Minggu, 27 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » Jamur Ternyata Kaya Protein, Potensinya Tak Cuma untuk Lauk

Jamur Ternyata Kaya Protein, Potensinya Tak Cuma untuk Lauk

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • visibility 3
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Jamur selama ini lebih akrab sebagai bahan makanan sederhana pasalnya di pasar, jamur tiram dan jamur kuping mudah ditemukan, bahkan di dapur, bahan ini bisa diolah menjadi tumisan, sup, gorengan, hingga berbagai makanan lainnya.

Namun, ada alasan lain mengapa jamur mulai menarik perhatian peneliti, sebab dari bentuknya yang sederhana, jamur ternyata membawa protein, serat, vitamin, mineral, asam amino, hingga senyawa aktif yang berpotensi dimanfaatkan lebih luas.

Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Saskiawan, menjelaskan kandungan protein rata-rata pada jamur berada di kisaran 19-35 persen.

Angka itu cukup menarik, jika dibandingkan dengan sejumlah bahan pangan yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat. Kandungan protein beras, misalnya, berada di sekitar 7,38 persen, sedangkan gandum sekitar 13,2 persen.

Artinya, jamur tidak hanya menarik karena tekstur dan rasanya. Dari sisi kandungan nutrisi, bahan pangan ini juga memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.

Bukan Hanya Protein

Protein memang menjadi salah satu daya tarik jamur. Namun, kandungannya tidak berhenti di sana.

Iwan menambahkan, jamur memiliki sekitar sembilan jenis asam amino esensial. Selain itu, sekitar 72 persen kandungan lemaknya merupakan lemak tidak jenuh.

Jamur juga mengandung sejumlah vitamin, antara lain vitamin B1, B2, niasin, dan biotin. Berbagai mineral seperti kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, dan tembaga juga terdapat di dalamnya.

Kandungan seratnya pun cukup beragam, yakni sekitar 7,4-24,6 persen, dengan kombinasi tersebut, jamur memiliki karakter yang menarik sebagai bahan pangan dengan kandungan nutrisi yang beragam. Apalagi, kandungan kalorinya relatif rendah.

“Jamur mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi, selain juga mengandung berbagai vitamin, mineral dan serat,” kata Iwan dalam podcast Kelas Periset BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. Soekarno, Cibinong, melansir di laman resmi brin, minggu.

Jamur Tiram, Contoh yang Sudah Dekat dengan Masyarakat

Dari sekian banyak jenis jamur, jamur tiram menjadi salah satu yang paling mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Jamur dengan nama ilmiah Pleurotus sp. ini telah banyak dibudidayakan di Indonesia. Harganya relatif terjangkau dan pengolahannya pun tidak rumit.

Menurut Iwan, jamur tiram memiliki kandungan protein sekitar 19-30 persen. Kandungan lainnya meliputi karbohidrat sekitar 50-60 persen, asam amino, vitamin B dan C, serta berbagai mineral.

Di dalamnya terdapat kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, sulfur, hingga seng. Ada pula kandungan yang membuat jamur tiram menarik dari sisi pangan fungsional, yakni pleuran.

Pleuran merupakan senyawa gula sederhana yang disebut memiliki aktivitas antioksidan. Keberadaan senyawa ini menjadi salah satu bagian dari potensi jamur tiram yang terus menarik perhatian untuk dikaji.

“Jamur tiram mengandung senyawa pleuran, senyawa gula sederhana yang mempunyai aktivitas antioksidan. Karena kandungan dan manfaat tersebut, jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional,” jelas Iwan.

Istilah pangan fungsional sendiri membuat posisi jamur menjadi lebih luas. Bahan ini tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang mengenyangkan, tetapi juga sebagai pangan yang memiliki komponen tertentu dengan potensi manfaat tambahan.

Ternyata Hanya Sebagian Kecil Jamur yang Bisa Dimakan

Ada satu fakta lain yang membuat dunia jamur menjadi menarik. Jenis jamur yang biasa dikonsumsi manusia ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan keragaman jamur yang ada.

Iwan menyebutkan terdapat sekitar 10 ribu jenis jamur di dunia. Dari jumlah tersebut, kurang dari 10 persen yang dapat dikonsumsi.

“Dari sekitar sepuluh ribuan jamur yang ada di muka bumi ini, hanya sekitar kurang dari 10 persen spesies yang dapat dimakan atau edible,” ujar Iwan.

Jamur pangan yang selama ini dikenal masyarakat merupakan tubuh buah dari jamur makroskopis. Berbeda dari tumbuhan, jamur tidak memiliki klorofil. Karena itu, jamur tidak bisa membuat makanan sendiri melalui fotosintesis.

Untuk memperoleh nutrisi, jamur menghasilkan enzim yang bekerja menguraikan senyawa kompleks di lingkungan sekitarnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa tersebut kemudian dapat diserap untuk menunjang pertumbuhannya.

Penjelasan ini menjelaskan jamur tak hanya kelompok bahan pangan yang jumlah jenisnya terbatas. Justru, masih ada keragaman yang sangat luas untuk dipelajari.

Indonesia Punya Kekayaan Jamur yang Tak Sedikit

Potensi tersebut menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan kondisi Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Misalnya jamur tiram dan jamur kuping merupakan contoh jamur kayu yang telah banyak dibudidayakan. Di luar itu, masyarakat juga mengenal sejumlah jamur yang tumbuh secara alami.

Beberapa di antaranya adalah jamur bulan dari kelompok Termitomyces sp., jamur grigit (Schizophyllum commune), serta jamur pelawan dari kelompok Heimioporus sp.

Keberadaan berbagai jenis ini membuka peluang penelitian yang lebih luas. Pemanfaatannya pun tidak harus berhenti sebagai bahan masakan.

Bahkan konsep bioprospeksi mulai menjadi penting, selain itu bioprospeksi merupakan upaya menggali potensi sumber daya hayati untuk mendapatkan manfaat atau menghasilkan produk baru. Pada jamur, pendekatan ini dapat diarahkan untuk mencari potensi sebagai pangan fungsional maupun sumber senyawa yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Dari Meja Makan ke Dunia Riset

Contoh pemanfaatan jamur sebagai pangan sebenarnya sudah ada di masyarakat. Iwan mencontohkan penggunaan jamur tiram dalam penanganan gizi buruk balita yang dilakukan Sunarti, seorang bidan desa yang pernah menerima Srikandi Award 2012 dari Kementerian Kesehatan.

Jamur tiram diolah menjadi berbagai makanan agar dapat dikonsumsi oleh balita. Contoh tersebut memperlihatkan satu hal penting: jamur memiliki fleksibilitas sebagai bahan pangan. Namun, dari sisi penelitian, ruang pengembangannya masih jauh lebih luas.

Menurut Iwan, Indonesia membutuhkan penguasaan mushroom science agar berbagai potensi jamur dapat dipelajari dan dikembangkan secara lebih terarah.

Bukan hanya peneliti yang dibutuhkan dalam proses tersebut. Kolaborasi dengan pelaku budidaya jamur dan industri, termasuk perusahaan farmasi, juga dapat membuka peluang pengembangan produk berbasis jamur.

Oleh sebab itu,, jamur yang selama ini hanya terlihat sebagai bahan makanan sederhana menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.

Sebagian sudah hadir di meja makan dalam bentuk jamur tiram atau jamur kuping. Sebagian lainnya masih berada di alam dan belum banyak dimanfaatkan.

Iwan menambahkan, kekayaan hayati Indonesia masih memberikan ruang untuk mengembangkan jamur sebagai pangan fungsional maupun bahan baku obat.

“Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi masih menyimpan potensi pengembangan jamur pangan baik untuk bahan pangan fungsional ataupun sebagai bahan baku obat. Penguasaan ilmu tentang jamur pangan (mushroom science) diperlukan dalam hal ini,” pungkasnya. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Batik vs Fast Fashion = Si Tua yang Tetap Gagah di Catwalk Dunia

    Batik vs Fast Fashion = Si Tua yang Tetap Gagah di Catwalk Dunia

    • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.575
    • 0Komentar

    SAAT dunia fashion yang lari kencang kayak anak balap karung habis lomba 17-an, batik muncul seperti pelari senior yang rambutnya ubanan tapi tetap gagah, sementara tren fast fashion datang silih berganti tiap dua minggu, batik sudah wara-wiri sejak zaman nenek moyang kita masih barter ikan sama garam, bahkan ribuan tahun lewat, ia tetap elegan dan […]

  • “Perangko Bikin Gen Z Bingung: Dikiranya Sticker Aesthetic, Padahal Simbol Peradaban!”

    “Perangko Bikin Gen Z Bingung: Dikiranya Sticker Aesthetic, Padahal Simbol Peradaban!”

    • calendar_month Senin, 20 Okt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.550
    • 0Komentar

    COBA kasih perangko ke anak Gen Z, besar kemungkinan mereka tanya polos, “Ini buat ditempel di journal aesthetic, Kak?”Ada juga yang lebih niat, “Bang, ini QR-nya di mana?, kok gak bisa di-scan?”. Begitulah nasib perangko hari ini, barang kecil itu, yang dulu bikin deg-degan kalau nempel miring di surat cinta, kini nasibnya hampir sama kayak […]

  • Hadirkan di Kabupaten dan Kota, Kampung Cantik Pangkas Angka Kemiskinan dan Stunting 

    Hadirkan di Kabupaten dan Kota, Kampung Cantik Pangkas Angka Kemiskinan dan Stunting 

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 863
    • 0Komentar

    UPAYA Gubernur Sumsel H.Herman Deru menghadirkan Kampung Cantik (Cinta Statistik) di 17 kab/kota di Sumsel untuk memangkas angka kemiskinan dan stunting direspon positif banyak pihak. Paling baru yakni Pemkot Palembang. Mereka berkolaborasi dengan Polda Sumsel, Polrestabes Palembang serta Kementerian PUPR menggagas pendirian Kampung Cantik Anti Narkoba di Kelurahan 36 Ilir, Kecamatan Gandus, Selasa (30/3) pagi. […]

  • Kenali Nusantara, Pelindo II Ajak 20 Siswa Berprestasi di Sumsel Berangkat ke Palangkaraya  

    Kenali Nusantara, Pelindo II Ajak 20 Siswa Berprestasi di Sumsel Berangkat ke Palangkaraya  

    • calendar_month Sabtu, 10 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.458
    • 0Komentar

      SEDIKITNYA 20 siswa/i berprestasi di Provinsi Sumatera Selatan dipilih untuk mengikuti ‘Program Siswa Mengenal Nusantara tahun 2019’ yang diselenggarakan Pelindo II/IPC. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan BUMN Hadir Untuk Negeri 2019. General Manager IPC Palembang, Agus Edi Santoso, Jumat, mengatakan 20 siswa/i tersebut telah melalui seleksi ketat diantaranya Tes Potensi Akademik, tes […]

  • Perkuat Kemandirian Ponpes, Kemenag Latih Agribisnis Ratusan Santri

    Perkuat Kemandirian Ponpes, Kemenag Latih Agribisnis Ratusan Santri

    • calendar_month Jumat, 27 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.380
    • 0Komentar

    PROGRAM Penguatan Kemandirian Pesantren yang digagas Menag Yaqut Cholil Qoumas terus bergulir. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan pelatihan agribisnis untuk penguatan ekonomi pesantren. Tahun ini, ada 109 pesantren yang menjadi target pelatihan. Giat ini akan digelar dalam tiga angkatan untuk memastikan prosesnya berjalan dengan protokol kesehatan dan disiplin 5M di tengah pandemi. Angkatan […]

  • Bersamaan Kegiatan PON, Presiden Meresmikan Terminal Baru Bandara Mopah Merauke

    Bersamaan Kegiatan PON, Presiden Meresmikan Terminal Baru Bandara Mopah Merauke

    • calendar_month Minggu, 3 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.440
    • 0Komentar

    TERMINAL Baru Bandar Udara (Bandara) Mopah, Merauke, Papua akhirnya diresmikan Presiden RI, Joko Widodo, Minggu (3/10/2021) ditandai dengan penandatanganan prasasti. Dilansir dari InfoPublik, Presiden Jokowi dalam sambutannya menyampaikan, sebagai negara besar dengan rentang wilayah yang sangat luas, membutuhkan konektivitas memadai agar bisa saling terhubung yang mempersatukan seluruh komponen sebagai satu bangsa. “Bandara Mopah Merauke yang […]

expand_less
WordPress Archive Seosight – SEO, Digital Marketing Agency WP Theme with Shop SEOWP | Digital Marketing Agency and SEO WordPress Theme SEO WP | Digital Marketing Agency WordPress Theme Separator For WPBakery Page Builder Serano – Creative Portfolio WordPress Theme Serenite – Startup & SaaS WordPress Theme Serenity - Wedding Organizer Elementor Template Kit Serenova - Psychology & Mental Health Elementor Pro Template Kit Serity – CCTV and Security Cameras WordPress Theme Serity – CCTV & Security Cameras Elementor Template Kit