Rabu, 12 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sumsel » Jembatan Lalan & Tongkang Batubara, Kisah Terlalu Sering Bertabrakan

Jembatan Lalan & Tongkang Batubara, Kisah Terlalu Sering Bertabrakan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • visibility 22
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERAIRAN Sungai Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA) Sumatera Selatan  (Sumsel) yang arusnya tenang terdengar suara mesin tongkang, tongkang angkutan batubara menjadi sahabat sungai itu bahkan mungkin lebih akrab dari bunyi dayung perahu warga.

Sungai itu menjadi jalur sibuk industri batubara, siang malam, kapal-kapal besar hilir mudik membawa muatan hitam dari hulu menuju pelabuhan.

Meski demikian, masalahnya, sungai itu tidak ikut melebar. Begitu pula Jembatan Lalan. Ia tetap berdiri dengan ukuran yang sama, sementara tongkang-tongkang yang melintas di bawahnya terasa makin besar dan makin padat. Akibatnya, benturan demi benturan pun terjadi. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tapi sudah lima kali.

Kalau ini pertandingan tinju, mungkin wasit sudah lama menghentikan laga.

Insiden terbaru itulah yang akhirnya membuat Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan turun tangan. Gubernur Sumsel H. Herman Deru menggelar rapat koordinasi khusus bersama Bupati Musi Banyuasin H. Toha Tohet dan Asosiasi Pengusaha Batubara Jalur Lalan (AP6L), Selasa (19/5/2026).

Hasil rapatnya cukup jelas ukuran tongkang harus diperkecil maksimal 230 feet, pengaman jembatan atau fender wajib dipasang, dan jadwal lalu lintas sungai akan diatur lebih ketat.

“Kita sepakat proses ini harus dipercepat dengan solusi konkret. Jalan keluarnya adalah memperkecil ukuran kapal serta membangun pagar pengamanan yang memadai,” ujar Herman Deru.

Keputusan itu terdengar teknis. Tapi sebenarnya, persoalan di Sungai Lalan jauh lebih besar daripada sekadar ukuran kapal.

Ini adalah cerita tentang sungai yang berubah terlalu cepat.

Di banyak daerah penghasil sumber daya alam, pembangunan sering melaju seperti truk tanpa rem. Aktivitas ekonomi tumbuh pesat, lalu lintas industri makin ramai, sementara infrastruktur lama dipaksa menyesuaikan diri dengan beban baru.

Sungai Lalan adalah salah satu contohnya.

Kini ia bukan lagi sekadar aliran air tempat warga mencari ikan atau jalur transportasi kecil antardesa. Sungai itu perlahan menjelma menjadi “tol air” bagi industri tambang. Tongkang besar datang silih berganti, membawa batubara dalam jumlah besar demi memenuhi denyut ekonomi yang terus bergerak.

Namun di tengah sibuknya arus industri itu, ada masyarakat yang ikut menanggung rasa cemas.

Warga sebenarnya sempat mendesak agar jalur sungai ditutup total. Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan. Sebab setiap kali insiden terjadi, aktivitas masyarakat ikut terganggu. Mobilitas tersendat, rasa aman menurun, dan muncul ketakutan kalau benturan berikutnya akan lebih parah.

Bupati Muba H. Toha Tohet pun mengakui keresahan tersebut. Karena itu, pembatasan ukuran tongkang diharapkan menjadi jalan tengah antara kepentingan ekonomi dan keselamatan masyarakat.

Dan memang, mencari titik tengah di Sungai Lalan bukan perkara mudah.

Penggera ekonomi

Batubara masih menjadi salah satu penggerak ekonomi penting, aktivitas pengangkutan tidak mungkin dihentikan begitu saja. Tapi di sisi lain, jembatan juga bukan benda yang bisa terus diuji ketahanannya tanpa batas.

Sebab jembatan bukan cuma dibangun dari tiang dan pondasi besi dan beton.

Di atasnya ada anak sekolah yang berangkat pagi-pagi. Ada pedagang kecil yang membawa dagangan ke pasar. Ada warga yang harus melintas untuk bekerja, berobat, atau sekadar pulang ke rumah.

Ketika jembatan terganggu, denyut kehidupan masyarakat ikut terguncang.

Karena itu, pemasangan fender dan pembatasan ukuran tongkang sebenarnya bukan sekadar proyek teknis. Ini adalah pengingat bahwa pembangunan tidak boleh hanya menghitung untung rugi ekonomi, tetapi juga harus menjaga ruang hidup masyarakat.

Apalagi lima kali tabrakan bukan angka kecil.

Kalau sebuah gelas jatuh lima kali dari meja, orang mungkin mulai sadar ada yang salah dengan cara meletakkannya. Maka ketika jembatan ditabrak berulang kali, publik tentu berharap evaluasi dilakukan lebih serius, bukan sekadar menunggu insiden berikutnya.

Untungnya, langkah cepat mulai terlihat.

Setidaknya kini ada upaya memperbaiki tata kelola lalu lintas sungai, memperketat ukuran tongkang, dan memasang pengaman tambahan. Meski belum tentu langsung menyelesaikan semua persoalan, langkah itu memberi sinyal bahwa keselamatan publik mulai ditempatkan di depan.

Sungai Lalan pada akhirnya bukan cuma soal batubara dan tongkang. Ia juga tentang bagaimana sebuah daerah menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keselamatan warganya.

Sebab ekonomi memang penting. Tapi jembatan yang berdiri kokoh, rasa aman masyarakat, dan perjalanan warga yang tidak dihantui rasa waswas, itu juga tidak kalah penting. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dampak Gempa Malang, 6 Meninggal Dunia, 1 Luka Berat, Lebih dari 300 Rumah Rusak di Beberapa Wilayah Jatim

    Dampak Gempa Malang, 6 Meninggal Dunia, 1 Luka Berat, Lebih dari 300 Rumah Rusak di Beberapa Wilayah Jatim

    • calendar_month Sabtu, 10 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 985
    • 0Komentar

    GEMPA M6,1 berdampak pada jatuhnya korban jiwa dan kerusakan bangunan. BNPB terus memutakhirkan data berdasarkan kaji cepat dari BPBD di wilayah Provinsi Jawa Timur. Hingga kini, petugas di lapangan masih terus melakukan  penilaian dampak dan kebutuhan pascagempa. Melansir situs resmi BNPB,data BNPB per hari ini, Sabtu (10/4/2020), pukul 18.00 WIB, mencatat total warga meninggal dunia berjumlah […]

  • Banyuasin Bakal Punya Islamic Center, Askolani : Insya Allah Jadi Ikon Peradaban Islam

    Banyuasin Bakal Punya Islamic Center, Askolani : Insya Allah Jadi Ikon Peradaban Islam

    • calendar_month Senin, 16 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.592
    • 0Komentar

    “BAZNAS, Rumah Tapiz dan Islamic Center merupakan wujud dari kabupaten Banyuasin religius, muda-mudahan dengan bersedekah, infak dan melantunnya ayat-ayat suci Al-Qur’an kabupaten Banyuasin selalu mendapatkan berkah dari Allah SWT, tanpa berkah darinya apalah arti usaha kita sebagai manusia”

  • Terjangkau di Kantong Masyarakat, Gubernur Minta Punti Kayu Dimaksimalkan

    Terjangkau di Kantong Masyarakat, Gubernur Minta Punti Kayu Dimaksimalkan

    • calendar_month Jumat, 23 Nov 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.618
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID,PALEMBANG –  Gubernur Sumsel Herman Deru meminta Disbudpar dan Forum Pesona Sriwijaya memaksimalkan kembali Wisata Hutan Puntikayu [TWA] yang ada di tengah kota Palembang sebagai destinasi wisata baru di Sumsel. Menurutnya TWA Puntikayu sangat potensial hanya saja pengelolaannya selama ini belum maksimal. Padahal TWA ini diminati masyarakat sebagai alternatif destinasi wisata yang terjangkau di kantong. […]

  • Yang Dilakukan Bupati Muba Saat Warganya Alami Musibah, Apa Itu ?

    Yang Dilakukan Bupati Muba Saat Warganya Alami Musibah, Apa Itu ?

    • calendar_month Senin, 29 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.019
    • 0Komentar

    KEBAKARAN menjadi momok menakutkan bagi warga, kembali lagi Kabupaten Musi Banyuasin mendapatkan musibah kebakaran di Desa Lumpatan, Kecamatan Sekayu  pada pukul 09:00 WIB, menghanguskan satu buah rumah milik Suami Zaniper dan istri bernama Jauriyah, Senin (29/07/2019). Kejadian Kebakaran ini, direspon cepat pemerintah Kabupaten Muba, karena Pemerintah Muba siap membantu melalui BPBD dan Tagana 24 jam untuk musibah […]

  • Salah Satu Kunci Pengendalian Inflasi

    Salah Satu Kunci Pengendalian Inflasi

    • calendar_month Senin, 24 Okt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 644
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, Sulsel – Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) digelar di Sulawesi Selatan [Sulsel] guna meningkatkan produksi dan menjaga kelancaran distribusi, termasuk memperpendek rantai distribusi, menjadi kunci dalam pengendalian inflasi. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) wilayah Sulsel mencanangkan program Sipeppa, yaitu inovasi yang memperpendek rantai distribusi melalui kerja sama antara asosiasi toko ritel dengan distributor, dan mengoptimalisasi pasokan […]

  • Tutup Safari Ramadhan, Alex Ungkap Rasa Bahagia 

    Tutup Safari Ramadhan, Alex Ungkap Rasa Bahagia 

    • calendar_month Minggu, 10 Jun 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.242
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, Palembang – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H. Alex Noerdin resmi menutup Pengajian Ramadhan Provinsi Sumsel 1439 H / 2018 M. Pengajian ramadhan yang dilakukan oleh OPD pemprov sumsel telah dilakukan  ke 22 kali digelar di Griya Agung, berbarengan pula shalat Isya, Tarawih dan Witir Bersama, kemarin. Selain Gubernur Alex Noerdin, kegiatan ini pula  dihadiri  […]

expand_less
WordPress Archive Pharmaton – Medical and Pharmacy WordPress Theme Phlox Pro – Elementor MultiPurpose WordPress Theme PHLY – Versatile Coming Soon Template PhoneRepair – Mobile Device Shop WordPress Theme Photas – Email Marketing Company Elementor Template Kit Photo Nexus | WordPress Theme Photo Stack Addon for Elementor PhotoCluster 1.8 | Gallery Module for Gmedia plugin Photographer WordPress Theme Photography Addons for WPBakery Page Builder – Photobakery