GFSR 2026, 20 Tahun Berlalu, Pelajaran Gempa Yogyakarta Dibawa BNPB ke Dunia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan membawa pembelajaran dari Gempa Yogyakarta 2006 ke The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR 2026) yang digelar di Jakarta pada September 2026. Pengalaman Yogyakarta dinilai penting sebagai contoh pembangunan ketangguhan masyarakat berbasis pembelajaran lokal.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati menyampaikan hal tersebut seusai bertemu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, kemarin.
Dalam pertemuan itu, BNPB mengundang Sri Sultan untuk hadir sekaligus memberikan keynote address pada GFSR 2026.
Raditya mengatakan pengalaman Yogyakarta dalam menghadapi Gempa Yogyakarta 2006 memiliki nilai strategis untuk dibagikan di forum global. Tahun 2026 menjadi momentum 20 tahun gempa tersebut, sehingga pembelajaran mengenai kepemimpinan, penanganan bencana, pemulihan, dan penguatan kapasitas masyarakat kembali relevan.
“Kami dari BNPB saat ini sowan Ngarsa Dalem untuk mengundang beliau pada acara Global Forum for Sustainable Resilience di Jakarta. Yogyakarta memiliki pembelajaran yang sangat banyak di bidang kebencanaan,” ujar Raditya.
Raditya menambahkan pengalaman Yogyakarta menyebutkan ketangguhan tidak hanya bergantung pada kapasitas pemerintah, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk beradaptasi, bekerja bersama, dan membangun kembali kehidupan setelah bencana.
“Resiliensi bangsa pada dasarnya dibangun dari masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu melihat bagaimana pembelajaran lokal dapat menjadi fondasi untuk memperkuat ketahanan masyarakat, kemudian terhubung dengan sistem di tingkat daerah dan nasional,” katanya.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari gagasan Sustainable Resilience akan dibawa Indonesia dalam GFSR 2026. BNPB mendorong pembangunan ketangguhan, tidak hanya berorientasi pada kemampuan menghadapi bencana, tetapi juga menjaga keberlanjutan pembangunan di tengah risiko bencana, perubahan iklim, dan persoalan lingkungan.
BNPB menilai pembelajaran dari daerah diperlukan agar konsep resiliensi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Pengalaman Yogyakarta dalam menghadapi Gempa 2006 dan erupsi Gunung Merapi 2010 menjadi salah satu contoh yang dinilai relevan untuk pembelajaran tersebut.
Sri Sultan menilai, baik undangan BNPB untuk menghadiri GFSR 2026 dan menyampaikan akan mengagendakan kehadirannya dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung pada September mendatang.
GFSR 2026 akan diselenggarakan bersamaan dengan rangkaian Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) ke-5 di Jakarta. Forum ini menjadi bagian dari rangkaian Road to GFSR 2026 yang sebelumnya dilakukan untuk menggali praktik baik dan pembelajaran resiliensi dari berbagai daerah di Indonesia.
Melalui forum tersebut, BNPB ingin membawa pengalaman dan pembelajaran lokal Indonesia ke tingkat regional dan global. Bagi BNPB, pengalaman Yogyakarta menunjukkan bahwa resiliensi dapat dibangun dari masyarakat dan kemudian diperkuat melalui dukungan pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
