Hujan Mulai Guyur Sumsel, Muba 3 Hari, Daerah Mana Lagi Kebagian?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 21 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : st
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hujan mulai membasahi sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel). Setelah kemarau panjang, guyuran air dari langit muncul di beberapa daerah dalam beberapa hari terakhir.
Di Palembang, misalnya. Kawasan Kalidoni diguyur hujan pada Minggu (20/9/2026) siang. Hujan yang turun sekitar pukul 14.00 WIB itu langsung disambut antusias warga, termasuk anak-anak yang berteriak kegirangan.
Hujan di Kalidoni memang tidak berlangsung lama. Namun, kemunculannya menjadi kabar menarik setelah Sumsel cukup lama menghadapi kondisi kering.
Bukan hanya Palembang, pada hari yang sama, hujan juga mengguyur sebagian wilayah Prabumulih. Sejumlah kawasan seperti Sindur, Tanjung Raman, Patih Galung dan Tebing Tanah Puteh sempat mendapatkan guyuran hujan.
Dari PALI, hujan juga turun di kawasan Tanah Abang sekitar pukul 14.00 WIB. Durasi hujan hanya beberapa menit, tetapi cukup membuat warga bersyukur setelah menghadapi kemarau panjang.
Muba Sudah Tiga Hari Diguyur Hujan
Perkembangan lebih menarik datang dari Musi Banyuasin (Muba). Pada Selasa (22/9/2026), Kabupaten Muba sudah tiga hari diguyur hujan.
Kondisi tersebut membuat Muba berangsur mulai meninggalkan periode kemarau. Hujan yang turun berulang menjadi perkembangan berbeda dibanding guyuran singkat yang terjadi di sejumlah wilayah lainnya.
Dengan begitu, dalam rentang Minggu hingga Selasa, laporan hujan muncul dari sejumlah titik di Sumsel.
Ada Palembang, ada Prabumulih, ada PALI, sementara Muba bahkan sudah tiga hari mengalami hujan. Namun, apakah ini berarti Sumsel sudah masuk musim hujan? Jawabannya belum sesederhana itu.
Data BMKG: Hujan Memang Sudah Muncul
Data resmi BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan memperlihatkan hujan memang sudah terjadi di sejumlah wilayah.
Dalam monitoring yang diperbarui hingga 20 September 2026, BMKG mencatat hujan telah terjadi di seluruh wilayah Empat Lawang, Pagar Alam dan Lahat, serta sebagian besar OKU Selatan, OKU, Lubuklinggau, Musi Banyuasin dan Muara Enim.
Hujan juga tercatat di Musi Rawas Utara serta sebagian wilayah Musi Rawas, Banyuasin dan OKU Timur. Data tersebut menggambarkan hujan bukan hanya muncul di satu titik. Namun, penyebarannya masih belum merata.
Hal ini penting, karena laporan hujan di suatu kawasan tidak otomatis berarti seluruh kabupaten atau kota tersebut sudah mengalami perubahan musim.
Palembang Ikut Kebagian, Tapi Kemarau Belum Hilang
Laporan hujan di Kalidoni juga perlu dibaca dalam konteks data BMKG. Dalam monitoring Hari Tanpa Hujan hingga 20 September, BMKG masih mencatat sejumlah wilayah Sumsel mengalami hari tanpa hujan dalam kategori panjang hingga sangat panjang.
Bahkan, hari tanpa hujan terpanjang mencapai 87 hari di Pos Hujan Babat Supat, Kecamatan Babat Supat, Muba, dan Pos Hujan BPP Tanjung Batu, Ogan Ilir.
Artinya, kondisi Sumsel saat ini memang tidak seragam. Di bagian lainnya, Kalidoni Palembang sudah kebagian hujan dan Prabumulih serta Tanah Abang PALI juga sempat diguyur.
Tetapi masih ada wilayah yang mengalami kekeringan panjang. Oleh karena itu, hujan yang muncul dalam beberapa hari terakhir lebih tepat disebut sebagai hujan yang mulai memecah kemarau, bukan tanda seluruh Sumsel sudah resmi memasuki musim penghujan.
Daerah Mana Lagi yang Berpeluang Hujan?
Untuk periode 21–23 September 2026, BMKG memprakirakan sejumlah wilayah Sumsel berpotensi mengalami hujan intensitas sedang.
Wilayah tersebut antara lain Musi Banyuasin, Musi Rawas, Banyuasin, PALI, Muara Enim, Lahat, OKI dan Prabumulih.
Namun perlu dibedakan antara prakiraan dan kejadian aktual. Prakiraan BMKG menunjukkan wilayah yang berpotensi hujan, sedangkan laporan Kalidoni Palembang, Prabumulih, Tanah Abang dan Muba menjadi contoh hujan yang sudah dilaporkan terjadi.
BMKG juga masih memperkirakan sebagian besar wilayah Sumsel memiliki peluang curah hujan rendah pada dasarian III September.
Peluang curah hujan menengah lebih besar di sejumlah wilayah barat dan selatan Sumsel. Dengan kondisi tersebut, hujan kemungkinan masih bersifat sporadis dan belum merata.
Kapan Sumsel Masuk Musim Hujan?
Hujan yang turun di beberapa wilayah tidak selalu menjadi tanda bahwa musim hujan sudah dimulai secara bersamaan di seluruh Sumatera Selatan.
Peralihan dari kemarau ke musim hujan biasanya berlangsung bertahap. Ada wilayah yang lebih dulu mendapatkan hujan, sementara daerah lain masih mengalami hari tanpa hujan cukup panjang.
Oleh karena itu, satu kali hujan deras atau hujan singkat belum cukup untuk menyimpulkan seluruh Sumsel sudah memasuki musim penghujan.
Kondisi ini juga menjelaskan mengapa Palembang bisa diguyur hujan, sementara wilayah lain di Sumsel masih mengalami kekeringan. Perbedaan kondisi antarwilayah sangat mungkin terjadi dalam masa peralihan musim.
Data BMKG menjadi salah satu acuan penting untuk melihat perkembangan tersebut, terutama melalui pemantauan hari tanpa hujan, curah hujan, serta prakiraan untuk periode berikutnya.
Hujan Mulai Datang, Tapi Belum Serentak
Untuk sementara, pola yang terlihat cukup jelas. Palembang sudah kebagian. Prabumulih dan PALI juga sempat diguyur. Muba bahkan sudah tiga hari mengalami hujan. Tetapi di wilayah lain, kemarau masih terasa.
Jadi, belum tepat jika hujan beberapa hari ini langsung disebut sebagai tanda seluruh Sumsel telah masuk musim hujan. Yang pasti, setelah kemarau panjang, hujan mulai kembali muncul di sejumlah titik Sumatera Selatan. Dan pertanyaan berikutnya tinggal satu, daerah mana lagi yang akan kebagian guyuran hujan? Semoga doa masyarakat Sumsel terkabulkan, ke depannya hujan memang mulai merata turun di Sumsel. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
