Bantuan Gempa NTT 32,5 Ton Dikirim, BI Ikut Amankan Rupiah dan Harga Pangan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 20 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Bank Indonesia (BI) mengirim total 32,5 ton bantuan untuk masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bukan hanya bantuan logistik, BI juga menyiapkan langkah untuk menjaga ketersediaan uang Rupiah dan mengantisipasi kenaikan harga pangan di wilayah terdampak.
Bantuan tersebut dikirim secara bertahap melalui jalur udara dengan menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI Angkatan Udara (TNI AU).
Pengiriman terbaru dilakukan Senin (31/8). Sebanyak 14,3 ton bantuan diberangkatkan dari Museum Bank Indonesia.
Kali ini, bantuan yang dibawa terdiri dari tenda, velbed, genset, tambahan obat-obatan, hingga makanan siap saji.
Sebelumnya, BI sudah mengirim dua gelombang bantuan. Tahap pertama pada 24 Agustus mencapai 8,5 ton, dengan isi berupa obat-obatan, air mineral, makanan siap saji, serta perlengkapan higienitas.
Kemudian pada 27 Agustus, sebanyak 9,7 ton bantuan kembali dikirim. Bantuan tahap kedua tersebut diprioritaskan untuk bahan pangan pokok dan air mineral.
Penyaluran bantuan menyasar sejumlah wilayah yang terdampak gempa, di antaranya Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Nagekeo.
Rupiah Ikut Dijaga
Di tengah penanganan bencana, kebutuhan uang tunai masyarakat dan perbankan juga menjadi perhatian.
Melalui Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT, BI memastikan kebutuhan likuiditas perbankan di wilayah terdampak tetap terpenuhi. Optimalisasi kas titipan di perbankan menjadi salah satu cara yang dilakukan.
BI juga bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut melalui program Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB).
Program tersebut digunakan untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses dan memastikan masyarakat tetap memperoleh uang Rupiah yang layak edar.
Sejumlah wilayah yang menjadi sasaran antara lain Kupang, Pulau Riung, Pulau Palue, Pulau Pamana, Pulau Waiwerang, dan Pulau Lamalera.
Antisipasi Harga Pangan
Dampak bencana juga berpotensi mengganggu distribusi barang dan pasokan pangan. Karena itu, BI bersama pemerintah daerah terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan komoditas strategis.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk mengantisipasi tekanan inflasi pascabencana. Fokusnya menjaga pasokan tetap tersedia sekaligus mencegah lonjakan harga kebutuhan pokok.
BI memastikan dukungan tidak berhenti setelah masa tanggap darurat selesai.
Tahap berikutnya akan diarahkan pada pemulihan pascabencana dan pemberdayaan masyarakat di wilayah terdampak.
Dukungan tersebut sejalan dengan mandat BI dalam edukasi dan pemberdayaan masyarakat serta lingkungan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Program pemulihan diharapkan dapat membantu aktivitas ekonomi masyarakat terdampak dan mendukung terciptanya lapangan kerja di wilayah yang sedang bangkit dari bencana.
Pada pengiriman tahap ketiga, bantuan secara simbolis diserahkan Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso yang mewakili Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali kepada Kepala Badan Penghubung Daerah Provinsi NTT di Jakarta, Florida Taty Setyawati.
Seremoni tersebut turut disaksikan Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB sekaligus Wakil Koordinator Pos Dukungan Logistik Nasional di Halim Perdanakusumah, Raditya Jati, serta Paban IV Komsos Staf Teritorial Angkatan Udara Kolonel Pasukan Deni Ramdani.
BI turut mengapresiasi BNPB, TNI AU, Pemerintah Provinsi NTT, serta mitra penyedia logistik yang terlibat dalam penyaluran bantuan.
Sinergi tersebut diharapkan membantu masyarakat NTT melewati kebutuhan darurat sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi setelah bencana. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
