Citizen Science Jadi Kunci Pemantauan Keanekaragaman Hayati Indonesia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 44 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : Ilustrasi/kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dari kamera ponsel hingga platform digital, masyarakat kini bisa ikut membantu ilmuwan menjaga kekayaan alam Indonesia
SUMSELTERKINI.CO.ID – Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, karena sari hutan tropis, pegunungan, laut, hingga lingkungan sekitar permukiman, berbagai jenis tumbuhan dan satwa hidup berdampingan dengan manusia.
Namun, mengenali dan memantau seluruh kekayaan tersebut bukan pekerjaan mudah, pasalnya wilayah Indonesia yang sangat luas membuat para peneliti menghadapi tantangan besar untuk mengumpulkan data biodiversitas secara menyeluruh, jumlah peneliti dan sumber daya yang terbatas juga membuat tidak semua wilayah dapat diamati secara rutin.
Di tengah tantangan tersebut, masyarakat kini memiliki peluang untuk ikut ambil bagian melalui pendekatan Citizen Science atau sains warga.
Konsep ini memungkinkan siapa saja berkontribusi dalam kegiatan ilmiah, termasuk membantu mendokumentasikan keberadaan berbagai jenis flora dan fauna di lingkungan sekitar. Cukup dengan kamera ponsel dan dukungan teknologi digital, masyarakat dapat mencatat temuan spesies yang mereka lihat dan membagikan informasi tersebut melalui berbagai platform biodiversitas.
Data yang terkumpul dari masyarakat dapat menjadi sumber informasi penting bagi ilmuwan. Catatan mengenai keberadaan burung, serangga, tumbuhan, atau satwa liar dapat membantu peneliti memahami persebaran spesies, perubahan habitat, hingga kondisi lingkungan dari waktu ke waktu.
Kehadiran masyarakat sebagai pengamat tambahan membuat pemantauan biodiversitas menjadi lebih luas. Jika sebelumnya pengumpulan data hanya dilakukan oleh kelompok peneliti tertentu, kini ribuan pasang mata di berbagai wilayah dapat ikut membantu memberikan gambaran tentang kondisi alam Indonesia.
Kepala Pusat Riset Sains Data dan Informasi BRIN, Esa Prakasa, menyebutkan keterlibatan masyarakat dalam pengumpulan data ilmiah menjadi salah satu cara penting untuk memperkuat basis data biodiversitas nasional.
Menurutnya, dukungan sains data dan kecerdasan buatan dapat meningkatkan kualitas data yang dihimpun masyarakat sehingga lebih bermanfaat untuk penelitian maupun penyusunan kebijakan berbasis bukti.
Mengubah Catatan Warga Menjadi Data Penting untuk Konservasi
Meski menawarkan peluang besar, pemanfaatan data dari masyarakat juga memiliki tantangan. Tidak semua jenis tumbuhan dan satwa memiliki jumlah catatan yang sama.
Spesies yang mudah ditemukan atau lebih menarik perhatian biasanya memiliki banyak laporan pengamatan. Sebaliknya, banyak spesies lain yang jarang terlihat justru memiliki data yang sangat sedikit. Dalam dunia sains data, kondisi ini dikenal sebagai data sparsity dan class imbalance.
Ketimpangan data tersebut dapat memengaruhi proses analisis, mulai dari identifikasi spesies, pemetaan persebaran satwa, hingga pengembangan sistem berbasis kecerdasan buatan.
Oleh karena itu, data yang dikumpulkan masyarakat tetap membutuhkan pengolahan dan analisis yang tepat agar dapat memberikan manfaat maksimal. Para peneliti terus mengembangkan berbagai pendekatan untuk meningkatkan kualitas data biodiversitas, termasuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.
Perkembangan platform digital juga membuat informasi biodiversitas semakin mudah dikumpulkan dan dibagikan. Data dari masyarakat dapat membantu ilmuwan melihat perubahan lingkungan yang mungkin sulit terpantau jika hanya mengandalkan survei lapangan terbatas.
Upaya ini juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Peneliti, komunitas konservasi, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dapat saling melengkapi dalam membangun sistem pemantauan biodiversitas yang lebih kuat.
Melalui Citizen Science, masyarakat tidak hanya menjadi penikmat kekayaan alam, tetapi juga ikut berperan dalam menjaganya. Sebuah foto sederhana, catatan pengamatan, atau laporan keberadaan suatu spesies bisa menjadi bagian kecil dari upaya besar memahami dan melestarikan biodiversitas Indonesia.
Di era digital, menjaga alam bukan lagi hanya tugas para ilmuwan, dengan teknologi dan kolaborasi, setiap orang dapat menjadi bagian dari upaya melindungi kekayaan hayati Indonesia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
