Sudah Hujan, Hotspot Sumsel Malah Melonjak Jadi 285 Titik
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 36 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) pada Minggu (20/9/2026). Namun, kondisi itu belum membuat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mereda.
Data terbaru justru menerangkan jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Sumsel melonjak menjadi 285 titik.
Angka itu naik tajam dibandingkan sehari sebelumnya yang masih berada di angka 112 titik. Artinya, dalam satu hari terjadi tambahan 173 hotspot.
Kenaikan di Sumsel menjadi perhatian karena terjadi ketika hotspot di sejumlah daerah lain justru bergerak turun. Di Kalimantan Tengah, misalnya, jumlah hotspot high confidence turun dari 1.035 menjadi 968 titik.
Secara nasional, Kementerian Kehutanan mencatat 1.532 hotspot high confidence hingga Minggu (20/9) pukul 23.59 WIB.
Jumlah itu meningkat 209 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 1.323 titik. Data tersebut berasal dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 melalui sistem SiPongi.
Hujan memang turun, tapi tidak merata
Fenomena ini menjadi penting karena Sumsel sebenarnya mulai mendapat guyuran hujan. BMKG Sumsel pada Minggu melaporkan hujan ringan telah terjadi di sejumlah wilayah. Potensi hujan juga masih muncul di beberapa daerah, termasuk OKU Selatan, OKU Timur, Musi Rawas Utara, Empat Lawang, Lahat, Pagaralam, Muara Enim, OKI dan Banyuasin. Bahkan kemarin di sebagian Kota Palembang mengalami hujan pada siang.
Pada malam hari, hujan sedang bahkan berpotensi terjadi di OKI dan Banyuasin, sementara beberapa daerah lainnya berpeluang mengalami hujan ringan. Kondisi tersebut juga dimanfaatkan dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mempercepat turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.
Tetapi hujan tersebut belum terjadi secara merata di seluruh Sumsel. Data Stasiun Klimatologi Sumsel menyebutkan sejumlah wilayah memang sudah mengalami hujan hingga pembaruan data 20 September. Namun, Palembang, Prabumulih, sebagian besar OKI, Banyuasin, Ogan Ilir dan sejumlah wilayah lainnya masih masuk kategori Hari Tanpa Hujan sangat panjang, yakni 31-60 hari.
Bahkan beberapa wilayah masih berada dalam kategori kekeringan ekstrem, karena mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan. HTH terpanjang mencapai 87 hari, tercatat di Babat Supat, Musi Banyuasin, dan Tanjung Batu, Ogan Ilir. Hujan yang turun di sebagian wilayah belum serta-merta mengubah kondisi lahan di seluruh Sumsel.
Bagian tengah dan timur masih perlu waspada
BMKG memprakirakan sebagian besar Sumsel, terutama wilayah bagian tengah hingga timur, masih berpeluang mengalami curah hujan rendah pada dasarian III September.
Peluang terjadinya curah hujan rendah 0-50 milimeter berada di atas 70 persen untuk sebagian besar wilayah tersebut. BMKG juga memperingatkan penurunan curah hujan dapat mendorong peningkatan hotspot di daerah yang memang rawan karhutla.
Kondisi atmosfer juga masih mendukung cuaca kering. Dalam laporan BMKG, fenomena El Nino terpantau berada pada intensitas sangat kuat dan wilayah Indonesia secara umum diprediksi berada dalam kondisi kering.
Sehingga hujan turun di beberapa daerah lebih tepat dilihat sebagai kondisi yang belum merata, bukan tanda ancaman karhutla di Sumsel sudah berakhir.
Pemerintah tetap kerahkan operasi
Di tengah kenaikan hotspot, penanganan karhutla terus dilakukan melalui operasi darat dan udara. Kementerian Kehutanan menyebutkan pemerintah sejak Agustus telah mengerahkan 64 pesawat dan helikopter serta 54.394 personel gabungan untuk penanganan karhutla di berbagai wilayah terdampak.
Operasi udara mencakup pemadaman menggunakan helikopter water bombing, patroli udara, hingga dukungan terhadap Operasi Modifikasi Cuaca.
Sementara di darat, petugas melakukan pemadaman, patroli, groundcheck, penyekatan api, pembasahan dan pendinginan lahan.
Untuk Sumsel, pengelolaan tata air dan pembasahan kawasan gambut juga menjadi bagian penting dari upaya menekan risiko kebakaran selama kondisi kering masih berlangsung.
Kementerian Kehutanan mengingatkan angka hotspot tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai jumlah kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tetap membutuhkan verifikasi kondisi di lapangan.
Artinya, kenaikan menjadi 285 titik menjadi sinyal kewaspadaan, sementara kepastian mengenai kejadian dan luasan kebakaran tetap harus dilihat dari hasil pemeriksaan di lapangan.
Kondisi cuaca yang belum seragam membuat kewaspadaan tetap diperlukan. Warga di daerah rawan karhutla diminta tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun asap yang mengarah pada kebakaran. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
