El Niño Kuat, Mengapa Antisipasi Dini Menjadi Kunci Melindungi Pangan, Air, dan Energi
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : bmkg.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – El Niño kini berada pada kategori kuat diperkirakan akan membuat musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang, terutama pada Agustus hingga September. Menghadapi kondisi itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan informasi iklim tidak boleh berhenti sebagai peringatan dini, tetapi harus menjadi dasar aksi nyata (early action) agar risiko terhadap ketahanan pangan, sumber daya air, energi, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat dapat diantisipasi sejak awal.
Komitmen itu disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Dialog Nasional bertajuk “Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Niño Kuat” diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, kemarin.
Forum tersebut menjadi wadah memperkuat koordinasi antarkementerian, pemerintah daerah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menghadapi dampak El Niño.
Menurut Faisal, El Niño bukan saja fenomena iklim, tetapi tantangan yang memengaruhi berbagai aspek pembangunan nasional karena memiliki dampaknya yang bakal dirasakan mulai dari sektor pangan, sumber daya air, energi, kesehatan, kehutanan, hingga perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, setiap kebijakan dan langkah mitigasi perlu didukung informasi iklim yang akurat, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“El Niño merupakan tantangan yang berdampak pada berbagai sektor pembangunan nasional. Membangun ketahanan menghadapi El Niño memerlukan kesiapsiagaan lintas sektor didukung informasi iklim akurat, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan,” terangnya Faisal.
BMKG mencatat El Niño saat ini telah berada pada kategori kuat dan berpotensi berkembang menjadi kategori sangat kuat. Kondisi ini diperkirakan memperkuat musim kemarau sehingga berlangsung lebih kering dan lebih panjang. BMKG juga mengingatkan El Niño bukanlah musim kemarau, melainkan fenomena iklim global yang dapat memperparah dampak musim kemarau ketika keduanya terjadi secara bersamaan.
Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, menurunkan ketersediaan air, mengganggu produksi pangan, meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan, serta memengaruhi sektor energi, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat, oleh karena itu, kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi dampak yang lebih luas.
Sebagai bentuk antisipasi, BMKG telah menyampaikan prediksi El Niño sejak Maret 2026. Informasi tersebut diberikan lebih awal agar kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan langkah mitigasi sesuai kebutuhan masing-masing sektor.
Untuk memperkuat langkah tersebut, BMKG terus mengembangkan pendekatan From Early Warning to Early Action, melalui pendekatan ini, informasi iklim tidak hanya disampaikan sebagai prakiraan, tetapi juga diterjemahkan menjadi dasar pengambilan keputusan yang dapat segera diimplementasikan.
Pendekatan tersebut didukung berbagai layanan BMKG, mulai dari prediksi ENSO, prediksi musim, prakiraan hujan, analisis dampak sektoral, sistem peringatan dini kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, layanan informasi iklim berbasis sektor, hingga dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Informasi iklim harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata sehingga pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat melakukan langkah antisipatif sebelum dampak terjadi,” ujar Faisal.
BMKG juga terus mengembangkan layanan informasi iklim yang lebih spesifik sesuai kebutuhan masing-masing sektor, seperti penyusunan kalender tanam adaptif, pengelolaan sumber daya air, mitigasi kebakaran hutan dan lahan, hingga dukungan bagi sektor kesehatan dan energi.
Dengan pendekatan ini, informasi iklim diharapkan tidak hanya menjadi referensi ilmiah, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sejalan dengan itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menambahkan perubahan iklim harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan nasional. Menurutnya, Dialog Nasional ini menjadi momen guna memperkuat early action yang terpadu, terukur, dan berbasis analisis iklim.
Ia menilai peran BMKG sangat strategis, karena informasi dihasilkan menjadi fondasi dalam menjaga ketahanan pangan, energi, dan sumber daya air, sekaligus membantu pemerintah menetapkan intervensi yang cepat dan tepat di wilayah terdampak.
“Kita harus memastikan respons yang kita bangun ini tidak lagi bersifat reaktif, melainkan sebuah early action terpadu, terukur, dan berakar kuat pada analisis iklim. Dengan landasan yang kuat, kita tidak hanya menjaga keberlanjutan pembangunan nasional, tetapi juga membuktikan ketangguhan bangsa Indonesia menghadapi dinamika iklim global,” ujar Rachmat.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan informasi iklim yang semakin aplikatif, BMKG menegaskan lagi kesiapsiagaan menghadapi El Niño harus dimulai sebelum dampak terjadi. Dengan dukungan data yang akurat dan langkah antisipasi yang dilakukan lebih dini, risiko terhadap masyarakat, ketahanan pangan, sumber daya air, energi, dan keberlanjutan pembangunan diharapkan dapat ditekan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
