Dikira Harus Pilih Hutan atau Cuan, Warga Ciloto Buktikan Perhutanan Sosial Bisa Dapat Keduanya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 18 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pengelolaan Perhutanan Sosial di Ciloto, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dikembangkan melalui agroforestri, wisata, dan usaha masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian hutan serta membuka peluang ekonomi bagi warga.
Praktik tersebut menjadi bahan pembelajaran dalam Sekolah Lapang Perhutanan Sosial yang digelar Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan, di Ciloto, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan diikuti perwakilan kelompok Perhutanan Sosial yang menjadi forest heroes dan nominator Penghargaan Wana Lestari tingkat nasional.
Peserta melihat langsung pengelolaan hutan oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Ciloto, berdiskusi dengan masyarakat, serta mempelajari pengembangan usaha yang dapat disesuaikan dengan potensi wilayah masing-masing.
Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani mengatakan pengalaman kelompok penerima dan nominator Wana Lestari perlu ditularkan agar tidak berhenti sebagai capaian kelompok masing-masing.
“Penghargaan bukanlah akhir, tetapi justru menjadi awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pengalaman dan keberhasilan yang telah dibangun dapat menjadi contoh dan ditularkan kepada kelompok Perhutanan Sosial lainnya,” kata Catur.
Menurut Catur, Sekolah Lapang menjadi salah satu sarana untuk mempercepat pembelajaran antarkelompok. Peserta dapat melihat praktik yang telah berjalan, mengidentifikasi inovasi, kemudian menyesuaikannya dengan potensi dan kondisi wilayah masing-masing.
Catur menekankan pengelolaan hutan perlu berjalan seiring dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah agroforestri karena memungkinkan masyarakat memperoleh sumber pendapatan dengan tetap menjaga fungsi ekologis kawasan.
Selain agroforestri, pengembangan wisata dan usaha masyarakat juga menjadi bagian dari praktik pengelolaan yang dipelajari di Ciloto.
Pengembangan ekonomi masyarakat tidak berhenti pada menghasilkan produk. Pemerintah Kabupaten Cianjur mendorong peningkatan nilai tambah melalui perbaikan kualitas, sertifikasi, pengemasan, pengolahan, hingga perluasan akses pasar.
Fasilitasi sertifikasi halal dan perizinan BPOM juga dilakukan untuk mendukung pengembangan produk masyarakat. Produk lokal kemudian didorong agar dapat masuk ke rantai pasok sektor pariwisata dan perhotelan.
Bupati Cianjur dalam sambutannya menekankan pengembangan potensi daerah harus tetap berpijak pada kearifan lokal. Kekayaan alam dan potensi wisata perlu dikembangkan tanpa mengorbankan keramahan masyarakat, kebersihan, sejarah, hutan, dan lingkungan.
Praktik di Ciloto menunjukkan pengelolaan Perhutanan Sosial tidak hanya berkaitan dengan menjaga kawasan hutan. Potensi yang ada di dalam dan sekitar kawasan juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan wisata, agroforestri, dan usaha masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Sekolah Lapang di Ciloto selanjutnya menjadi ruang untuk membagikan pengalaman tersebut kepada kelompok Perhutanan Sosial lain agar dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
