Sulteng Bebas TB dalam 3 Tahun, 1.073 Mahasiswa Diterjunkan ke Keluarga Pasien
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 25 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemdiktisaintek.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Target Sulteng bebas TB dalam tiga tahun ke depan mulai diarahkan pada langkah nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menemukan pasien, tetapi juga mencegah penularan di lingkungan keluarga dan memastikan pasien menjalani pengobatan sampai tuntas.
Sebanyak 1.073 mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi di Sulawesi Tengah dilibatkan dalam program BERANI MAGAYA (Berantas Infeksi TB, Mahasiswa JaGa dan SaYAng Keluarga).
Para mahasiswa akan mendampingi pasien TB paru dan keluarga, memberikan edukasi, membantu memastikan pengobatan berjalan, serta mendorong orang yang memiliki kontak erat dengan pasien untuk menjalani pemeriksaan.
Target Sulteng bebas TB dalam tiga tahun disampaikan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid dalam rangkaian Dies Natalis Universitas Tadulako, Sabtu (22/8/2026).
Target tersebut menjadi pekerjaan besar karena kasus TB di Sulawesi Tengah masih cukup tinggi. Sekitar 8.418 kasus TB telah ditemukan di provinsi ini, dengan sekitar 1.900 kasus berada di Kota Palu. Capaian terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) masih jauh dari target. Capaian TPT baru sekitar 7 persen di Kota Palu dan 14 persen di tingkat Sulawesi Tengah, sementara targetnya mencapai 80 persen.
Penanganan TB tidak cukup mencari pasien
Penanganan TB Sulawesi Tengah tidak bisa hanya mengandalkan penemuan dan pengobatan pasien. Orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat juga perlu diperiksa karena berisiko tertular.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menekankan pentingnya pemeriksaan terhadap orang yang tinggal serumah dengan pasien TB.
Jika tidak ditemukan sakit, orang yang berisiko dapat memperoleh terapi pencegahan sesuai hasil pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan.
Oleh karena itu, mahasiswa dalam program BERANI MAGAYA diarahkan untuk membantu menjangkau keluarga pasien.
Peran mereka bukan menggantikan tenaga kesehatan, melainkan membantu edukasi, pendampingan, pendataan keluarga, serta mendorong kontak erat agar tidak melewatkan pemeriksaan.
Dengan cara ini, penanganan TB tidak berhenti ketika pasien ditemukan, tetapi ikut menyasar lingkungan tempat penularan berpotensi terjadi.
1.073 mahasiswa bergerak di empat wilayah
Program BERANI MAGAYA merupakan bagian dari Konsorsium Perguruan Tinggi Sulawesi Tengah atau KITA SULTENG.
Sebanyak tujuh perguruan tinggi terlibat dengan dukungan 1.073 mahasiswa dan 155 dosen. Program tersebut menjangkau Kota Palu serta Kabupaten Poso, Banggai, dan Tolitoli.
Tujuh perguruan tinggi itu terdiri dari Universitas Tadulako, Poltekkes Kemenkes Palu, Universitas Widya Nusantara, Universitas Muhammadiyah Palu, Universitas Tompotika Luwuk Banggai, Universitas Alkhairaat Palu, dan STIK Indonesia Jaya.
Keterlibatan ribuan mahasiswa menjadi kekuatan tersendiri dalam upaya penanganan TB. Mereka memiliki akses ke lingkungan masyarakat melalui kegiatan pendampingan dan edukasi.
Sementara itu, dosen dan perguruan tinggi memberikan dukungan pengetahuan serta pendampingan dalam pelaksanaan program.
Di lapangan, kegiatan tersebut tetap terhubung dengan dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan agar masyarakat yang berisiko dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Pemeriksaan TB diperkuat dengan 16 alat X-ray
Upaya mencapai target Sulteng bebas TB juga dibarengi penguatan pemeriksaan.
Kementerian Kesehatan menyiapkan CKG khusus TB di 53.335 lokasi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 508 lokasi berada di Sulawesi Tengah.
Sulawesi Tengah juga akan mendapatkan 16 alat X-ray untuk memperluas pemeriksaan.
Penguatan pemeriksaan menjadi penting karena semakin banyak masyarakat berisiko yang diperiksa, semakin besar peluang kasus TB ditemukan lebih awal.
Namun, menemukan kasus bukan akhir dari penanganan. Pasien harus mendapatkan pengobatan dan menyelesaikannya, sementara keluarga serta kontak erat perlu mendapat pemeriksaan dan pencegahan sesuai kondisi masing-masing.
Target Sulteng bebas TB diuji di lapangan
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menginginkan BERANI MAGAYA tidak berhenti sebagai kegiatan seremoni.
Pemerintah provinsi akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, dan jajaran kesehatan untuk memperkuat pelaksanaan program.
Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus juga mendorong pemerintah daerah memasukkan penanganan TB dalam perencanaan dan penganggaran secara berkelanjutan.
Artinya, target Sulteng bebas TB bukan hanya menjadi pekerjaan dinas kesehatan. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, mahasiswa, pasien, dan keluarga semuanya memiliki peran.
Tiga tahun bukan waktu yang panjang untuk mengejar target tersebut. Tantangannya kini adalah memastikan 1.073 mahasiswa yang dilibatkan benar-benar mampu memperluas pendampingan, sementara setiap temuan di lapangan mendapat tindak lanjut dari layanan kesehatan.
Jika seluruh mata rantai itu berjalan, upaya menekan kasus TB di Sulawesi Tengah tidak berhenti pada angka dan target, tetapi mulai terlihat hasilnya di keluarga dan masyarakat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
