Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kilang Plaju Rawat Rusa, Belida hingga 21.000 Mangrove
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 31 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Konservasi keanekaragaman hayati menjadi salah satu upaya yang terus dijalankan Kilang Plaju di tengah aktivitas industri, mulai dari menjaga rusa sambar dan ikan belida, mempertahankan area penghijauan, hingga memulihkan ekosistem mangrove di kawasan pesisir Banyuasin.
Upaya tersebut tidak hanya menyasar keberadaan satwa, tetapi juga habitat yang menjadi penopang kehidupan berbagai flora dan fauna. Kilang Plaju menjalankan sejumlah program konservasi di kawasan operasional maupun wilayah sekitar dengan melibatkan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.
Langkah itu menjadi relevan dan menjadi momen Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) diperingati setiap 10 Agustus.
Pada 2026, HKAN mengusung tema “Konservasi Alam: Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia”, menekankan pentingnya keterlibatan bersama dalam menjaga keberlanjutan alam.
Rusa Sambar Dipertahankan di Sungai Gerong
Salah satu satwa menjadi bagian dari program konservasi Kilang Plaju adalah rusa sambar di kawasan penangkaran Sungai Gerong.
Saat ini terdapat 12 ekor rusa sambar, terdiri atas empat ekor jantan, enam ekor betina, dan dua ekor yang belum diketahui jenis kelaminnya.
Rusa sambar memiliki status Vulnerable atau rentan. Penangkaran dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keberadaan satwa serta meningkatkan kepedulian pekerja dan masyarakat terhadap pentingnya perlindungan fauna.
Keberadaan penangkaran juga membuktikan konservasi tidak berhenti pada perlindungan satwa, tetapi membutuhkan ruang yang memungkinkan satwa tetap terjaga dan dapat dipantau secara berkelanjutan.
Belida Jadi Fokus Konservasi Perairan
Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan terhadap satwa darat. Kilang Plaju juga menjaga populasi ikan belida melalui program konservasi di Kampus C PGRI Palembang.
Dua jenis belida yang dikonservasi terdiri atas belida lopis dan belida jawa. Belida lopis tercatat sebanyak lima ekor induk dan 40 ekor benih, sedangkan belida jawa terdiri atas 22 ekor induk.
Dalam data program konservasi Kilang Plaju, belida lopis disebutkan berstatus Extinct atau punah, sementara belida jawa berstatus Least Concern atau berisiko rendah.
Pelestarian belida menjadi penting, pasalnya ikan tersebut merupakan bagian dari ekosistem perairan dan memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat di sekitar Sungai Musi dan wilayah Sumsel.
Bahkan, konservasi belida juga dikembangkan sebagai sarana edukasi. Masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada pentingnya menjaga populasi ikan lokal, tetapi juga hubungan antara kesehatan ekosistem perairan dengan kehidupan sehari-hari.
Program tersebut guna membuka peluang pengembangan budidaya serta pengolahan hasil perikanan yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Menjaga Habitat Lewat 212,8365 Hektare Penghijauan
Konservasi keanekaragaman hayati membutuhkan habitat yang memadai. Untuk itu, Kilang Plaju juga mempertahankan area penghijauan seluas 212,8365 hektare.
Area penghijauan tersebar di kawasan Kilang Plaju, Kilang Sungai Gerong, Kompleks Pertamina, serta Lapangan Golf Bagus Kuning.
Keberadaan ruang hijau membantu menjaga kualitas lingkungan sekaligus menyediakan ruang tumbuh bagi berbagai jenis flora dan fauna.
Dengan demikian, penghijauan bukan hanya menjadi bagian dari penataan kawasan. Vegetasi yang dipertahankan juga menjadi bagian dari ekosistem dalam mendukung keberadaan berbagai organisme di sekitar kawasan industri.
Konservasi Berlanjut ke Pesisir Banyuasin
Ruang konservasi Kilang Plaju juga menjangkau kawasan pesisir. Bersama RDMP Project Sumatera, Kilang Plaju telah menanam 21.000 bibit mangrove sejak 2023 di kawasan Perhutanan Sosial Hutan Desa Sungsang IV, Kabupaten Banyuasin, Sumsel.
Program tersebut tidak berhenti pada penanaman bibit. Pertumbuhan mangrove terus dipantau untuk memastikan tanaman dapat berkembang dan ekosistem yang dibangun mampu memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Mangrove memiliki fungsi ekologis penting bagi wilayah pesisir. Ekosistem ini dapat menjadi habitat berbagai biota, membantu menjaga kawasan pesisir, serta mendukung penyerapan karbon.
Langkah tersebut memperluas cakupan konservasi dari kawasan daratan dan perairan hingga ekosistem pesisir yang memiliki peran penting bagi lingkungan dan masyarakat.
Konservasi Bukan Program Sesaat
Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Plaju, Siti Fauzia, mengatakan konservasi membutuhkan kesabaran dan konsistensi karena manfaatnya tidak selalu dapat dilihat dalam waktu singkat.
“Merawat alam pada dasarnya adalah menjaga keseimbangan. Oleh sebab itu, konservasi bagi kami bukan untuk menjalankan sebuah program, tetapi memastikan apa yang sudah dilakukan dapat terus memberikan manfaat dalam jangka panjang. Kami ingin apa yang dilakukan hari ini menjadi bagian dari lingkungan yang lebih baik untuk generasi berikutnya,” ujarnya.
Upaya konservasi, kata Siti juga membutuhkan keterlibatan masyarakat, pemerintah, akademisi, dan berbagai mitra.
Kolaborasi diperlukan, agar kegiatan perlindungan lingkungan tidak berhenti sebagai program perusahaan, tetapi dapat berkembang menjadi upaya bersama yang memberikan manfaat lebih luas.
Pendekatan itu diharapkan dapat memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam kegiatan perusahaan. Perlindungan keanekaragaman hayati, penghijauan, konservasi ikan, rehabilitasi mangrove, dan pelibatan masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan di tengah aktivitas operasional.
Intinya, keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah satwa yang dijaga, pohon ditanam, atau bibit mangrove yang ditanam.
Yang terpenting dari program ini adalah keberlanjutan habitat, kemampuan ekosistem untuk terus berkembang, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaganya.
Melalui konservasi rusa sambar, ikan belida, penghijauan, dan mangrove, Kilang Plaju berupaya menjaga keseimbangan antara aktivitas industri, lingkungan, dan masyarakat.
Sebab, konservasi bukan hanya tentang mempertahankan apa yang masih ada hari ini. Lebih jauh, konservasi adalah memastikan alam tetap memiliki ruang untuk tumbuh, pulih, dan memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
