Operasi Janin Pertama di Indonesia Berpacu dengan Waktu, Pasien Spina Bifida Datang Saat 18 Minggu
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – RSAB Harapan Kita berhasil melakukan open fetal surgery atau operasi janin terbuka pertama di Indonesia untuk menangani myelomeningocele, salah satu bentuk paling berat dari spina bifida.
Operasi dilakukan Selasa (25/8/2026) oleh tim multidisiplin RSAB Harapan Kita bersama tim Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia. Pasien sebelumnya dirujuk ke RSAB Harapan Kita saat usia kehamilan 18 minggu.
Pasien Dirujuk Saat Kehamilan 18 Minggu
Ketua Tim Obstetri dan Ginekologi RSAB Harapan Kita, dr. Gatot Abdurrazak, mengatakan pasien harus segera ditangani, karena tindakan perbaikan pada janin memiliki batas waktu.
“Pasien ini datang dikirim oleh sejawat dengan kelainan spina bifida pada usia kehamilan 18 minggu. Ini menjadi kesempatan untuk melakukan repair, karena waktunya hanya sampai 26 minggu,” ujar Gatot dalam konferensi pers di RSAB Harapan Kita, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Pada open fetal surgery, ibu mendapatkan anestesi sebelum dokter melakukan pembukaan rahim secara terkontrol. Janin kemudian diakses melalui rahim untuk memperbaiki kelainan myelomeningocele.
Setelah tindakan selesai, janin dikembalikan ke dalam rahim. Rahim kemudian ditutup kembali dan ditempatkan kembali ke dalam tubuh ibu.
Myelomeningocele terjadi ketika tulang belakang dan jaringan saraf tidak menutup dengan sempurna selama perkembangan janin. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf, kelumpuhan, gangguan fungsi kandung kemih dan usus, serta meningkatkan risiko hidrosefalus.
Kelainan dapat dideteksi selama kehamilan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) fetomaternal. Setelah diagnosis ditegakkan, pasien menjalani pemeriksaan dan skrining, termasuk skrining kelainan genetik, sebelum dipertimbangkan menjalani bedah janin sesuai indikasi medis.
Janin Harus Tetap Stabil Selama Operasi
Ketua Tim Bedah Saraf RSAB Harapan Kita, dr. Alfi Aulia Rahmah, mengatakan kondisi janin harus terus dipantau selama tindakan berlangsung.
“Pada tindakan intrauterin, yang krusial adalah bagaimana menjaga janin tetap stabil. Apabila janin tidak stabil, operasi harus dihentikan,” kata Alfi.
Operasi melibatkan sejumlah bidang, mulai dari dokter bedah saraf, dokter fetomaternal, dokter obstetri dan ginekologi, dokter anestesi, perawat, hingga tenaga penunjang lainnya.
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menyebut tindakan tersebut sebagai fetal open surgery pertama di Indonesia.
“Ini adalah operasi pertama di Indonesia, fetal open surgery, artinya operasi janin secara terbuka ketika masih berada di dalam kandungan,” ujar Dante.
Menurut Dante, tindakan tersebut dilakukan oleh dokter-dokter Indonesia dengan dukungan tim dari Australia.
Kemampuan Terapi Janin Dibangun Sejak 2005
Kemampuan terapi janin di RSAB Harapan Kita telah dikembangkan selama bertahun-tahun. Rumah sakit tersebut mulai melakukan transfusi intrauterin sejak 2005 dan mengembangkan tindakan fetoskopik sejak 2011.
RSAB Harapan Kita juga telah menjalankan sejumlah layanan fetal treatment, termasuk vesicoamniotic shunting, thoracoamniotic shunting, serta fetoskopik laser untuk menangani twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS).
Hingga saat ini, sekitar 200 kasus fetoskopik laser telah ditangani di RSAB Harapan Kita.
Dalam operasi pertama open fetal surgery ini, tim Indonesia mendapat dukungan dari Mater Mothers’ Hospital, Brisbane. Maternal Fetal Medicine Dr. Glenn Radford mengatakan tindakan dilakukan bersama tim RSAB Harapan Kita dan berjalan tanpa komplikasi.
“Yesterday, a historic event here in Indonesia, operating side-by-side with our friends from Harapan Kita, we performed the first surgery, and it went very well. We didn’t have any complications,” ujar Glenn.
RSAB Siapkan Layanan Secara Mandiri
Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, mengatakan layanan tersebut akan dilanjutkan setelah tim Australia kembali ke negaranya.
“Multidisiplin kami sudah siap. Setelah ini RSAB akan melanjutkan dengan pasien-pasien berikutnya,” ujarnya.
RSAB Harapan Kita juga akan mengembangkan kemampuan tersebut melalui program pengampuan kepada rumah sakit lain yang memiliki keunggulan di bidang fetomaternal.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, dr. Azhar Jaya, mengatakan pengembangan layanan kedokteran berteknologi tinggi didukung melalui penguatan tata kelola rumah sakit pemerintah, termasuk pengembangan kompetensi, pelatihan, dan pengampuan layanan advanced.
Pengembangan layanan fetal surgery tersebut diarahkan untuk memperluas kemampuan penanganan kelainan bawaan sejak dalam kandungan di Indonesia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
