Mahasiswa Baru Masuk, Lulusan Keluar, Setelah Bertahun-tahun Kuliah, Apa yang Berubah?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi/kemdiktisaintek.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Setiap tahun, gerbang kampus seperti menyaksikan dua cerita yang berjalan beriringan.
Ada anak muda yang baru datang membawa harapan. Mereka mengenakan jaket almamater dengan semangat baru, karena kali pertama menggunakan pakaian bebas, dan mencari ruang kelas, mengenal teman baru, serta perlahan mencoba kemudian merenung seperti apa kehidupan setelah kuliah.
Dibagian lainnya, ada pula mahasiswa, justru sedang bersiap meninggalkan kampus. Bertahun-tahun mereka habiskan di ruang kuliah, laboratorium, organisasi, perpustakaan, tempat magang, hingga berbagai pengalaman yang tidak selalu tercatat dalam lembar nilai.
Tak lama lagi, mereka akan keluar dengan membawa ijazah dan pertanyaan baru tentang kehidupan setelah kampus.
Dua kelompok itu sebenarnya sedang berada dalam satu perjalanan yang sama.
Yang satu baru memulai. Yang lain hampir selesai.
Lalu muncul pertanyaan sederhana, setelah seseorang masuk sebagai mahasiswa dan keluar sebagai lulusan, apa yang sebenarnya berubah dari dirinya?
Pertanyaan tersebut terasa dengan pesan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan Adziman saat memberikan orasi ilmiah pada pelantikan mahasiswa baru Politeknik Negeri Bandung, belum lama ini.
Fauzan mengingat kembali ketika dirinya pertama kali masuk kampus. Salah satu hal yang dipikirkannya saat itu adalah apa yang akan membedakan dirinya sebelum dan sesudah lulus.
Sekilas, pertanyaan itu sederhana.
Tetapi bagi mahasiswa baru maupun mereka yang sebentar lagi menyandang gelar sarjana, pertanyaan tersebut sebenarnya cukup dalam.
Sebab kuliah tidak semestinya hanya menjadi perjalanan administratif dari daftar ulang menuju wisuda.
Ada tahun-tahun yang seharusnya mengubah cara seseorang memandang dunia.
Mahasiswa baru tentu belum harus mengetahui seluruh jawaban tentang masa depannya. Ada yang sudah yakin dengan jurusan yang dipilih, ada yang masih mencari kecocokan. Ada yang masuk perguruan tinggi negeri, ada pula yang memilih kampus swasta karena pertimbangan yang berbeda.
Tidak ada satu jalan yang berlaku untuk semua orang.
Yang penting adalah apa yang dilakukan setelah pilihan itu dibuat.
Kampus hanyalah titik awal.
Nama besar perguruan tinggi mungkin membantu membuka pintu tertentu. Fasilitas yang baik bisa memberikan ruang belajar yang lebih luas. Dosen dapat membuka wawasan. Teman-teman bisa memperkenalkan cara pandang baru.
Tetapi semua itu belum otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik.
Mahasiswalah yang harus mengambil bagian paling penting dalam proses tersebut.
Ia harus mau belajar, mencoba, bertanya, gagal, memperbaiki diri, dan sesekali keluar dari zona nyaman. Sebab kemampuan yang dibutuhkan setelah lulus tidak seluruhnya bisa diperoleh hanya dengan duduk di ruang kuliah.
Di sinilah mahasiswa semester pertama dan mahasiswa tingkat akhir sebenarnya memiliki persoalan yang sama.
Yang baru masuk sedang bertanya, “Saya nanti akan menjadi apa?”
Sementara yang hendak lulus mulai berhadapan dengan pertanyaan, “Setelah ini saya akan ke mana?”
Di antara kedua pertanyaan itulah masa kuliah berlangsung.
Sayangnya, kesibukan mengejar kelulusan kadang membuat pertanyaan yang lebih penting terlupakan “Selama berada di kampus, saya sudah menjadi apa?”
Seseorang bisa saja memperoleh nilai bagus, menyelesaikan seluruh mata kuliah, dan akhirnya berdiri di panggung wisuda.
Namun pendidikan akan terasa belum lengkap, jika setelah bertahun-tahun belajar, tidak banyak yang berubah dalam cara berpikir, kemampuan, keberanian, maupun kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar.
Oleh sebab itu, ukuran keberhasilan kuliah tidak harus berhenti pada indeks prestasi atau selembar ijazah.
Ada nilai lain yang sering tidak tercetak di atas kertas.
Kemampuan bekerja bersama orang lain. Kemampuan menyampaikan gagasan. Kemampuan menyelesaikan masalah. Kemampuan belajar hal baru. Kemampuan menerima kritik. Keberanian membuat karya. Bahkan kesanggupan untuk bangkit ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Semua itu bisa menjadi bekal ketika pintu kampus akhirnya ditinggalkan.
Pesan tersebut semakin penting bagi generasi muda yang hidup di tengah perubahan teknologi yang bergerak cepat. Bidang pekerjaan berubah, kebutuhan industri berkembang, dan pengetahuan yang dianggap cukup hari ini belum tentu memadai beberapa tahun mendatang.
Karena itu, mahasiswa tidak bisa hanya mengandalkan apa yang diperoleh dari satu bidang studi.
Fauzan pun mendorong mahasiswa untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan selama menjalani pendidikan tinggi. Target masa depan boleh berubah, tetapi mahasiswa perlu mulai memikirkan arah sejak awal agar setiap langkah yang ditempuh memiliki tujuan.
Pada titik ini, kuliah seharusnya tidak dipandang sebagai perlombaan siapa yang paling cepat lulus.
Ada yang mungkin selesai tepat waktu. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang langsung bekerja. Ada yang melanjutkan pendidikan. Ada pula yang membangun usaha atau memilih jalan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan ketika pertama masuk kampus.
Jalan setiap orang memang berbeda.
Namun ada satu hal yang seharusnya sama, ketika keluar dari kampus, seseorang membawa lebih banyak bekal daripada ketika ia pertama kali masuk.
Bekal itu bukan hanya ijazah.
Ia membawa kemampuan.
Ia membawa pengalaman.
Ia membawa cara berpikir yang lebih matang.
Dan jika pendidikan berjalan sebagaimana mestinya, ia juga membawa keinginan untuk membuat pengetahuan yang dimilikinya berguna bagi orang lain.
Mungkin itulah makna terdalam dari pertanyaan yang pernah muncul dalam benak Fauzan ketika menjadi mahasiswa dulu.
Bukan semata-mata soal pekerjaan apa yang akan didapat setelah lulus.
Melainkan tentang perubahan apa yang terjadi selama perjalanan itu.
Sebab ada perbedaan antara masuk kampus dan sekadar keluar membawa ijazah, dengan masuk sebagai seseorang yang sedang mencari arah lalu keluar sebagai pribadi yang lebih siap menghadapi kehidupan.
Bagi mereka yang baru akan memulai semester pertama, tidak perlu merasa harus sudah memiliki seluruh peta masa depan.
Mulailah dengan belajar mengenali diri sendiri.
Bagi mereka yang sudah berada di tengah perjalanan, jangan ragu mengevaluasi kembali arah yang sedang ditempuh.
Dan bagi mereka yang sebentar lagi lulus, mungkin ini saat yang tepat untuk menoleh sebentar sebelum benar-benar meninggalkan gerbang kampus.
Lihat kembali siapa diri kita ketika pertama datang.
Lalu tanyakan dengan jujur
Apa yang sekarang sudah berubah?
Jika jawabannya bukan hanya tentang gelar yang akan disandang, mungkin perjalanan kuliah itu memang telah memberi sesuatu yang lebih berharga.
Sebab pada akhirnya, perguruan tinggi bukan hanya tempat seseorang mendapatkan gelar.
Ia seharusnya menjadi tempat seseorang bertumbuh sebelum akhirnya kembali ke tengah masyarakat.
Ada yang baru masuk membawa mimpi.
Ada yang sedang berjalan mencari bentuk dirinya.
Ada yang sebentar lagi keluar membawa bekal untuk kehidupan berikutnya.
Dan di antara pintu masuk dan pintu keluar itulah, masa depan generasi muda sebenarnya sedang dibentuk. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
