Bukan Api yang Diburu, Sespimti Bedah Akar Karhutla Sumsel
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Api bukan lagi satu-satunya sasaran dalam perang melawan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel). Kali ini, akar persoalan justru yang diburu.
Peserta Didik Sespimti Polri Dikreg ke-36 Tahun 2026 turun ke Sumsel melalui Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) untuk mengorek fakta lapangan dan mencari formula penanganan Karhutla yang tidak berhenti pada pemadaman, namun riset menjadi pintu masuk karena sangat penting.
Gubernur Sumsel H. Herman Deru saat menerima peserta Sespimti di Ruang Rapat Gubernur Sumsel, Palembang, Rabu (9/9/2026), menegaskan Karhutla tidak bisa dilawan hanya dengan mengerahkan kekuatan ketika api sudah membesar.
Ada persoalan lahan, cuaca, akses, air hingga bara yang bergerak di bawah permukaan gambut.
“Harus ada riset mendalam mengenai penyebab utama Karhutla di setiap kondisi,” tegas Herman Deru.
Data yang dipaparkan membuat persoalan ini semakin terang. Hingga kini, luas lahan terbakar di Sumsel mencapai 1.926,2 hektare. Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 80 persen merupakan lahan terbengkalai.
Artinya, persoalan Karhutla tidak cukup dijawab dengan pertanyaan bagaimana memadamkan api.
Pertanyaan yang lebih besar adalah mengapa api terus muncul dan kondisi apa yang membuatnya sulit ditaklukkan.
Herman Deru menilai karakter gambut menjadi salah satu tantangan terbesar. Cuaca panas, wilayah yang luas, lokasi sulit dijangkau, keterbatasan sumber air hingga api bawah tanah membuat pemadaman membutuhkan strategi berbeda.
Gambaran sulitnya medan terlihat dari operasi pemadaman. Dalam satu laporan harian, area terbakar mencapai 45 hektare.
Empat helikopter water bombing dengan lebih dari 500 kubik air hanya mampu menangani sekitar 2,5 hektare karena karakter gambut yang pekat. Sebaliknya, sekitar 14 hektare dapat ditangani melalui jalur darat.
Karhutla Sumsel tidak bisa ditaklukkan dengan satu cara. Operasi udara tetap dibutuhkan untuk titik yang terisolasi.
Namun, pembasahan dari darat dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu hujan dinilai menjadi bagian penting dalam menekan bara yang sulit dijangkau.
Pemprov Sumsel kini memusatkan perhatian pada 12 daerah prioritas, yakni OKI, OI, Banyuasin, Muara Enim, Muba, PALI, Mura, Muratara, OKU Timur, OKU, Lahat dan OKU Selatan.
Sebanyak 11.567 personel gabungan disiagakan melalui sinergi lintas elemen. Namun, kekuatan personel bukan satu-satunya jawaban.
Herman Deru menekankan kecepatan membaca situasi, ketepatan mengambil tindakan dan keterpaduan antarinstansi harus berjalan bersamaan dengan riset yang mampu membaca karakter setiap wilayah.
“Kecepatan merespons dan keterpaduan adalah kuncinya,” ujarnya.
Kajian Sespimti Polri inilah menjadi penting, sebab Sumsel tidak hanya dijadikan lokasi praktik, tetapi objek untuk mencari pola penanganan yang dapat diuji dan dirumuskan kembali.
Pati Pendamping Sespimti Polri, Brigjen Pol Ratno Kuncoro, mengatakan Karhutla merupakan isu tahunan yang krusial. Karena itu, hasil riset dan formulasi peserta diharapkan melahirkan pola penanganan yang dapat diterapkan di wilayah lain.
PKDN tersebut berlangsung selama 10 hari.
Jika riset menemukan pola yang tepat, pertarungan melawan Karhutla tidak lagi soal siapa paling cepat memadamkan api, tetapi siapa yang paling cepat menemukan akar yang membuat api kembali menyala. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
