Karhutla Kalbar Mengganas, 24 Satwa Diselamatkan dari Kepungan Api
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 21 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Empat orangutan ditemukan berkeliaran di sekitar kebun warga di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Kemunculan satwa-satwa itu menjadi perhatian setelah kawasan hutan di wilayah tersebut terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tim gabungan tidak langsung menangkap keempatnya. Pemantauan dilakukan untuk memastikan keberadaan dan kondisi orangutan sebelum proses penyelamatan dijalankan.
Pencarian bahkan dimulai sejak dini hari pada 4 September 2026. Setelah melalui proses pemantauan, tim akhirnya berhasil mengevakuasi empat orangutan tersebut.
Mereka kemudian diidentifikasi sebagai Noval, Nopan, Mamak Novi, dan Novi.
Keempat orangutan itu kini menjalani penanganan sementara di Pusat Rehabilitasi YIARI. Pemeriksaan dan pemantauan dilakukan untuk mengetahui kondisi masing-masing satwa sebelum ditentukan langkah berikutnya.
Kasus di Kayong Utara bukan kejadian tunggal.
Dalam periode 1 Agustus hingga 10 September 2026, tim penyelamat telah menangani 24 individu satwa liar dari 18 lokasi di tiga kabupaten di Kalimantan Barat.
Sebagian besar merupakan orangutan. Jumlahnya mencapai 15 individu. Enam satwa lainnya merupakan trenggiling, sementara masing-masing satu individu terdiri dari bekantan, kukang, dan musang tenggalung.
Kemunculan satwa di sekitar area masyarakat menjadi persoalan tersendiri ketika habitat mereka ikut terdampak kebakaran.
Kondisi tersebut juga terlihat di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang.
Di sana, warga melaporkan keberadaan seekor orangutan betina bersama anaknya di sekitar kebun. Setelah lokasi diperiksa, tim menemukan habitat di sekitar kawasan tersebut telah terdampak karhutla dan tutupan hutan yang tersedia tidak lagi memadai.
Pada 3 September, tim melakukan penyelamatan terhadap pasangan induk dan anak tersebut.
Orangutan betina itu bernama Mama Man, diperkirakan berusia sekitar 20 tahun. Anak jantannya, Man, baru berumur sekitar tujuh bulan.
Keduanya kemudian dititiprawatkan di Pusat Rehabilitasi YIARI untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan.
Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan satu persoalan yang muncul di tengah karhutla: ketika kondisi habitat berubah, satwa dapat bergerak ke kawasan yang lebih dekat dengan manusia.
Karena itu, pencarian satwa terdampak tidak hanya mengandalkan patroli. Informasi dari masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menentukan lokasi yang perlu ditindaklanjuti.
Balai KSDA Kalimantan Barat bersama YIARI dan sejumlah pihak terkait terus melakukan pemantauan serta penyelamatan terhadap satwa yang ditemukan dalam kondisi membutuhkan pertolongan.
Namun, setelah berhasil dievakuasi, persoalan belum selesai.
Satwa-satwa tersebut masih dititiprawatkan sampai kondisi kawasan habitat dinyatakan aman. Hasil pemeriksaan dan rekomendasi teknis nantinya menjadi dasar untuk menentukan apakah mereka sudah dapat dikembalikan ke alam.
Sebab, membawa satwa keluar dari lokasi berbahaya hanya menyelesaikan satu bagian dari masalah. Mereka baru benar-benar terselamatkan ketika habitat untuk pulang juga kembali aman. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
