Gajah 3 Ton Dipasangi GPS Collar, BKSDA Bengkulu Pantau Pergerakannya di Seblat
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pergerakan gajah liar di Bentang Alam Seblat (BAS), Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, kini bisa dipantau lebih detail. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu memasang GPS Collar pada seekor gajah betina yang diperkirakan memiliki bobot 2,8 hingga 3 ton.
Perangkat tersebut sudah aktif dan gajah yang dipasangi GPS Collar terpantau masih bergerak.
Pemantauan tersebut dinilai sangat penting, karena jalur pergerakan gajah liar di Bentang Alam Seblat bisa bersinggungan dengan wilayah yang digunakan manusia. Data dari GPS Collar diharapkan membantu petugas mengetahui ke mana gajah bergerak dan area mana saja yang sering dilalui kawanan tersebut.
Dengan informasi itu, BKSDA Bengkulu bisa melakukan pemantauan lapangan dengan lebih terarah, terutama ketika pergerakan gajah mendekati kawasan yang berpotensi menimbulkan konflik satwa dengan manusia.
Kepala Balai KSDA Bengkulu Agung Nugroho mengatakan data pergerakan gajah dibutuhkan untuk mempercepat respons sekaligus memperkuat upaya pencegahan konflik.
“Dengan mengetahui pola pergerakan kawanan gajah, kita tidak hanya dapat merespons risiko konflik satwa dan manusia secara lebih cepat, tetapi juga memperkuat mitigasi serta pengelolaan habitatnya secara bijak,” kata Agung.
Gajah Betina 3 Ton
Pemasangan GPS Collar dilakukan pada Sabtu (22/8/2026). Sebelum perangkat dipasang, tim terlebih dahulu memeriksa kondisi kesehatan gajah.
Petugas juga mengambil sampel darah dan feses untuk kebutuhan pemeriksaan laboratorium. Setelah seluruh proses penanganan selesai, gajah kembali bergerak dan GPS Collar mulai mengirimkan data.
Menariknya, saat proses penanganan berlangsung, seekor gajah betina lain yang berukuran lebih kecil terlihat berada tidak jauh dari lokasi tim.
Individu yang dipasangi GPS Collar berada dalam lingkungan pergerakan kelompok gajah. Data dari satu individu nantinya dapat membantu petugas memahami pola perjalanan kawanan di kawasan Seblat.
Tak Hanya Mengandalkan GPS
BKSDA Bengkulu tidak hanya mengandalkan GPS Collar untuk memantau gajah Sumatera di wilayah.
Tim Patroli Monitoring atau Tim Angon Gajah Liar tetap melakukan pemantauan secara langsung di lapangan.
Petugas juga memeriksa jalur yang biasa dilewati gajah dan menyingkirkan potensi ancaman seperti jerat maupun bahan berbahaya.
Upaya ini dilakukan tak lain gunanya mengurangi risiko gajah terluka serta mencegah pertemuan yang dapat berujung pada konflik antara gajah liar dan masyarakat.
BKSDA Bengkulu juga berencana memasang GPS Collar pada kawanan gajah lainnya. Dengan semakin banyak individu yang terpantau, gambaran mengenai jalur dan kebiasaan pergerakan gajah di Bentang Alam Seblat diharapkan menjadi lebih lengkap.
Sementara untuk petugas di lapangan sendiri, data tersebut bukan hanya soal mengetahui titik keberadaan seekor gajah. Pergerakan yang terekam dapat menjadi bahan untuk menentukan kapan dan di mana pemantauan perlu dilakukan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan aktivitas manusia.
Dengan demikian, keberadaan gajah Sumatera di Bentang Alam Seblat bisa tetap dijaga tanpa membiarkan potensi konflik dengan manusia berkembang menjadi masalah yang lebih besar. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
