Hotspot Sumsel Tembus 142, BMKG Ungkap Sumsel Masih Kering
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 8 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : one
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) belum sepenuhnya lepas dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah kondisi cuaca yang masih kering, jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah ini justru mengalami peningkatan cukup tajam.
Kementerian Kehutanan mencatat 142 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Sumsel berdasarkan pemantauan hingga Senin (5/10) pukul 21.15 WIB.
Sehari sebelumnya, jumlah yang terdeteksi masih 75 titik. Artinya, terdapat tambahan 67 hotspot dalam sehari, atau meningkat sekitar 89 persen.
Angka ini menempatkan Sumsel sebagai wilayah dengan hotspot high confidence terbanyak kedua di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Kalimantan Tengah berada di posisi pertama dengan 569 titik. Meski demikian, angka 142 tersebut tidak serta-merta berarti ada 142 lokasi kebakaran.
Kementerian Kehutanan dalam laporan resmi dilamannya menjelaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Setiap titik masih perlu diperiksa untuk memastikan apakah benar berkaitan dengan kebakaran. Satu kejadian kebakaran bahkan dapat menghasilkan lebih dari satu hotspot.
Cuaca Sumsel Masih Kering
Lonjakan hotspot ini terjadi ketika kondisi iklim Sumsel belum banyak berubah. Data Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan BMKG menunjukkan curah hujan pada dasarian pertama Oktober diprediksi berada dalam kategori rendah, yakni 0–50 milimeter.
Sifat hujan di wilayah Sumsel juga diprediksi di bawah normal. Kondisi ini juga membuat lahan yang telah lama tidak mendapat hujan lebih mudah mengering. Ketika ada sumber panas atau aktivitas pembakaran, api berpotensi lebih cepat berkembang, terutama di wilayah dengan vegetasi dan lahan gambut yang kering.
BMKG juga memberikan peringatan kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah Sumsel, termasuk Palembang, Banyuasin, Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir (OKI).
Situasi ini menjadi perhatian karena periode September hingga Oktober masih berada dalam fase kering. Hujan yang muncul pun belum merata dan cenderung bersifat sporadis.
OKI dan Sejumlah Wilayah Masih Jadi Perhatian
Sementara OKI menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius dalam penanganan karhutla Sumsel. Selain OKI, aktivitas penanganan juga masih berlangsung di wilayah Musi Banyuasin (Muba).
Di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Muba, ratusan personel gabungan masih dikerahkan untuk menangani karhutla. Operasi dilakukan melalui pemadaman dari darat dan dukungan udara.
Kondisi ini menunjukkan persoalan karhutla di Sumsel bukan hanya mengenai jumlah hotspot yang terdeteksi satelit, tetapi juga bagaimana indikasi tersebut diterjemahkan menjadi kondisi nyata di lapangan.
Pemadaman Tak Hanya Mengejar Api
Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD dan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan serta penanganan di wilayah yang terindikasi mengalami kebakaran.
Selain pemadaman, petugas melakukan patroli, pengecekan lapangan, penyekatan agar api tidak meluas, pembasahan dan pendinginan. Penanganan menjadi lebih rumit ketika api berada di kawasan gambut. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali muncul meski kobaran di permukaan telah berhasil dipadamkan.
Proses pendinginan tetap dilakukan setelah api terlihat padam untuk memastikan tidak ada bara yang masih tersisa.
Warga Diminta Tak Membakar Lahan
Dengan kondisi cuaca yang masih kering, masyarakat diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan menggunakan api. Warga juga diminta segera melapor apabila menemukan asap, titik api atau aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu karhutla.
Kenaikan hotspot dari 75 menjadi 142 titik dalam pemantauan sehari menjadi pengingat bahwa risiko karhutla di Sumsel masih tinggi.
Apalagi, kondisi hujan belum merata dan sejumlah wilayah masih mengalami periode kering. Pemantauan hotspot dan kondisi lapangan pun masih menjadi kunci untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
