Skrining TB Palembang Dikebut di 18 Kecamatan, Radiografer Mulai Diburu, X-Ray Portable Menyusul
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 14 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :sit
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Upaya menemukan kasus tuberkulosis (TB) di Palembang mulai diperluas ke seluruh wilayah. Setelah sekitar 2.900 warga menjalani pemeriksaan dari lebih 3.000 sasaran, Dinas Kesehatan Kota Palembang kini menyiapkan tenaga radiografer untuk mendukung skrining hingga 18 kecamatan.
Kebutuhan tenaga muncul seiring rencana perluasan penggunaan rontgen atau X-ray portable. Alat ini nantinya tidak hanya digunakan di fasilitas kesehatan, tetapi dibawa langsung ke posyandu dan titik-titik yang mudah dijangkau masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang dr. Hj. Fenty Aprina, M.Kes., Sp.KKLP mengatakan, pihaknya menargetkan setiap puskesmas memiliki sedikitnya satu radiografer yang kompeten.
Menurut Fenty, skema pemeriksaan secara mobile akan terus dikembangkan. Petugas kesehatan dapat membawa peralatan ke lingkungan warga sehingga masyarakat di wilayah yang sulit mengakses layanan kesehatan tetap memiliki kesempatan menjalani skrining.
Rencana tersebut mulai diuji di Posyandu Anggrek, Jalan Perindustrian II, Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami, Senin (24/8/2026). Uji coba itu menjadi bagian dari integrasi skrining TB ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Untuk mendukung perluasan layanan, Kementerian Kesehatan RI akan menghibahkan alat portable X-ray. Saat ini, RS Fatimah tercatat telah memiliki satu unit bantuan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Dengan pola mobile, pemeriksaan TB tidak lagi sepenuhnya bergantung pada warga yang datang ke puskesmas atau rumah sakit. Petugas dapat mendatangi posyandu maupun lokasi yang menjadi titik berkumpul masyarakat.
Palembang menargetkan layanan tersebut menjangkau seluruh 18 kecamatan. Dari lebih 3.000 warga yang menjadi sasaran sementara, sekitar 2.900 orang telah diperiksa dan mendapat penanganan.
Namun, penemuan kasus TB tidak berhenti setelah pasien ditemukan. Kontak erat, terutama anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien, juga menjadi sasaran pencegahan.
Fenty menjelaskan, kontak erat dapat diberikan obat pencegahan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Langkah ini diperlukan karena TB dapat menular melalui udara ketika penderita batuk atau berbicara.
Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala yang mengarah pada TB, seperti batuk lebih dari tiga minggu, berat badan menurun, demam pada malam hari hingga batuk berdarah. Pemeriksaan dapat dilakukan di puskesmas.
Sekretaris Daerah Kota Palembang Aprizal Hasyim mengatakan, pemerintah ingin memastikan layanan CKG dan skrining TB tidak hanya tersedia di puskesmas, tetapi bisa menjangkau posyandu serta lingkungan tempat warga beraktivitas.
Melalui perluasan skrining, penambahan X-ray portable dan pemenuhan tenaga radiografer, Palembang berupaya mempercepat penemuan kasus TB. Tantangannya kini bukan sekadar membawa alat lebih dekat kepada warga, tetapi memastikan ada tenaga yang siap mengoperasikannya di lapangan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
