Jangan Lega Dulu, Hotspot Sumsel Masih 76 Titik, Asap Palembang Belum Pergi
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 21 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Jangan buru-buru menganggap ancaman karhutla sudah lewat. Hotspot Sumsel masih mencapai 76 titik dalam pemantauan 8 September 2026, sementara asap masih memengaruhi kondisi udara dan jarak pandang di Palembang.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 76 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Sumatera Selatan hingga Selasa malam.
Angka itu memang turun dibanding sehari sebelumnya yang mencapai 88 titik. Namun, Sumsel tetap menjadi provinsi dengan jumlah hotspot high confidence terbanyak di antara enam wilayah prioritas pengendalian karhutla.
Artinya, penurunan angka belum cukup menjadi alasan untuk lengah.
Di Palembang, pengamatan meteorologi penerbangan BMKG pada Selasa siang masih mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang sekitar 5 kilometer. Asap yang bertahan menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla tidak berhenti hanya karena jumlah hotspot bergerak turun.
Secara nasional, pada pukul 21.10 WIB terdeteksi 397 hotspot high confidence. Jumlah itu justru naik tipis dari 386 titik pada 7 September.
Pergerakannya juga tidak seragam. Kalimantan Barat mengalami penurunan paling tajam, dari 31 menjadi 12 titik. Riau turun menjadi 8 titik dan Jambi menjadi 3 titik.
Namun di sisi lain, Kalimantan Tengah justru naik dari 46 menjadi 63 titik. Kalimantan Selatan juga bergerak naik dari 4 menjadi 6 titik.
Gambaran tersebut menunjukkan kondisi karhutla masih berubah cepat. Ada wilayah yang mulai mendapat bantuan hujan, tetapi ada pula lokasi yang masih membutuhkan pengawasan dan penanganan lebih ketat.
Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus menggelar operasi darat dan udara. Patroli, pengecekan lapangan, pemadaman, penyekatan api, mopping up hingga pendinginan dilakukan untuk mencegah api kembali muncul.
Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC juga terus dijalankan. Pada 8 September, operasi tersebut mendukung terjadinya hujan di sebagian wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Hujan membantu membasahi lahan, tetapi bukan berarti seluruh persoalan langsung selesai. Di lokasi yang masih menyimpan api aktif atau bara di bawah permukaan, terutama kawasan gambut, proses pembasahan dan pendinginan tetap diperlukan.
Untuk memperkuat penanganan, sebanyak 53 armada udara disiagakan di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung OMC, sedangkan 34 armada lainnya disiapkan untuk operasi water bombing.
Pengerahan tersebut disesuaikan dengan kondisi di lapangan, perkembangan cuaca, dan kebutuhan operasi. Tujuannya satu: mempercepat penanganan sebelum api meluas dan sulit dikendalikan.
Di saat yang sama, kualitas udara masih menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Pemantauan berbasis PM2.5 menunjukkan kondisi udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, terdapat wilayah di Kalimantan yang masuk kategori berbahaya.
Kondisi asap sendiri sangat bergantung pada banyak faktor. Arah angin, kecepatan angin, kelembapan, hujan, konsentrasi asap, hingga aktivitas kebakaran bisa membuat jarak pandang berubah dalam waktu singkat.
Karena itu, angka hotspot bukan satu-satunya ukuran untuk melihat situasi karhutla. Setiap indikasi tetap perlu diverifikasi di lapangan karena satu kejadian kebakaran bisa menghasilkan beberapa titik panas yang terdeteksi satelit.
Bagi masyarakat Sumsel, terutama yang beraktivitas di Palembang, kondisi ini menjadi alasan untuk tetap mengikuti perkembangan kualitas udara dan informasi resmi terkait asap.
Hotspot memang turun dari 88 menjadi 76 titik. Tetapi selama asap masih terlihat dan kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman, kewaspadaan belum boleh diturunkan.
Masyarakat juga diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Di wilayah yang terdampak asap, aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan informasi resmi yang terus diperbarui. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
