B+ dan AB+ Sulit Dicari di Palembang, Benarkah Karena Langka?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 23 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Golongan darah B positif (B+) dan AB positif (AB+) sedang menjadi perhatian Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang. Bukan karena keduanya tiba-tiba dibutuhkan lebih banyak, melainkan karena stoknya disebut paling sulit diperoleh dibandingkan golongan darah lainnya.
Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan, apakah B+ dan AB+ sulit ditemukan karena golongan darah tersebut langka?
Jawabannya tidak bisa dilihat hanya dari jumlah orang yang memiliki golongan darah tertentu.
Sebab, persoalan stok darah juga berkaitan dengan seberapa banyak pendonor yang datang, memenuhi persyaratan donor, serta seberapa cepat darah yang terkumpul kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasien.
Di Palembang, persoalan itu terlihat dari jarak antara kebutuhan dan pasokan darah yang dihimpun PMI.
Setiap bulan, kebutuhan darah di Kota Palembang mencapai sekitar 7.000 kantong. Sementara pasokan yang tersedia rata-rata baru sekitar 5.000 kantong.
Artinya, masih ada kekurangan sekitar 2.000 kantong darah setiap bulan yang harus dikejar.
Angka tersebut membuat persoalan stok darah di Palembang sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar mencari golongan darah yang sedang kosong.
B+ dan AB+ Paling Sulit Diperoleh
Ketua PMI Kota Palembang, Hj Dewi Sastrani, mengatakan B+ dan AB+ saat ini menjadi golongan darah dengan stok paling sedikit dibandingkan A dan O.
Karena itu, PMI terus memperbanyak kegiatan donor darah dengan mendatangi langsung berbagai wilayah dan instansi.
“Untuk golongan darah B positif dan AB positif memang stoknya paling sedikit dibandingkan golongan darah A dan O. Oleh karena itu, kami terus mengajak masyarakat untuk rutin mendonorkan darahnya,” kata Dewi saat menghadiri kegiatan donor darah di Kantor Camat Ilir Timur (IT) III, Senin (14/9/2026).
Kondisi stok yang rendah tidak serta-merta dapat diterjemahkan semua orang dengan golongan darah tersebut sulit ditemukan.
Yang menjadi persoalan adalah ketersediaan darah pada saat dibutuhkan.
Tidak semua orang yang memiliki golongan darah tertentu otomatis dapat menjadi pendonor pada waktu tertentu. Pendonor harus memenuhi persyaratan kesehatan dan ketentuan donor yang berlaku, sementara kebutuhan transfusi terus berjalan.
Darah yang sudah terkumpul pun tidak berhenti di tempat penyimpanan. Darah tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasien yang memerlukan transfusi. Oleh sebab itu, stok harus terus diisi kembali.
Kebutuhan 7.000, Pasokan Baru 5.000
Persoalan tersebut semakin terlihat dari angka kebutuhan darah PMI Palembang, dalam sebulan, kebutuhan mencapai sekitar 7.000 kantong. Namun, pasokan rata-rata baru sekitar 5.000 kantong.
Ada selisih sekitar 2.000 kantong yang harus dipenuhi. Untuk mengejar kekurangan tersebut, PMI Palembang tidak hanya menunggu masyarakat datang ke tempat pelayanan donor.
Strategi jemput bola dilakukan dengan menggandeng pemerintah kecamatan, organisasi, komunitas, perusahaan hingga kelompok masyarakat.
Salah satunya melalui kegiatan donor darah di Kecamatan IT III, sebanyak 80 orang mendaftar untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dari jumlah itu, kegiatan ditargetkan menghasilkan sekitar 30 kantong darah yang selanjutnya dikelola PMI untuk kebutuhan transfusi.
Jumlah tersebut tentu belum mampu menutup kekurangan sekitar 2.000 kantong dalam sebulan. Namun, setiap kegiatan donor tetap memiliki arti karena stok darah harus dibangun secara terus-menerus.
Darah Dibutuhkan Saat Pasien Tidak Bisa Menunggu
Dewi mengatakan donor darah bukan sekadar kegiatan sosial, dibalik satu kantong darah terdapat pasien yang membutuhkan transfusi, mulai dari korban kecelakaan hingga ibu yang menjalani persalinan dan pasien yang harus menjalani transfusi secara rutin.
“Setiap satu kantong darah sangat berarti. Darah tersebut bisa membantu menyelamatkan pasien kecelakaan, ibu yang akan melahirkan, maupun pasien yang membutuhkan transfusi secara rutin,” ujarnya.
Bahkan, persoalan stok darah bukan hanya mengenai golongan mana yang sedang sedikit.
Ada kebutuhan yang harus terus dipenuhi setiap hari, sementara darah yang tersedia juga terus digunakan. Ketika jumlah darah yang masuk lebih sedikit dibandingkan kebutuhan, stok akhirnya ikut tertekan.
PMI Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Donor Sesekali
Camat IT III Hefnianto mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam kegiatan donor darah tersebut.
Menurutnya, kehadiran 80 pendaftar menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap kebutuhan darah masih cukup tinggi.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak masyarakat yang tergerak menjadi pendonor sukarela.
Harapan tersebut menjadi penting karena kebutuhan darah bukan persoalan yang selesai setelah satu kegiatan donor.
Selama kebutuhan bulanan masih berada di kisaran 7.000 kantong dan pasokan rata-rata baru mencapai 5.000 kantong, PMI Palembang masih membutuhkan tambahan pendonor.
Terutama bagi masyarakat yang memiliki golongan darah B+ dan AB+, yang saat ini disebut PMI memiliki stok paling sedikit.
Namun, masyarakat dengan golongan darah lain yang sehat dan memenuhi persyaratan donor juga tetap dibutuhkan.
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai apakah B+ dan AB+ langka bukanlah satu-satunya persoalan.
Yang lebih mendesak adalah memastikan darah tersedia ketika pasien membutuhkannya, sebab, bagi pasien yang sedang menunggu transfusi, satu kantong darah bukan sekadar angka dalam catatan stok, satu kantong bisa menjadi penentu. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
