Indonesia Dorong BRICS Perkuat Kapasitas AI di Tengah Perubahan Global
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 17 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto ; bi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID -Indonesia mendorong negara-negara BRICS memperkuat riset dan kapasitas domestik di bidang artificial intelligence (AI) agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pengembangannya. Dorongan tersebut disampaikan Bank Indonesia dalam pertemuan Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) BRICS di Jaipur, India, 12–13 Agustus 2026.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menilai perkembangan AI perlu diikuti dengan peningkatan kemampuan di dalam negeri. Menurutnya, negara-negara BRICS perlu memperkuat riset dan kapasitas masing-masing sehingga dapat mengambil peran lebih besar dalam perkembangan teknologi tersebut.
“Bank Indonesia mendorong negara-negara BRICS untuk tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi menjadi inovator dan kontributor aktif melalui penguatan riset dan kapasitas domestik,” ujar Filianingsih.
Dorongan tersebut muncul di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat dan semakin berpengaruh terhadap perekonomian serta sistem keuangan. Bagi Indonesia, perkembangan AI perlu berjalan seiring dengan kesiapan masing-masing negara, termasuk kemampuan sumber daya manusia dan kapasitas teknologi domestik.
Selain membahas AI, Indonesia juga mendorong kerja sama BRICS untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan keuangan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggunaan mata uang lokal serta konektivitas sistem pembayaran lintas negara.
Menurut Filianingsih, kerja sama tersebut dapat membantu negara-negara menghadapi guncangan eksternal dengan lebih baik. Namun, penerapannya tetap perlu memperhatikan kesiapan dan kondisi masing-masing negara.
Indonesia Dorong Pengembangan Infrastruktur Digital
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia melalui koordinasi Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia turut mendorong pengembangan Digital Public Infrastructure (DPI) sebagai bagian dari agenda transformasi digital.
Pengembangan DPI dinilai penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur digital yang dapat mendukung aktivitas ekonomi dan layanan publik. Indonesia juga mendorong agar transformasi digital dan pemanfaatan AI dilakukan sesuai dengan tahapan pembangunan masing-masing negara.
Agenda ini menunjukkan bahwa pembahasan BRICS tidak hanya berkaitan dengan perdagangan dan keuangan, tetapi juga mulai bersinggungan dengan perkembangan teknologi yang semakin menentukan daya saing ekonomi.
BRICS Soroti Ketahanan di Tengah Perubahan Global
Pertemuan FMCBG BRICS di Jaipur mengangkat tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”. Forum tersebut menjadi bagian dari finance track Presidensi BRICS India 2026 untuk memperkuat kerja sama dan respons bersama menghadapi tantangan ekonomi global.
Selain teknologi dan sistem pembayaran, Indonesia turut mendorong peningkatan akses pembiayaan iklim bagi negara berkembang. Isu perubahan iklim dinilai menjadi bagian penting dari upaya membangun sistem ekonomi dan keuangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Indonesia juga mendorong peningkatan peran negara berkembang dalam tata kelola ekonomi global, termasuk melalui penguatan IMF sebagai bagian dari jaring pengaman keuangan global.
Pertemuan tersebut dihadiri pimpinan kementerian keuangan dan bank sentral negara anggota BRICS, yakni Indonesia, Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, dan Iran.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama di BRICS menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi dan keuangan di tengah perubahan global. Di saat yang sama, perkembangan AI, digitalisasi, risiko siber, dan perubahan iklim membuat kerja sama antarnegara semakin dibutuhkan untuk menghadapi tantangan yang sifatnya lintas batas.(***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
