Jamur Ternyata Kaya Protein, Potensinya Tak Cuma untuk Lauk
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : brin.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Jamur selama ini lebih akrab sebagai bahan makanan sederhana pasalnya di pasar, jamur tiram dan jamur kuping mudah ditemukan, bahkan di dapur, bahan ini bisa diolah menjadi tumisan, sup, gorengan, hingga berbagai makanan lainnya.
Namun, ada alasan lain mengapa jamur mulai menarik perhatian peneliti, sebab dari bentuknya yang sederhana, jamur ternyata membawa protein, serat, vitamin, mineral, asam amino, hingga senyawa aktif yang berpotensi dimanfaatkan lebih luas.
Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Saskiawan, menjelaskan kandungan protein rata-rata pada jamur berada di kisaran 19-35 persen.
Angka itu cukup menarik, jika dibandingkan dengan sejumlah bahan pangan yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat. Kandungan protein beras, misalnya, berada di sekitar 7,38 persen, sedangkan gandum sekitar 13,2 persen.
Artinya, jamur tidak hanya menarik karena tekstur dan rasanya. Dari sisi kandungan nutrisi, bahan pangan ini juga memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.
Bukan Hanya Protein
Protein memang menjadi salah satu daya tarik jamur. Namun, kandungannya tidak berhenti di sana.
Iwan menambahkan, jamur memiliki sekitar sembilan jenis asam amino esensial. Selain itu, sekitar 72 persen kandungan lemaknya merupakan lemak tidak jenuh.
Jamur juga mengandung sejumlah vitamin, antara lain vitamin B1, B2, niasin, dan biotin. Berbagai mineral seperti kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, dan tembaga juga terdapat di dalamnya.
Kandungan seratnya pun cukup beragam, yakni sekitar 7,4-24,6 persen, dengan kombinasi tersebut, jamur memiliki karakter yang menarik sebagai bahan pangan dengan kandungan nutrisi yang beragam. Apalagi, kandungan kalorinya relatif rendah.
“Jamur mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi, selain juga mengandung berbagai vitamin, mineral dan serat,” kata Iwan dalam podcast Kelas Periset BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. Soekarno, Cibinong, melansir di laman resmi brin, minggu.
Jamur Tiram, Contoh yang Sudah Dekat dengan Masyarakat
Dari sekian banyak jenis jamur, jamur tiram menjadi salah satu yang paling mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Jamur dengan nama ilmiah Pleurotus sp. ini telah banyak dibudidayakan di Indonesia. Harganya relatif terjangkau dan pengolahannya pun tidak rumit.
Menurut Iwan, jamur tiram memiliki kandungan protein sekitar 19-30 persen. Kandungan lainnya meliputi karbohidrat sekitar 50-60 persen, asam amino, vitamin B dan C, serta berbagai mineral.
Di dalamnya terdapat kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, sulfur, hingga seng. Ada pula kandungan yang membuat jamur tiram menarik dari sisi pangan fungsional, yakni pleuran.
Pleuran merupakan senyawa gula sederhana yang disebut memiliki aktivitas antioksidan. Keberadaan senyawa ini menjadi salah satu bagian dari potensi jamur tiram yang terus menarik perhatian untuk dikaji.
“Jamur tiram mengandung senyawa pleuran, senyawa gula sederhana yang mempunyai aktivitas antioksidan. Karena kandungan dan manfaat tersebut, jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional,” jelas Iwan.
Istilah pangan fungsional sendiri membuat posisi jamur menjadi lebih luas. Bahan ini tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang mengenyangkan, tetapi juga sebagai pangan yang memiliki komponen tertentu dengan potensi manfaat tambahan.
Ternyata Hanya Sebagian Kecil Jamur yang Bisa Dimakan
Ada satu fakta lain yang membuat dunia jamur menjadi menarik. Jenis jamur yang biasa dikonsumsi manusia ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan keragaman jamur yang ada.
Iwan menyebutkan terdapat sekitar 10 ribu jenis jamur di dunia. Dari jumlah tersebut, kurang dari 10 persen yang dapat dikonsumsi.
“Dari sekitar sepuluh ribuan jamur yang ada di muka bumi ini, hanya sekitar kurang dari 10 persen spesies yang dapat dimakan atau edible,” ujar Iwan.
Jamur pangan yang selama ini dikenal masyarakat merupakan tubuh buah dari jamur makroskopis. Berbeda dari tumbuhan, jamur tidak memiliki klorofil. Karena itu, jamur tidak bisa membuat makanan sendiri melalui fotosintesis.
Untuk memperoleh nutrisi, jamur menghasilkan enzim yang bekerja menguraikan senyawa kompleks di lingkungan sekitarnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa tersebut kemudian dapat diserap untuk menunjang pertumbuhannya.
Penjelasan ini menjelaskan jamur tak hanya kelompok bahan pangan yang jumlah jenisnya terbatas. Justru, masih ada keragaman yang sangat luas untuk dipelajari.
Indonesia Punya Kekayaan Jamur yang Tak Sedikit
Potensi tersebut menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan kondisi Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Misalnya jamur tiram dan jamur kuping merupakan contoh jamur kayu yang telah banyak dibudidayakan. Di luar itu, masyarakat juga mengenal sejumlah jamur yang tumbuh secara alami.
Beberapa di antaranya adalah jamur bulan dari kelompok Termitomyces sp., jamur grigit (Schizophyllum commune), serta jamur pelawan dari kelompok Heimioporus sp.
Keberadaan berbagai jenis ini membuka peluang penelitian yang lebih luas. Pemanfaatannya pun tidak harus berhenti sebagai bahan masakan.
Bahkan konsep bioprospeksi mulai menjadi penting, selain itu bioprospeksi merupakan upaya menggali potensi sumber daya hayati untuk mendapatkan manfaat atau menghasilkan produk baru. Pada jamur, pendekatan ini dapat diarahkan untuk mencari potensi sebagai pangan fungsional maupun sumber senyawa yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Dari Meja Makan ke Dunia Riset
Contoh pemanfaatan jamur sebagai pangan sebenarnya sudah ada di masyarakat. Iwan mencontohkan penggunaan jamur tiram dalam penanganan gizi buruk balita yang dilakukan Sunarti, seorang bidan desa yang pernah menerima Srikandi Award 2012 dari Kementerian Kesehatan.
Jamur tiram diolah menjadi berbagai makanan agar dapat dikonsumsi oleh balita. Contoh tersebut memperlihatkan satu hal penting: jamur memiliki fleksibilitas sebagai bahan pangan. Namun, dari sisi penelitian, ruang pengembangannya masih jauh lebih luas.
Menurut Iwan, Indonesia membutuhkan penguasaan mushroom science agar berbagai potensi jamur dapat dipelajari dan dikembangkan secara lebih terarah.
Bukan hanya peneliti yang dibutuhkan dalam proses tersebut. Kolaborasi dengan pelaku budidaya jamur dan industri, termasuk perusahaan farmasi, juga dapat membuka peluang pengembangan produk berbasis jamur.
Oleh sebab itu,, jamur yang selama ini hanya terlihat sebagai bahan makanan sederhana menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.
Sebagian sudah hadir di meja makan dalam bentuk jamur tiram atau jamur kuping. Sebagian lainnya masih berada di alam dan belum banyak dimanfaatkan.
Iwan menambahkan, kekayaan hayati Indonesia masih memberikan ruang untuk mengembangkan jamur sebagai pangan fungsional maupun bahan baku obat.
“Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi masih menyimpan potensi pengembangan jamur pangan baik untuk bahan pangan fungsional ataupun sebagai bahan baku obat. Penguasaan ilmu tentang jamur pangan (mushroom science) diperlukan dalam hal ini,” pungkasnya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
