Program Kesehatan Banyak, Tapi Kenapa Hasilnya Belum Maksimal? Kemenkes Ungkap 3 Kuncinya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Program kesehatan terus berjalan dengan melibatkan pemerintah, mitra pembangunan, organisasi, hingga berbagai pemangku kepentingan. Namun, banyaknya program dan pihak yang terlibat belum otomatis menjamin hasil kesehatan yang dirasakan masyarakat.
Justru dengan hal ini persoalan besarnya muncul, yaitu bagaimana memastikan seluruh program kesehatan tidak berjalan sendiri-sendiri?
Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai jawabannya bukan semata-mata dengan menambah program atau mengejar besarnya anggaran. Yang dibutuhkan adalah cara kerja yang lebih terarah, terintegrasi, dan memiliki ukuran keberhasilan yang sama.
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menilai ada tiga prinsip utama yang perlu menjadi pegangan bersama, yakni One Plan, One Budget, dan One Evaluation.
1. One Plan, program kesehatan jangan berjalan sendiri-sendiri
Prinsip pertama adalah One Plan atau satu perencanaan.
Artinya, berbagai program dan inisiatif yang dijalankan melalui kemitraan harus bergerak menuju arah dan prioritas nasional yang sama.
Tentu masalah Ini menjadi penting, karena sektor kesehatan melibatkan banyak pihak. Pemerintah memiliki program sendiri, mitra pembangunan membawa dukungan dan keahlian, sementara organisasi lain memiliki jaringan serta kapasitas yang berbeda.
Jika masing-masing berjalan dengan target sendiri, potensi tumpang tindih bisa terjadi. Sebaliknya, ketika seluruh kekuatan diarahkan dalam satu perencanaan, sumber daya yang ada dapat digunakan untuk tujuan yang lebih besar.
Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar berapa banyak program kesehatan yang dijalankan, tetapi apakah semuanya bergerak ke arah yang sama.
2. One Budget, anggaran harus saling melengkapi
Prinsip kedua adalah One Budget atau satu penganggaran.
Kemenkes melihat pendanaan domestik dan dukungan eksternal perlu saling melengkapi serta ditempatkan dalam koridor investasi kesehatan yang terkoordinasi.
Gagasan ini menjadi semakin penting ketika kemampuan fiskal memiliki keterbatasan, daripada sumber pendanaan berjalan terpisah dengan prioritas masing-masing, penganggaran perlu diselaraskan agar setiap dukungan benar-benar memperkuat sistem kesehatan.
Jadi, ukuran persoalannya bukan hanya besar kecilnya anggaran kesehatan, tetapi bagaimana anggaran tersebut diarahkan agar menghasilkan dampak yang nyata.
3. One Evaluation, keberhasilan bukan sekadar laporan
Bagian ketiga mungkin menjadi yang paling penting One Evaluation atau satu evaluasi.
Sebuah program kesehatan tidak seharusnya dinilai hanya karena kegiatan sudah terlaksana, laporan sudah dibuat, atau target administratif sudah terpenuhi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar mendapatkan manfaat dan menjadi lebih terlindungi?
Kemenkes menekankan keberhasilan program pada akhirnya harus dilihat dari dampaknya terhadap masyarakat.
Perspektif ini mengubah cara melihat keberhasilan program kesehatan. Bukan lagi hanya apakah kegiatan selesai, tetapi apakah sistem kesehatan yang dibangun benar-benar memberikan perlindungan dan hasil kesehatan yang lebih baik.
Dari tiga prinsip menuju satu komitmen
One Plan, One Budget, dan One Evaluation pada akhirnya bermuara pada satu hal: One Commitment atau satu komitmen.
Prof. Dante menegaskan masyarakat tidak akan membedakan apakah sebuah program berasal dari pemerintah, donor, atau organisasi tertentu. Sementara masyarakat sendiri menilai yang jauh lebih penting adalah satu pertanyaan sederhana, apakah mereka benar-benar terlindungi oleh sistem kesehatan?
Oleh sebab itu, mau tidak mau semestinya kemitraan kesehatan dituntut naik kelas. Kerja sama tidak cukup hanya ditandai oleh banyaknya lembaga yang terlibat atau banyaknya kegiatan yang dilakukan.
Kemitraan harus menghasilkan sistem yang lebih kuat dan manfaat yang benar-benar dirasakan.
Bukan soal siapa yang paling banyak berkontribusi
Dante menggambarkan kemitraan dengan cara yang sederhana. Dalam matematika, satu ditambah satu menghasilkan dua.
Namun dalam kemitraan, hasilnya seharusnya lebih besar dari sekadar penjumlahan kontribusi masing-masing pihak.
Ketika prioritas pemerintah bertemu dengan keahlian mitra pembangunan serta jaringan para pemangku kepentingan, kekuatan yang terbentuk seharusnya menghasilkan dampak yang lebih besar.
Oleh karena itu, tantangan program kesehatan ke depan bukan hanya menambah jumlah program, melainkan memastikan berbagai kekuatan yang sudah ada benar-benar terhubung.
Mengapa pola ini penting bagi transformasi kesehatan?
Transformasi kesehatan membutuhkan kerja lintas sektor dan lintas lembaga. Tidak mungkin seluruh persoalan kesehatan diselesaikan oleh satu institusi saja.
Namun semakin banyak pihak yang terlibat, semakin penting pula adanya kesamaan arah. Tanpa perencanaan yang terintegrasi, pendanaan yang terkoordinasi, dan evaluasi yang menggunakan ukuran keberhasilan yang jelas, berbagai program berisiko menghasilkan capaian yang terpisah-pisah.
Sebaliknya, ketika ketiga prinsip tersebut berjalan bersama, kemitraan dapat diarahkan bukan hanya untuk menjalankan proyek, tetapi untuk memperkuat sistem kesehatan nasional.
Gagasan inilah yang kembali ditegaskan Kemenkes dalam 4th Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) di Jakarta, Selasa, 15 September 2026, yang mengusung tema Moving from Partnership to Impact.
Pesan besarnya yaitu, program kesehatan bukan hanya tentang berapa banyak kegiatan yang dilakukan, berapa besar dana yang tersedia, atau berapa banyak pihak yang ikut terlibat.
Ujungnya tetap sama, seberapa besar seluruh upaya tersebut mampu membuat masyarakat Indonesia lebih sehat dan lebih terlindungi. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
