • Tapir Betina Terjebak di Kebun Sawit Mesuji, Cuma 800 Meter dari Tol

    Tapir Betina Terjebak di Kebun Sawit Mesuji, Cuma 800 Meter dari Tol

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 33
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID MESUJI – Seekor tapir betina tiba-tiba ditemukan terjebak di saluran air di tengah areal perkebunan sawit PT Pematang Agri Lestari (PAL), Kabupaten Mesuji, Lampung. Yang membuat penanganan satwa dilindungi ini tidak bisa dilakukan sembarangan, lokasi tapir ditemukan hanya berjarak sekitar 800 meter dari ruas Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung. Tapir tersebut sempat terlihat berkeliaran di […]

expand_less
WordPress Archive Product Options for WooCommerce Product password protector for WooCommerce Product Price Info For WooCommerce Product Sales Report Pro for WooCommerce Pro Product Variation Table of WooCommerce Product Vendors for WooCommerce Products Share On WhatsApp Plugin | WooCommerce WordPress Products View in Room Popup | WooCommerce WordPress Profecient - Multipurpose Elementor Business & WooCommerce WordPress Theme Professional WordPress Theme