Hoaks Kesehatan Makin Marak, Begini Cara Bedakan Fakta dan Tipuan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 38 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.co.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hoaks kesehatan makin marak dan semakin sulit dikenali menyusul informasi terlihat sangat meyakinkan bisa saja berisi klaim keliru, bahkan beredar luas sebelum sempat diperiksa kebenarannya.
Lantas, bagaimana cara membedakan informasi kesehatan yang benar dengan tipuan yang sengaja dibuat agar orang percaya? Bahkan, satu pesan berantai, video pendek, atau unggahan media sosial bisa menyebar dari satu orang ke orang lain hanya dalam hitungan menit.
Pasalnya, semakin cepat informasi beredar, semakin besar pula peluang masyarakat menerima klaim kesehatan tanpa mengecek sumbernya terlebih dahulu.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat ada 2.622 hoaks kesehatan yang beredar di berbagai platform digital sepanjang Agustus 2018 hingga September 2026. Imunisasi menjadi salah satu topik yang paling banyak disisipi hoaks.
Bukan hanya soal imunisasi, bahkan informasi keliru juga ditemukan pada isu tuberkulosis (TB), air susu ibu (ASI), vitamin hingga suplemen yang diklaim mampu meningkatkan daya tahan tubuh.
Yang membuat hoaks kesehatan berbahaya, karena bentuknya tidak selalu terlihat seperti kebohongan, misalnya ada yang menggunakan istilah medis, mencantumkan angka, membawa nama dokter, bahkan memakai potongan hasil penelitian agar terlihat meyakinkan.
Oleh karena itu, masyarakat tidak cukup hanya bertanya “oh ini benar atau tidak ya?” Namun ada beberapa hal yang perlu diperiksa sebelum sebuah informasi kesehatan dipercaya atau diteruskan.
Kenapa Hoaks Kesehatan Mudah Dipercaya?
Hoaks biasanya tidak datang dengan tanda bahwa informasi tersebut palsu.
Bahkan, informasi dibuat sedemikian rupa agar pembaca merasa perlu segera percaya dan membagikannya.
Kalimat seperti “dokter tidak mau Anda tahu”, “ini obat paling ampuh”, atau “sebarkan sebelum dihapus” misalnya, dapat memancing rasa penasaran sekaligus menciptakan kesan informasi tersebut sangat penting.
Padahal, semakin luar biasa sebuah klaim kesehatan, semakin penting pula memeriksa sumber dan bukti yang mendukungnya.
Dampaknya Bukan Hanya Salah Informasi
Informasi kesehatan yang keliru bisa memengaruhi keputusan seseorang ketika memilih pengobatan, menerima vaksinasi, menggunakan suplemen atau menentukan langkah ketika menghadapi penyakit.
Kemenkes mencatat cakupan imunisasi nasional turun dari sekitar 95 persen pada 2023 menjadi 87 persen pada 2024 dan sekitar 80 persen pada 2025.
Sepanjang 2025-2026, sejumlah daerah di Indonesia juga mengalami wabah atau kejadian luar biasa campak. Kemenkes mencatat 72 anak meninggal dalam periode tersebut.
Kondisi ini membuat persoalan informasi kesehatan semakin penting diperhatikan. Ketika masyarakat sulit membedakan fakta dan klaim yang menyesatkan, keputusan yang diambil juga berisiko tidak didasarkan pada informasi yang tepat.
Begini Cara Membedakan Fakta dan Tipuan
- Periksa sumbernya
Cari tahu siapa yang pertama kali menyampaikan informasi tersebut. Jangan hanya melihat nama akun atau foto profil. Periksa apakah sumbernya memiliki identitas dan kompetensi yang jelas.
- Jangan terpancing judul
Judul yang mengejutkan belum tentu menggambarkan isi informasi secara utuh. Baca sampai selesai dan cari data yang digunakan untuk mendukung klaim tersebut.
- Waspadai klaim yang terlalu sempurna
Satu bahan yang disebut bisa menyembuhkan banyak penyakit, obat yang diklaim tanpa efek samping, atau metode yang disebut pasti berhasil patut diperiksa lebih lanjut.
- Cek tanggal dan konteks
Informasi lama sering kembali beredar dengan narasi baru. Foto atau video juga dapat digunakan di luar konteks aslinya.
- Bandingkan dengan sumber terpercaya
Jangan berhenti pada satu unggahan. Bandingkan informasi dengan sumber resmi pemerintah, organisasi kesehatan, tenaga medis yang kredibel atau publikasi ilmiah yang relevan.
Pemerintah Mulai Perkuat Respons
Besarnya peredaran hoaks membuat penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan klarifikasi setelah informasi telanjur viral.
Kemenkes bersama Kementerian Komunikasi dan Digital serta mitra lintas sektor meluncurkan Playbook Respons Cepat Penanganan Hoaks Kesehatan di Jakarta pada 17 September 2026.
Playbook tersebut dirancang untuk memperkuat mekanisme kerja bersama, mulai dari deteksi, moderasi, verifikasi hingga respons ketika sebuah isu kesehatan muncul.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam keterangan rilis dilaman resminya mengatakan penanganan hoaks perlu didukung sistem monitoring yang kuat, pakar untuk melakukan verifikasi cepat, unit teknis serta jejaring komunikasi yang dapat bergerak ketika isu muncul.
Namun, perang melawan hoaks kesehatan tidak berhenti di pemerintah.
Masyarakat juga punya peran penting, terutama sebelum menekan tombol bagikan.
Sederhana saja, cek sumbernya, cari buktinya, bandingkan informasinya.
Sebab di tengah derasnya informasi kesehatan di media sosial, kemampuan membedakan fakta dan tipuan bukan lagi sekadar soal bisa menggunakan internet. Ini menyangkut bagaimana seseorang mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
