Prabowo Singgung Food Security di Depan Peraih Nobel, dari MBG hingga Kampung Nelayan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto ; Ilustrasi/setneg.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID- Presiden Prabowo Subianto membawa isu ketahanan pangan atau food security ke hadapan Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta dan sejumlah peraih Nobel yang ditemuinya di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Dalam pertemuan itu, Prabowo tidak hanya membicarakan kerja sama riset. Berbagai program Indonesia ikut diperkenalkan, mulai dari pengalaman menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga rencana pembangunan kampung nelayan.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan, food security menjadi salah satu isu strategis yang disampaikan Prabowo dalam pertemuan tersebut.
“Pak Presiden juga menyampaikan berbagai program strategis terkait dengan food security, pengalaman kita untuk MBG, dan Presiden juga terus menegaskan komitmen untuk membangun kampung nelayan,” ujar Arif setelah pertemuan.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam pertemuan Prabowo dengan Ramos-Horta bersama para peraih Nobel dari berbagai bidang. Forum itu juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara ilmuwan internasional dan peneliti Indonesia.
Arif mengatakan Prabowo mendorong agar para peraih Nobel tidak hanya hadir dalam forum pertemuan, tetapi juga dapat berkolaborasi dengan peneliti dan akademisi di Indonesia.
Menurut Arif, kehadiran para peraih Nobel dapat memberikan dorongan bagi penguatan talenta riset nasional.
“Karena sangat penting sekali para peraih Nobel itu memberikan inspirasi, kemudian bisa menjadi bagian dari ekosistem penguatan talenta riset di Indonesia,” kata Arif.
Prabowo, lanjut Arif, berharap kerja sama tersebut dapat segera diwujudkan. Indonesia sendiri telah memiliki contoh kolaborasi dengan ilmuwan peraih Nobel melalui kerja sama BRIN dengan Susumu Kitagawa dari Jepang.
Kerja sama tersebut diwujudkan melalui pembangunan sister lab di Indonesia. Salah satu fokusnya berkaitan dengan pengembangan teknologi gas alam dengan tekanan yang lebih rendah menggunakan temuan dari riset Kitagawa.
Selain urusan riset, pertemuan juga menyinggung konservasi. Para peraih Nobel sebelumnya telah mengunjungi kawasan konservasi di Lampung untuk melihat langsung flora dan fauna Indonesia.
Arif mengatakan perhatian terhadap konservasi sejalan dengan komitmen Prabowo untuk memperkuat perlindungan terhadap kekayaan hayati Indonesia.
“Jadi Pak Presiden juga punya komitmen yang sangat kuat agar proteksi terhadap flora fauna di Indonesia ini bisa semakin diperkuat,” ujarnya.
Dari pangan hingga konservasi, pembahasan kemudian bersinggungan dengan persoalan lain yang tidak kalah penting bagi Indonesia, yakni ancaman bencana.
Indonesia berada di kawasan Ring of Fire yang memiliki banyak titik kerentanan terhadap bencana. Oleh karena itu, Prabowo mendorong BRIN terus menghasilkan kajian dan inovasi teknologi yang dapat memberikan solusi.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian ialah rumah modular tahan gempa. Percontohan rumah tersebut telah dibangun sejak 2021–2022.
“Pak Presiden tadi sudah menyampaikan bahwa Indonesia itu merupakan daerah yang ring of fire, banyak sekali titik kerentanan terhadap bencana,” kata Arif.
Persoalan seperti ketahanan pangan, konservasi, hingga kebencanaan pada akhirnya membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan inovasi.
Keberadaan para peraih Nobel diharapkan tidak berhenti sebagai kunjungan, tetapi berkembang menjadi kerja sama dengan peneliti Indonesia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
