Minggu, 20 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan-Kaki Bukit » Bagaimana Jika Banyak Sarjana Ciptakan Lapangan Kerja untuk Bangun Desanya Sendiri?

Bagaimana Jika Banyak Sarjana Ciptakan Lapangan Kerja untuk Bangun Desanya Sendiri?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
  • visibility 22
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID –  Sabtu malam ini, saya sengaja membuka situs Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dilayar komputer, dan membaca berita tentang wisuda Universitas Tridinanti Palembang dihadiri Wakil Gubernur Sumsel H. Cik Ujang, Sabtu (22/8/2026). Ada satu pesan dalam sambutannya, yang membuat saya berpikir tentang sarjana, lapangan kerja dan pembangunan desa.

Di situ Cik Ujang mengingatkan para wisudawan, agar tidak hanya menjadi job seeker, tetapi mampu menjadi job creator. Setelah lulus, para sarjana diharapkan bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja.

Pesan yang dilontarkan itu tentunya sangat positif, bahkan enak di dengar, tetapi kemudian membuat saya berpikir lebih jauh lagi, dan bertanya dibenak sendiri, bagaimana jika sarjana menciptakan lapangan kerja untuk membangun desanya sendiri? karena dari sekian ratus bahkan ribu yang di sudah itu, mereka itu ada sebagian yang berasal dari desa.

Selama ini kita seperti terbiasa melihat keberhasilan seorang anak desa dari seberapa jauh ia pergi. Setelah sarjana, mencari pekerjaan di Palembang. Kalau belum mendapat yang cocok, mencoba Jakarta atau kota besar lainnya.

Merantau tentu bukan sesuatu yang salah, hal itu sangat sah, siapa saja bisa melakukannya. Apalagi, anak muda memang perlu mencari pengalaman, memperluas wawasan dan membangun jaringan.

Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan, yaitu seandainya semua anak muda yang berpendidikan tinggi pergi, siapa yang akan membangun desa?

Pertanyaan itu membuat saya penasaran. Apakah persoalan anak muda meninggalkan daerah asal untuk mencari kesempatan kerja di kota besar hanya terjadi di daerah kita, atau juga terjadi di negara lain?

Saya kemudian mencoba mencari tahu lewat sejumlah media online dari negara lain. Salah satunya Korea Selatan (Korsel).

Dari penelusuran itu, saya menemukan pemberitaan Financial News Korea yang mengutip data Statistics Korea (KOSTAT), lembaga statistik nasional Korsel, kira-kira posisinya seperti BPS di Indonesia.

KOSTAT memiliki laporan Recent 20 Years of Population Movement to the Capital Region membahas pola perpindahan penduduk menuju kawasan ibu kota dalam dua dekade terakhir.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah kelompok usia mudanya. Menurut data yang diberitakan Financial News, kelompok usia 19–34 tahun terus mengalami arus masuk bersih ke kawasan metropolitan Korsel. Pada 2024, arus masuk bersih kelompok usia tersebut mencapai sekitar 60 ribu orang

Bahkan, pemberitaan media Korsel kemudian membuat persoalan itu semakin jelas. Anak muda bukan hanya berpindah tempat tinggal. Mereka juga mengikuti kesempatan kerja, pendidikan dan aktivitas ekonomi yang lebih terkonsentrasi di kawasan ibu kota.

Jadi, rupanya persoalan anak muda meninggalkan daerah untuk mengejar pekerjaan di kota besar bukan hanya cerita dari kampung-kampung kita. Korsel pun demikian menghadapi persoalan serupa.

Yang menarik lagi, bagi saya kemudian bukan hanya datanya, tetapi bagaimana mereka merespons persoalan itu.

Pada 2026, pemerintah Korsel memilih 10 komunitas baru dalam program Youth Villages. Program ini mendorong anak muda mengembangkan kegiatan di daerah, menciptakan peluang kerja lokal dan membangun ruang komunitas.

Pesannya juga, anak muda tidak cukup hanya diminta jangan pergi. Harus ada alasan bagi mereka untuk tinggal atau suatu hari kembali.

Indonesia Juga Menghadapi Persoalan yang Sama

Ternyata pertanyaan semacam itu juga bukan sesuatu yang asing di Indonesia. Pada Desember 2024, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyoroti persoalan sarjana yang enggan kembali ke desa.

Dalam laporan detik.com, Yandri menyampaikan ada sarjana yang lebih memilih menganggur di kota daripada kembali ke desa.

Kalimat itu menarik perhatian saya, sebab masalahnya bukan semata-mata apakah anak muda mau pulang atau tidak. Pertanyaan yang lebih pentingnya adalah apa yang bisa mereka lakukan ketika pulang?

Di dalam negeri sebenarnya sudah ada contoh bagaimana pengetahuan perguruan tinggi dibawa kembali ke masyarakat desa.

Institut Pertanian Bogor atau IPB University memiliki program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam). Program ini mempertemukan dosen, mahasiswa dan masyarakat lokal untuk membawa pengetahuan, inovasi dan keahlian perguruan tinggi ke desa.

Menurut laporan IPB juga, program Dospulkam 2024 menjangkau 75 desa di 12 provinsi, dengan melibatkan 314 dosen dan 150 mahasiswa. Kegiatannya antara lain, berupa pelatihan, pendampingan dan penerapan inovasi sesuai persoalan serta potensi masing-masing desa.

Bahkan bentuknya sangat konkret, pasalnya di Desa Girijaya, Sukabumi, misalnya, kegiatan Dospulkam digunakan untuk membantu mengembangkan potensi wisata desa melalui perencanaan dan pemasaran digital. Sementara di tempat lainnya, dosen IPB membantu masyarakat memanfaatkan limbah pertanian menjadi pakan ternak.

Program itu memang bukan persis gambaran sarjana yang pulang lalu menetap di kampung. Tetapi ada satu hal penting yang bisa kita lihat yaitu, bagaimana ilmu dari perguruan tinggi ternyata bisa dibawa kembali ke desa dan digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Artinya, gagasan tentang orang berpendidikan tinggi yang kembali memberi manfaat bagi daerah bukan sesuatu yang mengawang-awang.

Tentu dengan melihat hal itu, ternyata di Indonesia, sudah ada contohnya, tinggal bagaimana gagasan itu makin diperluas sehingga nantinya membuat sarjana -sarjana kita memiliki kesadaran.

Bagaimana Kalau 20 Sarjana Pulang?

Sekarang mari kita beradai-andai, misalnya di suatu kampung, ada 20 orang sarjana yang suatu hari memilih untuk kembali ke kampungnya setelah menempuh pendidikan dan mendapatkan pengalaman di kota.

Bidangnya pun berbeda-beda, ada sarjana teknik sipil, pertanian, ekonomi, teknologi informasi, pendidikan, peternakan, perikanan, hukum, komunikasi, manajemen dan bidang lainnya.

Mereka tidak harus semuanya menjadi pengusaha. Mereka cukup membawa ilmu masing-masing dan melihat kampung dengan cara yang berbeda. Sarjana teknik mungkin melihat jalan, jembatan dan irigasi yang perlu dibenahi. Sarjana pertanian melihat hasil panen yang selama ini dijual mentah. Sarjana ekonomi melihat usaha kecil yang sebenarnya bisa berkembang tetapi belum dikelola dengan baik.

Selain itu, sarjana teknologi melihat peluang pemasaran melalui internet. Sarjana komunikasi membantu produk kampung dikenal lebih luas, dan yang lain mungkin melihat peluang peternakan, perikanan, pendidikan, wisata atau usaha baru yang selama ini belum terpikirkan.

Satu sarjana mungkin hanya mampu membuat satu perubahan kecil. Tetapi jika 20 sarjana dengan ilmu yang berbeda, bekerja untuk kampung yang sama, tentunya bisa menghasilkan perubahan yang jauh lebih besar.

Tidak harus langsung membangun perusahaan besar. Satu usaha tumbuh, membutuhkan beberapa pekerja. Usaha lain menyusul, produk kampung mulai menemukan pasar dan uang berputar lebih banyak di dalam kampung.

Bahkan pelan-pelan, anak muda lain mungkin mulai melihat bahwa masa depan tidak selalu berada di kota. Di sinilah makna job creator menjadi lebih menarik.

Sebab, menciptakan lapangan kerja tidak harus selalu lahir dari kota. Lapangan kerja bisa lahir dari kampung, dari orang yang mengenal persoalan kampungnya sendiri dan memiliki ilmu untuk mencari jalan keluarnya.

Sumatera Selatan Punya Modal

Nah, gagasan ini bisa juga diterapkan Sumsel, apalagi potensinya sudah ada. Data BPS Sumsel menyebutkan pada Mei 2026 terdapat sekitar 4,42 juta penduduk bekerja. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menyerap sekitar 2,07 juta orang atau 46,81 persen dari penduduk bekerja. Pada periode yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka Sumsel tercatat 3,60 persen.

Angka itu menunjukkan sektor yang berbasis di daerah dan desa masih mempunyai peran besar dalam kehidupan ekonomi Sumsel. Apalagi Sumsel juga punya sawah, perkebunan, sungai, perikanan, peternakan, hasil hutan, budaya dan berbagai potensi lokal.

Persoalannya sering kali bukan karena kita tidak punya sumber daya. Kita hanya belum cukup banyak memiliki orang yang mampu mengubah sumber daya itu menjadi nilai tambah.

Oleh sebab itu, sarjana bisa mengambil perannya dalam pembangunan desa dan ekonomi lokal. Misalnya, sarjana pertanian bisa membantu meningkatkan produktivitas dan mencari pasar.

Sarjana ekonomi bisa membantu usaha masyarakat berkembang lebih sehat. Sarjana teknologi bisa membawa produk desa ke pasar digital. Sarjana teknik bisa ikut memikirkan infrastruktur.

Bahkan yang lain bisa bergerak di pendidikan, kesehatan, peternakan, perikanan, pariwisata atau bidang lain yang memang dibutuhkan masyarakat. Ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti di ijazah. Ia harus menemukan tempat untuk bekerja di tengah masyarakat.

Jangan Sampai Desa Hanya Menjadi Tempat Asal

Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara memandang keberhasilan. Selama ini anak desa yang berhasil sering dianggap berhasil ketika ia mampu pergi jauh, mendapatkan pekerjaan bagus dan menetap di kota.

Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi bagaimana jika keberhasilan juga berarti ketika seseorang mampu kembali dan membuat sesuatu di kampungnya?

Membuka usaha, membantu petani, menciptakan pekerjaan, mengembangkan produk lokal. Selain itu bisa mengajari anak-anak desa. Membangun koperasi, mengembangkan wisata, atau pun membawa teknologi dan cara berpikir baru yang membuat masyarakat bekerja lebih baik.

Pulang tidak selalu berarti gagal bersaing di kota. Bisa jadi pulang adalah tanda seseorang ingin menggunakan hasil perjalanannya untuk sesuatu yang lebih besar. Oleh karena itu, pesan agar sarjana menjadi job creator menurut saya bisa dibaca lebih luas.

Apalagi, bukan cuma menjadi pengusaha, melainkan  menjadi orang yang mampu menciptakan kesempatan. Dan kesempatan itu tidak selalu harus dicari di kota. Barangkali ada di kampung sendiri.

Pergilah jika memang harus pergi, dan belajarlah, cari pengalaman, serta bangun jaringan, kenali juga dunia yang lebih luas. Tetapi jangan lupa jalan pulang.

Sebab, di kampung mungkin ada lahan yang menunggu diolah, hasil pertanian yang menunggu diberi nilai tambah, usaha kecil yang menunggu dikembangkan, anak-anak yang membutuhkan ilmu dan anak muda yang membutuhkan kesempatan.

Jangan sampai pendidikan hanya membuat anak-anak desa pintar meninggalkan desanya. Pendidikan juga seharusnya membuat mereka mampu kembali dan membangunnya.

Sebab endingnya sebenarnya sederhana, jika bukan mereka yang pulang dan membangun kampungnya, lantas siapa? (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Target 10 Ribu Bedah Rumah, Baru 911 Lolos Verifikasi

    Target 10 Ribu Bedah Rumah, Baru 911 Lolos Verifikasi

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 25
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Program bedah rumah bagi orang tua siswa Sekolah Rakyat belum mencapai target yang ditetapkan pemerintah, dari alokasi 10 ribu rumah pada 2026, baru 911 unit dinyatakan memenuhi syarat setelah sekitar 2.000 rumah menjalani proses verifikasi. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan dua kendala utama menjadi penyebab banyak rumah belum lolos verifikasi, yakni persoalan kepemilikan […]

  • Instruksikan Kepala Daerah Siaga Karhutla

    Instruksikan Kepala Daerah Siaga Karhutla

    • calendar_month Rabu, 10 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 783
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Provinsi Sumatera Selatan mengintruksikan para kepala daerah untuk aktif dan mewaspadai  terjadinya bencana alam termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan akan berupaya sekuat tenaga dalam   memfasilitasi penanggulanan bendana termasuk urusan Karhutla. Demikian juga dengan masyarakat kita mintakan kerjasamanya  dalam mengatasi Karhutla ini,” harap  Wakil Gubernur Sumsel Ir H. Mawardi Yahya […]

  • Dorong Pengembangan Budidaya Pohon Aren di Sumsel

    Dorong Pengembangan Budidaya Pohon Aren di Sumsel

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.241
    • 0Komentar

    PEMPROV. Sumsel berencana akan terus mengembangkan budidaya pohon aren atau enau disejumlah lahan. Upaya itu dilakukan mengingat pohon aren memiliki nilai tambah untuk masyarakat, terlebih bagi para petani. “Aren ini berpotensi bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Banyak sektor terdampak dengan budidaya aren ini, salah satunya sektor ekonomi untuk masyarakat,” kata Wakil Gubernur Sumsel H Herman Deru saat […]

  • Jika ASN Patuh dengan Ini, Insya Allah Gak Terjadi KKN

    Jika ASN Patuh dengan Ini, Insya Allah Gak Terjadi KKN

    • calendar_month Jumat, 26 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 930
    • 0Komentar

    Palembang – Aparatur sipil negara (ASN) di Sumsel harus menjalankan kode etik serta kode perilaku yang telah ditetapkan dengan sebaik-baiknya. Hal ini penting untuk menghindari adanya praktek pelanggaran, seperti korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) yang berada di lingkungan pejabat negara tersebut, sebab praktek tersebut bukan lagi rahasia yang harus ditutupi. Masyarakat pada umumnya mengetahui. Salah satu […]

  • Awali tahun 2024, Samsung kenalkan Galaxy A25 5G, smartphone baru dengan performa yang pasti kuat, fitur-fitur, di-upgrade agar pasti makin canggih, dan desain kekinian, berapa harganya !

    Awali tahun 2024, Samsung kenalkan Galaxy A25 5G, smartphone baru dengan performa yang pasti kuat, fitur-fitur, di-upgrade agar pasti makin canggih, dan desain kekinian, berapa harganya !

    • calendar_month Sabtu, 6 Jan 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 10.476
    • 0Komentar

    Tersedia mulai 5 Januari 2024 mulai dari Rp 3.999.000, nikmati pengalaman ngonten sampai gaming yang pasti lancar dengan fitur-fitur yang ditingkatkan   – Tahun baru, smartphone baru, awali dengan yang pasti-pasti si Galaxy A25 5G. Memasuki 2024, Samsung memperkenalkan Galaxy A25 5G, smartphone baru dengan performa yang pasti kuat, fitur-fitur yang di-upgrade agar pasti makin […]

  • Ingatkan Warga Bahaya COVID-19 di Safari Jumat

    Ingatkan Warga Bahaya COVID-19 di Safari Jumat

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 715
    • 0Komentar

    PEMKAB Musi Banyuasin Terus Gencar Mensosialisasikan gerakan Wajib Pake Masker kali ini Wakil Bupati Musi Banyuasin Beni Hernedi melakukan kunjungan kerja di Desa Cinta Damai (C1) Kecamatan Sungai dalam rangka Safari Jumat. Sebelum Shalat Jum’at berjamaah dengan masyarakat di Masjid An-Nur, Jumat (28/8/2020), Wabup menyampaikan tujuan kunjungan kerjanya sengaja untuk bersilaturahmi dan meninjau langsung kondisi […]

expand_less
WordPress Archive Otaru – Technology & Digital Agency WordPress Theme Otello – Personal Blog and Magazine WordPress Theme Otmil – Diet & Clean Food Catering Services Elementor Template Kit Otowash – Car Washing & Cleaning Services Elementor Template Kit OTT Platform & Video Streaming WordPress Theme with AI OuiOui - Multi Vendor MarketPlace Elementor WooCommerce Theme Our Mission – Charity WordPress Theme Out Of Stock Product Reservation for WooCommerce Out-of-the-Box | Dropbox plugin for WordPress Outdoor – Creative Photography / Portfolio WordPress Theme