5 Bayi Orangutan di India, Ada Jejak Sumatera di Baliknya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Lima bayi orangutan berada ribuan kilometer dari tempat yang seharusnya menjadi rumah mereka. Bukan di hutan Sumatera atau Borneo, kelimanya justru ditemukan di sebuah kawasan hutan di Odisha, India.
Yang membuat kasus ini mengusik bukan hanya jumlahnya.
Kelima orangutan itu masih bayi, dengan perkiraan usia sekitar 1 hingga 1,5 tahun. Mereka ditemukan dalam kondisi sehat di Blok Bhogarai/Udaipur, wilayah Jaleswar, Distrik Balasore, Selasa, 8 September 2026.
Pertanyaan pun muncul, apa yang membawa lima bayi orangutan sampai ke India?Sebab, India bukan wilayah alami satwa tersebut.
Orangutan hanya hidup secara alami di Indonesia dan Malaysia, dengan habitat utama di Pulau Sumatera dan Borneo. Karena itu, kemunculan lima bayi orangutan di Odisha menjadi petunjuk penting yang kini harus ditelusuri lebih jauh.
Dugaan awal mengarah ke Sumatera, dari pengamatan terhadap bentuk tubuh dan ciri morfologinya, kelima satwa tersebut diduga merupakan orangutan Sumatera. Tetapi pemerintah Indonesia belum mau menarik kesimpulan terlalu cepat.
Ada satu pemeriksaan yang masih ditunggu, DNA, hasil pemeriksaan genetik nantinya akan membantu memastikan jenis sekaligus asal-usul kelima orangutan tersebut. Dari sana, gambaran mengenai perjalanan mereka sebelum ditemukan di India diharapkan menjadi lebih jelas.
Masalahnya kemudian melebar, jika benar berasal dari Indonesia, keberadaan lima bayi orangutan di India dapat menjadi indikasi adanya perdagangan atau penyelundupan satwa liar lintas negara. Apalagi yang ditemukan bukan satu individu, melainkan lima bayi sekaligus.
Kementerian Kehutanan langsung mengambil langkah, pemerintah Indonesia membangun komunikasi dengan Management Authority CITES India, Kedutaan Besar India di Jakarta, KBRI New Delhi, BRIN sebagai Scientific Authority, serta Kementerian Pertanian.
Namun targetnya bukan sekadar memastikan kelima satwa tetap hidup dan sehat. Indonesia juga mulai menyiapkan jalan untuk membawa mereka kembali.
Proses itu tentunya tidak sederhana. Ada aturan nasional dan mekanisme internasional yang harus dilewati, termasuk ketentuan CITES. Perlu koordinasi dengan otoritas India menjadi bagian penting sebelum repatriasi bisa dilakukan.
Sementara ini, kelima bayi orangutan masih berada di Nandankanan Zoological Park, Bhubaneswar, India, untuk mendapatkan perawatan.
Jika nantinya berhasil dipulangkan, mereka juga belum bisa langsung kembali ke hutan.
Kondisi masing-masing satwa harus diperiksa. Karantina, pemeriksaan kesehatan, identifikasi genetik dan asesmen perilaku menjadi bagian dari proses berikutnya. Setelah itu barulah rehabilitasi dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Sejumlah lembaga konservasi pun sudah menyatakan kesiapan membantu, di antaranya Yayasan Ekosistem Leuser (YEL), Jaringan Satwa Indonesia (JSI), Center for Orangutan Protection (COP), dan Forum Orangutan Indonesia (FORINA).
Mereka dapat mendukung penanganan kelima satwa sejak proses repatriasi hingga rehabilitasi di Indonesia.
Tetapi ada persoalan yang lebih besar daripada sekadar memulangkan lima bayi orangutan. Jejak perjalanan mereka masih menjadi tanda tanya.
Pemerintah Indonesia memastikan kasus ini terus dikawal. Penelusuran asal-usul satwa juga penting untuk membuka kemungkinan adanya jaringan perdagangan ilegal yang membuat orangutan Indonesia bisa menyeberangi batas negara.
Kasus ini sekaligus memperlihatkan betapa panjangnya perjalanan sebuah satwa sebelum akhirnya ditemukan jauh dari habitat aslinya.
Lima bayi orangutan itu kini berada dalam penanganan otoritas India. Indonesia bersiap membawa mereka pulang. Tetapi sebelum cerita itu berakhir, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab, siapa yang membawa mereka hingga akhirnya ditemukan di India? (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
