Hotspot Sumsel Turun, tetapi Palembang Masih Dikepung Asap, Apa Penyebabnya?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 17 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : sumselterkini
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Penurunan jumlah titik panas di Sumatera Selatan (Sumsel) belum serta-merta mengakhiri ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski data satelit menunjukkan hotspot berkurang, kondisi cuaca yang relatif kering masih menjadi tantangan dalam pengendalian kebakaran di wilayah ini.
Kementerian Kehutanan mencatat 130 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumatera Selatan hingga Kamis (8/10/2026) pukul 21.10 WIB. Jumlah tersebut turun dari 224 titik pada hari sebelumnya.
Namun, Sumsel masih menempati posisi teratas di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Penurunan hotspot belum cukup untuk mengendurkan kewaspadaan, terutama ketika musim kemarau masih memengaruhi sebagian besar wilayah Sumsel.
Sehingga kabut asap yang masih mengganggu Palembang memunculkan pertanyaan, mengapa kondisi udara belum tentu langsung membaik ketika jumlah titik panas menurun?
Hujan yang Dinanti Belum Merata
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca perkembangan karhutla di Sumsel.
Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), melalui pembaruan informasi iklim pada 30 September 2026, memprakirakan seluruh wilayah Sumatera Selatan mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter, pada dasarian pertama Oktober atau periode 1–10 Oktober.
BMKG juga memperingatkan potensi peningkatan hotspot di daerah rawan karhutla akibat berkurangnya curah hujan.
Dalam pemantauan hari tanpa hujan, BMKG mengidentifikasi kekeringan meteorologis ekstrem di sebagian besar wilayah Ogan Komering Ilir (OKI), sebagian wilayah Ogan Ilir dan Banyuasin, serta sebagian besar Kota Palembang.
Hal ini tentu menjadi perhatian, karena minimnya hujan dapat membuat lahan tetap kering. Pada kawasan gambut, upaya menjaga kelembapan tanah dan ketersediaan air menjadi penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.
Meski begitu, prakiraan curah hujan rendah tidak berarti hujan sama sekali tidak akan turun. Perkembangan cuaca aktual tetap perlu dipantau, karena kondisi atmosfer dapat berubah dari waktu ke waktu.
Penurunan Terjadi di Tingkat Nasional
Data Kementerian Kehutanan memperlihatkan penurunan hotspot juga terjadi secara nasional. Melalui Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), kementerian mencatat 387 hotspot berkepercayaan tinggi pada Kamis (8/10/2026) pukul 21.10 WIB. Sehari sebelumnya, jumlahnya mencapai 1.176 titik.
Dengan demikian, terjadi penurunan sebanyak 789 titik dalam satu hari berdasarkan pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Tengah mencatat 86 titik, turun dari 225 titik. Kalimantan Barat turun dari 47 menjadi 12 titik, sedangkan Jambi berkurang dari 16 menjadi tiga titik. Riau tetap nihil.
Kalimantan Selatan menjadi satu-satunya provinsi prioritas yang mengalami kenaikan, yakni dari 31 menjadi 37 titik.
Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 268 hotspot berkepercayaan tinggi, turun dari 543 titik sehari sebelumnya.
Penurunan ini menjadi perkembangan positif dalam pemantauan karhutla. Namun, Sumatera Selatan masih membutuhkan perhatian khusus karena jumlah hotspot-nya tetap paling tinggi dibandingkan provinsi lain dalam kelompok prioritas tersebut.
Mengapa Asap Bisa Bertahan?
Jumlah hotspot dan kondisi asap merupakan dua indikator yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu berubah secara bersamaan.
Hotspot merupakan titik yang terdeteksi melalui pengamatan satelit berdasarkan anomali panas. Data tersebut membantu menunjukkan indikasi aktivitas kebakaran, tetapi bukan hitungan pasti jumlah kebakaran ataupun ukuran langsung konsentrasi asap di udara.
Asap yang sudah terlepas ke atmosfer dapat bergerak mengikuti arah angin dan menyebar ke wilayah lain. Kondisi atmosfer juga memengaruhi bagaimana asap tersebar atau bertahan di suatu kawasan.
Oleh sebab itu, penurunan hotspot di Sumsel tidak otomatis membuat udara Palembang langsung bersih. Untuk mengetahui sumber asap dan mengapa dampaknya masih terasa, diperlukan informasi tambahan mengenai arah angin, sebaran asap, serta pengukuran kualitas udara pada waktu yang sama.
Data Kementerian Kehutanan dan prakiraan iklim BMKG memberikan gambaran mengenai perkembangan titik panas dan kondisi yang mendukung risiko karhutla. Namun, keduanya perlu dilengkapi pengamatan atmosfer untuk menjelaskan kondisi asap secara lebih spesifik.
Kewaspadaan Belum Bisa Dikurangi
Kementerian Kehutanan menegaskan pengendalian karhutla tetap harus diperkuat meskipun jumlah hotspot menunjukkan penurunan. Perubahan kondisi di lapangan dapat berlangsung cepat, sementara risiko di setiap wilayah tidak selalu sama.
Di Sumatera Selatan, upaya pencegahan perlu berjalan bersamaan dengan pemadaman di lokasi kebakaran dan pemantauan kawasan rawan, terutama saat curah hujan masih rendah.
Masyarakat juga perlu mengikuti pembaruan cuaca dan kualitas udara dari instansi resmi. Ketika asap menebal atau kualitas udara memburuk, aktivitas berat di luar ruangan sebaiknya dibatasi.
Penurunan hotspot memang menjadi kabar baik. Namun, selama kondisi lahan masih rawan terbakar dan asap masih mengganggu aktivitas warga, pengendalian karhutla belum dapat dianggap selesai. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
